Resensi Kitab at-Tabshirah; Untaian Nasihat Indah dari Ibnul Jauzi

Judul Kitab    : at-Tabshirah

Pengarang      : Abu al-Faraj Abdurrahman bin Jauzi

Pentahqiq       : Farid Abdul Aziz al-Jundi

Penerbit          : Darul Hadist, Kairo

Tahun               : Cetakan l, tahun 142   5 H ( 2004 M )

Halaman         : 676 halaman

ISBN                 : 2001/15693

Peresensi        : Faizun Muslim

 

Dalam kajian ilmu jiwa Ibnul Qayyim adalah master piece-nya. Karya-karya tulis beliau sebagian besar bertemakan tazkiyatun nufuz. Dan banyak dari karya-karya beliau yang dijadikan rujukan oleh kaum muslimin hingga kini.

Namun ada sosok ulama lain yang tak kalah hebatnya, beliau amat piawai dah ahli dalam memberikaan nasihat , dia adalah Ibnul Jauzi. Dia telah terbiasa dalam hal nasihat menasihati dan telah melakukannya sejak masih kecil. Dia juga menuliskan nasihat-nasihatnya dalam kitab-kitab karangannya, salah satunya adalah kitab ini.

Kitab ini berjudul at-Tabshirah, merupakan salah satu buah karya paling bermutu yang  beliau miliki dan kitab ini juga cukup terkenal di kalangan penuntut ilmu. Dalam edisi terjemahan berjudul Majelis Ibnul Jauzi.

Kitab ini berisi nasihat-nasihat yang kata-katanya penuh dengan nilai seni dan sastra yang tinggi. Di dalamnya terhimpun 100 majelis yang mengandung ilmu tafsir, aqidah, tazkiyah an-nafs, dan lain-lain. Sehingga cocok bagi penuntut ilmu atapun siapa saja yang menginginkan air segar untuk menyirami hatinya yang kering dengan nasihat-nasihat beliau yang indah.

Seorang Ulama yang lain yaitu al-Muwaffaq Abdul Lathif mengatakan dalam karyanya, “Ibnul Jauzi adalah orang yang paling lembut rupanya, manis sifat-sifatnya, bagus suaranya, gerak dan katanya berirama, enak humornya. Majelisnya dihadiri oleh seratus ribu orang atau lebih.

Beliau tidak menyia-nyiakan sedikit pun dari waktunya, menulis dalam sehari sebanyak empat buku tulis. Beliau memiliki keterlibatan dalam semua ilmu, dan salah satu Ulama yang mumpuni dalam bidang tafsir, seorang hafizh di bidang hadits, pakar sejarah, dan beliau pun memiliki ilmu fikih yang memadai. Adapun sajak nasehat, maka beliau memiliki kemampuan yang kuat.” Karenanya kitab ini bisa menjadi salah satu koleksi yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu.

Sekilas Tentang Penulis

Beliau adalah Abdurraman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ubaid bin Abdullah bin Hammadi bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far bin Abdullah bin al-Qasim bin an-Nadhir bin al-Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin al-Faqih Abdurrahman bin al-Faqih al-Qasim bin Muhammad putra khalifah Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia dilahirkan pada 509/510 H.[1]

Ayahnya wafat saat ia masih berusia 3 tahun, lalu dia dipelihara bibinya. Kaum kerabatnya adalah para pedagang tembaga terkadang dia menulis namanya, dalam penyimakan langsung, Abdurrahman bin Ali ash-Shaffar. Kemudian ketika mulai besar, bibinya membawanya kepada Ibnu Nashir lalu memperdengarkan banyak hal kepadanya.[2]

Beliau telah hafal al-Quran pada usia dini. Menimba ilmu hadits kepada Abu al-Fadhl bin Nashir al-Hanbali, seorang penghafal hadits yang tsiqah (terpecaya). Dia juga mempelajari berbagai macam ilmu kepada Ibnu Nashiruddin az-Zaghawani al-Hambali, terutama sekali ilmu hadits, fikih, dan metodologi dakwah dengan lisan.

Dia menyukai untuk memberi nasihat dan terbiasa dengannya saat usianya menjelang baligh. Dia telah memberi nasihat kepada orang banyak saat masih kecil. Kemudia dia senantiasa keluar masuk pasar, dimuliakan, dihargai, orang-orang berdesak-desakan padanya, keindahan nasihatnya dijadikan sebagai perumpamaan, kesempurnaannya bertambah dan masyhur hingga dia wafat.[3]

Beliau adalah seorang yang memiliki akhlaq yang mulia dan kesungguhannya mendominasi sejak masih kecil. Beliau juga memiliki pembawaan yang sangat tenang, tidak bercanda kepada seorangpun dan tidak main-main, tidak makan sesuatu yang belum jelas kehalalannya, dan hal itu selalu beliau lakukan hingga Allah mewafatkannya.

Beliau banyak membaca al-Qur’an, selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali, melakukan qiyamulail dan nyaris tidak pernah putus dari mengingat Allah. Iffah dan keshalihan tumbuh dalam dirinya. Ditambah memliki otak yang menyala dan jawaban yang spontan. Disamping itu juga memiliki rayuan-rayuan yang manis.

Ibnu al-Jauzi memiliki karya-karya yang sangat banyak yang mencapai lebih dari 340 karya, antara 20 jilid hingga beberapa lembar buku sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Ma’tuq Mahfuzh bin Ma’tuq bin al-Buzuri dalam tarikhnya saat membaca biografi Ibnu al-Jauzi.[4]

Karya-karyanya hampir meliputi seluruh ilmu seperti tafsir, Tarikh, Hadits, kedokteran, dan lain lain. Beberapa karya beliau adalah al-Adzkia, Nawasikh al-Qur’an, Sifat ash-Shafwah, Gharib al-Hadist, dan lain lain.

