Menyikapi Penyakit ‘Ain

Tidak ada komentar 5019 views

Oleh: Muhammad Fakhruddin

Ketika beberapa putra nabi Ya’kub bersiap-siap untuk pergi ke Mesir, Nabi Ya’kub berwasiat kepada mereka, “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda-beda” (QS. Yusuf: 67). Para ahli tafsir menjelaskan bahwa perintah Nabi Ya’kub kepada anaknya adalah upaya untuk menghindarkan mereka dari penyakit ‘ain. Karena dikisahkan bahwa anak Nabi Ya’kub memiliki paras wajah yang tampan. Dan jika mereka bersama-sama masuk dari arah satu pintu pasti penduduk mesir akan terkagum-kagum dengan ketampanan mereka, sehingga dapat memicu terjadinya penyakit ‘ain.[1]

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Suatu ketika Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, ”Mengapa aku melihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma’ menjawab: “tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain.” Nabi bersabda, ”Kalau begitu bacakan ruqyah untuk mereka!”(HR. Bukhari-Muslim)

Masih banyak nash-nash lain yang membuktikan bahwa penyakit ‘ain benar-benar ada dan nyata dalam kehidupan kita. Penyakit ini berawal dari pandangan seseorang yang diiringi dengan sifat dengki atau kekaguman . Penyakit ini benar-benar memberi dampak negative bagi jiwa manusia. Bahkan tak jarang penyakit ini memberikan pengaruh terhadap kesehatan jasmani. Hal ini sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

Sebagian besar orang yang meninggal dari ummatku setelah taqdir Allah (kepada mereka) disebabkan oleh penyakit ‘ain.”(Shohih Al-Jami’ Al-Bani, no 1206)

Sementara Penulis Nail al-Authar, Imam As-Syaukani menyebutkan sebuah riwayat dari Jabir Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kebanyakan orang yang mati dari umatku, setelah qadha Allah dan qadarNya, karena Anfus.”[2] Yakni karena ‘ain.[3]

Oleh karena itu, Nabi sallallahu ‘alahi wa sallam senantiasa mengingat ummatnya untuk selalu berlindung kepada Allah dari pengaruh penyakit ‘ain. Permasalahannya, bagaimana tata cara yang diajarkan Rasulullah untuk melindungi diri dari penyakit ‘ain dan bagaimanakah metode rasul dalam mengobati penyakit ‘ain?

Sekilas Tentang Penyakit ‘Ain

‘Ain secara etimologi merupakan bentuk derivasi dari kata ‘Ana-Ya’inu-ainan عان – يعين – عينا yang berarti melihat, Dikatakan عان الرجل بعينه yaitu seorang laki-laki memandangnya kemudian pandangan tersebut menjadi musibah bagi dirinya. Pihak yang melihat disebut dengan ‘aa-in sementara yang dilihat (korban) disebut dengan ma’in atau ma’yun[4]

Secara terminologi ’ain adalah Pandangan mata yang bercampur dengan hasad dari jiwa yang buruk yang bisa menyebabkan kerusakan pada sesuatu yang dilihatnya.[5]

Menurut Imam Ibnul Qayyim, ‘ain adalah penyakit yang berasal dari jiwa orang yang dengki melalui pandangan matanya. Orang yang memandang terkadang mengenai sasaran dan terkadang tidak. Apabila menimpa orang yang tidak memiliki penangkal, maka ia akan terkena pengaruhnya dan jika menimpa orang yang mempunyai penangkal yang kuat, maka panah tersebut tidak mampu menembusnya. Orang yang menimpakannya disebut ‘aa-in dan yang terkena penyakit itu disebut Ma’in dan Ma’yun[6]

Rasulullah bersabda:“Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya ‘ain-lah yang mendahuluinya, dan apabila kalian diminta mandi, maka mandilah.”( HR. Muslim)

Dalam kesempatan lain beliau juga bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar).” (HR Ahmad)

Masih banyak nash-nash lain yang menyatakan adanya penyakit ‘ain, sehingga para ulama sepakat bahwa penyakit ‘ain merupakan penyakit yang benar-benar ada dan nyata dalam kehidupan kita. ‘ain adalah penyakit yang bersumber dari pandangan seseorang, terkadang pandangan tersebut muncul karena hasad terhadap sesuatu yang dilihat pada saudaranya dan terkadang juga bersumber dari kekaguman seseorang terhadap objek yang dilihat.

Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan ummatnya untuk selalu berlindung dari pengaruh ‘ain. Beliau bersabda : “Mintalah kalian perlindungan kepada Alloh dari ‘ain karena sesungguhnya ‘ain itu haq (benar) (HR. Ibnu Majah)

Kiat Menghindari Penyakit ‘Ain

  1. Membentengi diri agar tidak terkena ‘ain

Allah menciptakan kekhususan pada diri seeorang dengan diberi  pandangan yang membawa pengaruh buruk terhadap apa yang dilihat. Pandangan tersebut terkadang bersumber dari orang yang dengki dan terkadang juga bersumber dari rasa ta’ajub terhadap sesuatu yang dilihatnya. Orang yang memiliki pandangan ini disebut dengan ‘aain. secara umum ‘aa-in tidak memiliki ciri-ciri khusus. Akan tetapi sebagian  ulama menganjurkan untuk menjahui diri dari orang-orang yang dianggap sering berbuat hasad ketika saudaranya memperoleh nikmat.

Dari segi mudharatnya, dampak yang ditimbul pandangan ‘aa-in hampir mirip dengan pengaruh jin yaitu orang yang dipandang ‘aa-in tiba-tiba tidak tersaadarkan diri. Sehingga Allah memerintahkan hambanya untuk senantiasa menjaga diri dari setiap gangguan makhlukNya. Ada beberapa kiat yang diajarkan Rasulullah kepada kita untuk menjaga jiwa agar tidak terkena pengaruh ‘ain. Diantara kiat tersebut adalah:

  • Selalu menjaga perintah Allah

Allah menetapkan syari’at kepada hambaNya agar segala kemaslahatan manusia dapat terwujud, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu kemaslahatan tersebut adalah agar manusia terjaga dari segala gangguan makhluk yang ada dijagat raya ini. Semakin besar komitmen hamba terhadap perintah Allah maka akan semakin dekat pula kedudukan dia dihadapan Allah. Dengan itu hamba tersebut akan selalu dijaga oleh Allah dari segala bentuk bahaya yang akan menimpanya. Banyak nash Al-qur’an atau Al-sunnah yang secara implisit menyebutkan janji Allah bagi hambanya yang senantiasa menjalankan perintah Allah. Shalat berjama’ah[7] misalnya, Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang sholat subuh secara berjama’ah maka dia sedang berada didalam tanggungan Allah, oleh karenanya jangan sampai Allah menuntutmu dengan sesuatu.”(HR, Muslim)

Dengan demikian seorang hamba akan semakin dekat dengan pertolongan Allah tatkala ia melazimi perintahNya. Rasulullah sallallahu ‘alai wa sallam bersabda:

إِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu.”(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

  • Meminta perlindungan kepada Allah

Rasulullah bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ     

Dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha, Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Mintalah kalian perlindungan kepada Alloh dari ain (mata jahat) karena sesungguhnya ain itu haq (benar) (HR. Ibnu Majah)

Amir bin Robi’ah rodhiyallohu anhu berkata, Rosullulloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

“Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar).” (HR. Ahmad)

Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Tibbun Nabawi menjelaskan bahwa salah satu cara mencegah pengaruh ‘ain adalah dengan senantiasa membaca mu’awidzataian, al-fatihah, ayat kursi serta do’a-do’a perlindungan yang besumber dari Nabi sallallahu ‘alai wa sallam.[8] Diantara do’a tersebut adalah:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَةِ مِنْ كُلِ الشَيْطَانِ وَ هَامَةِ وَمِنْ كُلِ عَيْنٍ لَامَةِ