Ibnul Jauzi wafat pada malam Jum’at antara Maghrib dan Isya’, pada 13 Ramadhan tahun 597 H, dalam usia 87 tahun. Hati manusia sangat cemas mendengar kabar wafatnya, dan pasar-pasar ditutup. Jenazahnya dilayat banyak orang, dan jenazahnya dipikul diatas kepala manusia. Kemudian mereka membawanya pergi ke Jami’ al-Manshur untuk dishalatkan.

Ibnul Jauzi dishalatkan oleh puteranya, al-Qasim. Sebab para ulama dan tokoh tidak bisa sampai ke jenazahnya, karena masjid, meskipun luas, tetepi telah penuh sesak dengan manusia. Beliau dikuburkan di sisi ayahnya dekat dengan Imam Ahmad[5]

Metode Penulisan Kitab

Metode penyampaian nasihat menjadi pilihan penulis dalam menuliskan bukunya ini. Penulis menjadikan nasihat-nasihatnya mejadi seratus majelis yang tersebar dalam sembilan bab dengan berbagai macam pembahasan yang berbeda. Dalam buku ini, tafsir al-Qur’an menjadi bahan utama dalam membuat nasihat-nasihatnya.

Penulis selalu memulai awal tulisan dalam setiap majelisnya dengan pembukaan-pembukaan layaknya orang yang sedang berceramah atau berkhutbah, disampaikan dengan menggunakan ilmu balaghah yang indah. Buku ini banyak menafsirkan ilmu-ilmu yang amat luas. Penulis juga banyak menyisipkan syair-syair dalam kitabnya ini sebagai penyempurna di dalam pemberian nasihatnya.

Isi Kitab

Kitab ini berisi nasihat-nasihat dari penulis, tafsir al-Qur’an mendominasi dalam penulisan kitab ini. Di dalamnya juga terdapat materi tentang aqidah, tarikh, takiyatuh an-Nafs, dan ilmu-ilmu yang lainnya. Kitab ini terdiri dari sembilan bab, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu :

Bab pertama :

Di dalamnya mengandung kisah para Nabi, orang-orang shalih terdahulu, keutamaan para sahabat dan sahabiyah. Bab ini terdiri dari 34 majelis.

Bab kedua :

Menyebutkan hari-hari yang memiliki keutamaan dalam Islam, yang di dalamnya dianjurkan untuk banyak beramal shalih. Bab ini terdiri dari 11 majelis.

Bab ketiga :

Di dalamnya menyebutkan penciptaan Nabi Adam as. Dan juga penciptaan langit dan bumi. Bab ini terdiri dari 3 majelis.

Bab keempat :

Di dalamnya menyebutkan keutamaan-keutamaan ilmu dan amalan-amalan yang disyari’atkan Islam. Bab ini terdiri dari 28 majelis.

Bab kelima :

Mengandung celaan-celaan kepada pelaku maksiat.

Bab keenam :

Di dalamnya mengandung nasihat-nasihat agar selalu mengingat kematian, alam kubur, neraka, dan surga. Bab ini terdiri dari 5 majelis.

Bab ketujuh :

Di dalamnya mengandung nasihat-nasihat untuk para sultan atau kepala negara dan para pemilik kekuasaan. Bab ini terdiri dari 2 majelis.

Bab kedelapan :

Di dalamnya mengandung nasihat-nasihat untuk menghibur diri supaya sabar atas musibah apa saja yang menimpanya. Bab ini terdiri dari 2 majelis.

Bab kesembilan :

Di dalamnya mengandung nasihat-nasihat penulis yang disampaikan secara ringkas. Bab ini terdiri dari 4 majelis, sehingga genaplah seluruhnya menjadi 100 majelis.

Kesimpulan

Kitab ini berjudul at-Tabshirah, merupakan salah satu buah karya paling bermutu yang  beliau miliki dan kitab ini juga cukup terkenal di kalangan penuntut ilmu. Dalam edisi terjemahan berjudul Majelis Ibnul Jauzi. Kitab ini berisi nasihat-nasihat yang kata-katanya penuh dengan nilai seni dan sastra yang tinggi. Di dalamnya terhimpun 100 majelis yang mengandung ilmu tafsir, aqidah, tazkiyah an-nafs, dan lain-lain.

Kitab ini cocok bagi penuntut ilmu atapun siapa saja yang menginginkan air segar untuk menyirami hatinya yang kering dengan nasihat-nasihat beliau yang indah. Wallahu a’lam. [Faizun Muslim]

***

Download Kitab at-Tabshirah di Sini

***

[1] Ahmad Farid, Biografi 60 Ulama Ahlussunnah, ( Jakarta : Darul Haq, 2013 ), hlm. 795.

[2] Syamsuddin adz-Dzahabi, Syiar A’lam an-Nubala, ( Beirut : Muassasah al-Risalah, 1990 ), Vol. 21 hlm. 367-368

[3] Ibid.

[4] Syamsuddin adz-Dzahabi, Syiar A’lam an-Nubala, ( Beirut : Muassasah al-Risalah, 1990 ), Vol. 21 hlm. 373.

[5] Mukaddimah Dr. Hasan Dhiya’uddin Itr untuk kitab Funun al-Afnan fi Ulum al-Qur’an, Ibnul Jauzi, hlm. 67.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top
Open chat
Ahlan.
Untuk daftar menjadi calon mahasantri An-Nuur, silahkan chat kami