Aku berlindung kepada Alloh untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat.” (HR Abu Daud)

بِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ

“Dengan menyebut nama Alloh, mudah-mudahan Dia membebaskan dirimu dari segala penyakit, mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki jika dia berbuat dengki dan dari kejahatan setiap orang yang mempunyai mata jahat. (HR. Muslim)

  • Senantiasa berdzikir

Memperbanyak membaca dzikir dan wirid. Yaitu dzikir yang bersumber dari Al-qur’an dan al-Sunnah dan selalu melaziminya terutama diwaktu pagi dan sore. Karena di antara hikmah dari dzikir-dzikir tersebut adalah agar hamba selalu berada dalam penjagaan Allah. Misalnya do’a yang diajarkan Rasul dibawah ini:

بِسْمِ اللهِ لَا يضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِيْ الأَ رْضِ وَلَا فِيْ السَمَاءِ وَهُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak akan berbahaya. Dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.”

Dengan membaca dzikir tersebut sebanyak tiga kali pada waktu pagi dan sore maka Allah akan menjaganya dari segala yang membahayakan dirinya[9]. Dan begitu juga dengan dzikir-dzikir yang lain.

  1. Upaya agar mata kita tidak menimpakan ‘ain kepada orang lain
  • Mendo’akan keberkahan saat melihat sesuatu yang menakjubkan

Untuk mencegah terjadinya pengaruh ‘ain, Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk selalu mengucapkan tabrik (do’a keberkahan)[10] saat melihat sesuatu yang menakjubkan, Sebagaimana yang diriwayatkan Amir bin Robi’ah rodhiyallohu ’anhu :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ أَوْ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ مِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Rosullulloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).

Begitu juga dengan riwayat Abu Umamah tentang bapaknya (Sahl Bin Hunaif) yang terkena penyakit ‘ain. Saat dilaporkan kepada Nabi, beliau berkata, ‘adakah orang yang kamu curigai.’? Kemudian dia menjawab Amir bin Rabi’ah. Kemudian beliau memanggil Amir dan memarahinya, seraya bersabda, ‘Mengapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya. Mengapa ketika kamu melihat sesuatu yang mengagumkanmu, kamu tidak mendoakan keberkahan (untuknya)?’

  • Mengucapkan Masyaallah La Haula Wala Quwwata Illa Billah

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Sungguh atas kehendak Allohlah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan kehendak Allah.”[11] Hal ini didasari oleh firman Alloh dalam surat Al-Kahfi ayat 39[12]. Imam Ibnu Katsir berkata, ”Ketika engkau masuk suatu kebun dan kau merasa takjub akan keindahannya, mengapa engkau tidak memuji Alloh atas nikmat yang telah diberikan kepadamu seperti nikmat harta dan anak keturunan yang tidak diberikan kepada selain engkau dan mengapa kamu tidak mengucapkan masya’Alloh la quwwata illa billah.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba dari keluarga, harta dan anak kemudian dia mengucapkan masya’Alloh la quwwata illa billah maka tidak ada yang membahayakannya kecuali kematian.”[13]

Imam al-Qurtubi dalam kitabnya Jami’ul Ahkam Al-Qur’an beliau menukil riwayat dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melihat sesuatu yang menakjubkan kemudian ia berkata, ‘masyaAllah lahaula wala quwata illa billah’ maka ia aman dari pengaruh ‘ain.”[14]

  1. Menjaga anak dari pengaruh ‘ain

Sebagaimana yang telah kami jelaskan diawal bahwa pengaruh ‘ain juga bisa bersumber dari pandangan ta’ajub (kekaguman).Nah, pandangan ta’ajub inilah yang sangat berpotensi terjadi pada anak kecil.Sehingga keadaannya sangat rentan terkena penyakit ‘ain, apalagi jika anak tersebut memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya. Seperti kelucuannya, kesehatannya, rupanya yang manis dan sebagainya. Oleh sebab itu membentengi anak dari pengaruh ‘ain menjadi perhatian penting bagi orang tua untuk menjaga kesehatan anak. Diantara hal-hal yang harus dilakukan oleh orang tua adalah:

  • Meminta perlindungan kepada Allah

Ibnu Abbas berkata, “Suatu ketika Rasulullah pernah meminta perlindungan kepada Allah agar kedua cucunya, Hasan dan Husein selamat dari pengaruh ‘ain.

عَنْ ابْنِ عَبَاسِ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَمِ يُعَوِّذُ الحَسَنَ وَالحُسَيْنَ، يَقُوْلُ:”أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَامَةِ، مَنْ كَلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنُ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ”

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat.” (HR. Bukhori)[15]

  • Tidak menampakkan sesuatu yang menakjubkan

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad, “Hendaknya para orang tua tidak menampakkan suatu kelebihan yang menakjubkan yang dimiliki anak-anaknya karena dengan itu dikhawatirkan akan mengundang rasa iri atau kedengkian orang yang melihatnya. Lalu Ibnu qoyyim menukil atsar dari Imam Baghowi bahwa suatu ketika Utsman bin Affan rodhiyallohu anhu pernah melihat seorang anak kecil yang sangat elok rupanya lagi menawan, kemudian Ustman berkata, “Tutupilah (jangan ditampakkan) lubang dagu (yang membuat orang takjub) pada anak itu.” Maka keadaan seperti itu sangat dikhawatirkan akan terjadinya pengaruh buruk ‘ain. Lebih-lebih kalau ada orang yang terkenal mempunyai sifat iri dan dengki.[16]

  • Tidak berlebihan ketika menceritakan kelebihan anak

Para orang tua hendaknya tidak berlebihan ketika menceritakan kelebihan atau kebaikan anaknya yang tidak dimiliki anak-anak lain, agar tidak mengundang rasa iri dan dengki siapa saja yang mendengarnya, karena penyakit ‘ain kadang-kadang juga bisa terjadi lewat pujian orang tanpa harus melihat langsung obyeknya.

Tata Cara Pengobatan Penyakit ‘Ain

  1. Mendeteksi jenis penyakit

Mendeteksi jenis penyakit yang ada pada diri pasien merupakan langkah pertama dalam melakukan pengobatan. Tidak hanya dalam pengobatan medis, dalam mengobati gangguan jiwa pun, seorang roqi (perukyah) harus melakukan diagnosa terlebih dahulu jenis gangguan jiwa yang dialami pasien. Sebab gangguan jiwa sendiri belum tentu disebabkan oleh pengaruh jin atau pengaruh ‘ain. kadang-kadang manusia mengalami gangguan jiwa karena faktor alamiyah seperti banyaknya beban yang harus ditanggung, problem yang tidak pernah selesai dan sebagainya. Sehingga faktor tersebut menjadi penyebab seseorang menjadi stress. Disamping itu ada juga bentuk gangguan jiwa yang timbul karena penyebab pandangan seseorang. Gangguan jiwa ini biasa disebut dengan penyakit ‘ain. Gangguan jiwa ini hampir mirip dengan gangguan jin pada umumnya seperti sihir, hipnotis, pelet, dan sebagainya. Dan dalam hal pengobatan pun, ia memiliki kemiripan dengan pengobatan gangguan jin pada umumnya yaitu dengan membaca ayat-ayat al-qur’an dan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam.

Namun dalam menangani kasus gangguan penyakit ‘ain ada sedikit perbedaan dengan gangguan-gangguan yang lain. Misalkan dalam mengobati penyakit ‘ain ada metode pemandiaan korban dengan bekas air yang dipakai ‘aa-in.

Oleh karena itu, mendetiksi apakah gangguan yang diderita pasien apakah termasuk pengaruh ‘ain menjadi point penting dalam melakukan terapi selanjutnya.

Tanda-tanda seseorang terkena pernyakit ‘ain

Diantara tanda-tanda seseorang terkena pengaruh ‘ain adalah: pingsan, -sebagaimana hadits Sahl bin Hunaif-, kepala pusing, wajah menguning, banyak keringat, banyak kencing, sering ingin muntah, sedikit tidur atau banyak tidur, tidak mempunyai nafsu makan, basah pada kedua tangan dan kaki yang disertai dengan kesemutan, hati bergetar, perasaan takut yang tidak normal, dan hal-hal yang janggal lain diluar kebiasaan manusia.[17]

Disebutkan dari Ummu Salamah bahwa Nabi sallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita dirumahnya, dan pada wajahnya terdapat saf’ah, maka beliau bersabda:

إِسْتَرْقُوْا لَهَا فَإِنَّ بِهَا النَّظَرْةُ

“Ruqyahlah dia, sesungguhnya ia ditimpa penyakit yang disebabkan oleh penglihatan.”

Dalam memaknai kata saf’ah, Ibnu Hajar -dalam kitabnya fathul bari-, mencantumkan beberapa pendapat yaitu: Ibrahim al-Harbi berkata, ‘saf’ah adalah warna kehitam-hitaman yang melimuti wajah.’, Al-Ashma’i berkata, “warna kemerah-merahan yang yang diliputi warna hitam, dikatakan juga maknanya adalah warna keuning-kuningan. Ibnu Qutaibah berkata, “sebuah warna yang berbeda dengan warna wajah, semua penafsiran diatas saling berdekatan, jika wakna asli wajah adalah merah maka saf’ah berwarna hitam pekat, jika warna kulit wajah putih maka saf’ah berwarna kuning, dan jika warna kulit wajah berwarna hitam maka saf’ah berwarna merah yang diliputi warna hitam.[18]

Aisyah rodhiyallohu anha berkata : “Suatu ketika Nabi masuk (rumahnya) kemudian mendengar bayi sedang menangis.Beliau berkata,”Mengapa bayi kalian menangis?Mengapa tidak kalian bacakan ruqyah-ruqyah (supaya sembuh) dari penyakit ‘ain?) (Shahihul jami’ 988 n0.5662)

Cara mengobati penyakit ‘ain

  • Dimandikan

Jika orang yang menimpakan ‘ain (‘aa-in) diketahui dan terbukti bahwa pandangan dialah yang menyebabkan pasien jatuh sakit maka seorang roqi (perukyah) memerintahkan orang tersebut untuk mandi kemudian air bekas mandinya diguyurkan kebelakang tubuh korban.[19]

Rasulullah bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu anhu, Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :“Ain (mata jahat) itu benar-benar adanya, jika seandainya ada sesuatu yang mendahului qodar,maka akan didahului oleh ain. Apabila kamu diminta untuk mandi maka mandilah.”(HR. Muslim, no. 2188, kitab as-Salam).[20]

Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif ia berkata, “Amir bin Rabi’a melihat Sahl bin Hunaif yang sedang mandi (ditempat pemandian umum) seraya berkata, ‘Aku belum pernah melihat seperti hari ini kulit yang disembunyikan.’ Maka Sahl pingsan.Lalu ditanyakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, mengapa Sahal begini. Demi Allah, ia tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula siuman.’Beliau bertanya, ‘Apakah kalian mendakwa seseorang mengenainya?’ Mereka menjawab, ‘Amir bin Rabi’ah telah memandangnya.’ Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Amir dan memarahinya, seraya bersabda, ‘Mengapa salah seorang dari kalian membunuh saudaranya. Mengapa ketika kamu melihat sesuatu yang mengagumkanmu, kamu tidak mendoakan keberkahan (untuknya)?’Kemudian beliau bersabda kepadanya, ‘Mandilah untuknya.’ Lalu ia membasuh wajahnya, kedua tangannya dan kedua sikunya, kedua lututnya dan ujung kedua kakinya, dan bagian dalam sarungnya[21] dalam suatu bejana. Kemudian air itu diguyurkan di asnya, yang diguyurkan oleh seseorang di atas kepalanya dan punggungnya dari belakangnya.Ia meletakkan bejana di belakangnya. Setelah melakukan demikian, Sahl bangkit bersama orang-orang tanpa merasakan sakit lagi.”(HR.Imam Malik, Ahmad, Ibnu Majah

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa manfaat dimandikan hanya ketika pasien (ma’in) terkena ‘ain. Adapun ketika terkena ‘ain ataupun sebelumnya, syari’at telah memberi petunjuk untuk mengucapkan do’a barokah sebagaimana yang tercantum dalam riwayatnya Sahl bin Hunaif. Rasulullah berkata, “Tidakkah kamu mendo’akan keberkahan atasnya?.”

Lebih lanjut beliau menuturkan, “Cara penyembuhan dengan dimandikan tidak bermanfaat bagi mereka yang mengingkari kebenarannya atau ragu dengan pengobatan tersebut sehingga melakukannya hanya sekedar percobaan tanpa didasari dengan keyakinan.”[22]

Tata cara memandikan

Mengenai tata cara memandikan korban ‘ain secara umum dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad. Beliau berkata, “Jika diketahui bahwa seseorang telah menimpakan ‘ain kepada orang lain, atau seseorang diragukan bahwa ia menimpakan ‘ain, maka orang yang menimpakan ‘ain diperintahkan supaya mencuci wajahnya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kirinya lalu mengguyurkan pada lutut kanannya dalam bejana, kemudian memasukkan tangan kanannya lalu mengguyur lutut kirinya, lalu mencuci bagian dalam kainnya, kemudian diguyurkan pada kepala orang terkena ‘ain dari belakangnya sekali guyuran,[23] dengan cara itu ia akan sembuh dengan seizin Allah.[24]

Ibnu Syihab ad-Dzuhri menjelaskan lebih rinci tentang cara memandikan ma’yun (korban) sebagai berikut:

  • Disediakan bagi ‘aa-in sebuah bejana yang berisi air
  • ‘aa-in memasukkan kedua tangannya kedalam bejana kemudian berkumur-kumur dan disemburkan kedalamnya
  • Mencuci wajahnya kedalam bejana
  • Mencuci telapak tangan kanan dengan tangan kirinya
  • Mencuci telapak tangan kiri dengan tangan kanannya
  • Mencuci siku tangan kanan dengan tangan kirinya
  • Mencuci siku tangan kiri dengan tangan kanannya
  • Mencuci telapak kaki kanan dengan tangan kirinya
  • Mencuci telapak kaki kiri dengan tangan kanannya
  • Mencuci kedua lutut kanan dengan tangan kirinya
  • Mencuci kedua lutut kiri dengan tangan kanannya

12`Mencuci bagian jasad yang tertutup kain

Air yang digunakan harus yang berasal dari dalam bejana kemudian bekasnya ditampung lagi ke dalam bejana tersebut dan bejana tidak diletakkan ditanah. Kemudian air bekas tersebut diguyurkan kebelakang tubuh korban.[25] Hikmah dari semua tata cara ini adalah sesuatu hal yang tidak mungkin dinalar oleh logika kita,[26] namun semua bentuk tata cara ini adalah tuntunan yang diajarkan Nabi sallalahu ‘alahi wa sallam kepada ummatnya.

Imam al-Maziri, “Prosesi pemandian korban penyakit ‘ain (ma’yun) merupakan sesuatu yang tidak bisa dicerna nalar manusia.”[27]

  1. Disuruh berwudhu

Bentuk pengobatan lain yang diajarkan Rasulullah adalah dengan cara berwudhu.[28]Yakni ‘aa-in disuruh untuk berwudhu kemudian bekas air tersebut diguyurkan ke belakang badan korban (ma’yun).

Dari Aisyah -radliallaahu’anha-, ia berkata, “Orang yang menimpakan ‘ain diperintahkan supaya berwudhu, kemudian orang yang tertimpa ‘ain mandi darinya.? (HR. Abu Daud, no.3880, kitab ath-Thibb).

  1. Ruqyah

Jika ‘aa-in (penyebab ‘ain) tidak diketahui maka ma’yun (korban) diobati dengan cara ruqyah. Metode ruqyah hampir sama dengan ruqyah terhadap pengaruh jin. hanya saja ada beberapa cara dan do’a yang secara khusus berkenaan dengan penyakit ‘ain. Misalnya, saat Rasulullah dirukyah oleh malikat jibril dengan do’a:

باسمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

“Dengan menyebut Nama Alloh,aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata orang yang dengki.Mudah-mudahan Alloh subhanahu wa ta’ala menyembuhkanmu.Dengan menyebut Nama Alloh,aku mengobatimu dengan meruqyahmu.”(HR.Muslim no.2186 )

Dari Aisyah -rodliallaahu’anha-, ia berkata, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya supaya meminta diruqyah dari ‘ain.”(HR. Al-Bukhari, no. 5738, kitab ath-Thibb; dan Muslim, no. 2195, kitab as-Salam).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa suatu ketika Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam melihat budak perempuan di rumah Ummu Salamah istri beliau. Di wajah anak itu ada warna kehitaman. Beliau kemudian berkata kepada Ummu Salamah, “Ruqyahlah dia, karena dia terkena ‘ain.”(HR. Bukhari Muslim)

Proses Ittiham (dakwaan)

Makna proses ittiham disini adalah setelah membaca beberapa do’a, seorang raqi (perukyah) menyuruh korban (ma’yun) untuk mengingat-ingat kondisi dirinya saat sebelum terkena ‘ain, siapa  yang telah menyebabkan dirinya tertimpa ‘ain.[29]

Hal ini berdasarkan pertanyaan Nabi saat mengobati Sahl bin Hunaif. Beliau berkata, “تتهمون من” Siapakah yang kalian curigai?, yaitu yang menyebabkan Sahl tertimpa penyakit ‘ain.

Syaikh Abdullah As-Sadhan berkata, “Pertanyaan ini akan diikuti oleh pertanyaan lainnya dan harus dijawab oleh seorang yang sedang ditimpa penyakit ain, yaitu:

  • Apakah kamu curiga terhadap seseorang yang menyebutkan ciri-ciri dirimu dengan suatu sifat tertentu?
  • Apakah ada seseorang memberitahukan kepadamu bahwa ada orang lain yang menyebutkan ciri-ciri dirimu?.
  • Apakah engkau bermimpi melihat seseorang yang menyakitimu secara terus menerus?.
  • Apakah engkau pernah bermimpi melihat hewan, seperti anjing, onta, kucing, monyet, ular, kalajengking dan kumbang yang menyerangmu?[30]

Semua pertanyaan ini bertujuan untuk mencari siapakah orang yang telah menimpakan ‘ain kepada korban. Jika telah diketahui maka seorang raqi (perukyah) mengambil bekas air yang dipakai oleh ‘aa-in lalu air tersebut digunakan untuk mengobati korban.

Bagaimana jika yang terkena ‘ain hewan atau benda mati?

Jika yang terkena penyakit ‘ain adalah hewan atau benda mati maka cara pengobatannya juga sama sebagaimana menangani orang yang terkena ‘ain, yaitu dengan dimandikan atau dirukyah. Suatu ketika syaikh Jibrin pernah ditanya seseorang memandang mobilnya dengan mata kedengkiannya (sehingga mobilnya terkena ‘ain), lalu pemilik mobil tersebut  meminta orang yang memandangnya (‘aa-in) supaya berwudhu. Setelah itu, ia berdiri untuk mengambil air itu dan menuangkannya ke radiator mobilnya, lalu mobil itu bergerak dan seolah-olah tidak ada sesuatu padanya.

Syaikh Jibrin menjawab, “Tidak apa-apa melakukan demikian. Sebab, sebagaimana ‘ain bisa menimpa kepada hewan, ‘ain juga dapat menimpa perusahaan, rumah, pepohonan, produk, mobil, binatang liar dan sejenisnya. Mengatasi gangguan tersebut dengan cara pelakunya ber-wudhu atau mandi lalu bekas air yang dipakainya diguyurkan keatas benda yang terkena ‘ain atau mengguyurkannya keatas radiator mobil, insya Allah hal tersebut dapat menghilangkan pengaruh ‘ain.”[31]

Kesimpulan Dan Penutup

Dari pemaparan di atas dapat kita simpulkan beberapa hal yaitu:

  1. Penyakit ‘ain adalah penyakit yang benar-benar nyata dalam kehidupan kita
  2. Rasulullah sallallahu ‘allaihi wa sallam selalu mengingat ummatnya untuk berlindung dari penyakit ‘ain
  3. Diantara cara berlindung dari penyakit ‘ain adalah mengamalkan perintah Allah dan senantiasa berdzikir kepadaNya
  4. Disunnahkan mengucapkan tabrik (do’a keberkahan) ketika melihat sesuatu yang menakjubkan
  5. Rasulullah mengajarkan cara mengobati penyakit ‘ain dengan cara dimandikan dari bekas air yang dipakai ‘aa-in atau dirukyah
  6. Dianjurkan untuk menanya kepada korban tentang sesuatu yang dialaminya sebelum terkena ‘ain atau yang disebut dengan metode ittiham. Dan dilarang menggunakan takyil (ilustrasi) roqi untuk menentukan ‘aa-in.
  7. Penyakit ‘ain tidak hanya terjadi pada manusia namun kadang-kadang juga terjadi pada hewan atau benda mati. Wallahu a’lam bishawab.

 

[1] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, (Kairo: Dar- Al-God Al-Jadid, 1431 H), Jilid 2, Hal. 454

[2] (HR. Ath-Thayalisi dalam Musnadnya, no. 1760;  ath-Thahawi dalam al-Musykil dan al-Bazzar; serta dihasankan oleh al-Hafizh dalam al-Fath, 10/ 167; dalam  as-Silsilah ash-Shahihah, no. 747)

[3]Imam As-Syaukani, Nailul Author, (Beirut: Dar Al-Fikr, tt), Jilid 7, Hal. 108

[4] Ibnu Mandhur, Lisan arab, (Maktabah Syamilah), babain

[5] Ibnu Hajar, Fathul Bari, (Beirut: Dar-Kutub Al-Ilmiyah), jilid 10, hal. 235

[6] Ibnu Qoyyim, Zad al-Ma’ad, (Beirut: Muasasah Ar-Risalah, 1992), jilid 4, hal. 167

[7]Kaifa tu ‘aliju maridhaka bi-rukyah al-syar’iyah, Syaikh Abdullah al-Sadhan, terj.Cara Pengobatan Dengan Al-Qur’an, Mudzaffar Sahidu, (Islamhouse.Com) Hal. 58

[8] Ibnu Qoyyim, Tibb al-Nabawi,(Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1417 H), hal. 145

[9] HR. Abu Dawud. Lihat: Sa’id Bin Ali Bin Wahf Al-Qohtoni, Hisnul Muslim, bab do’a pagi sore

[10] Di antara cara mendoakan keberkahan terhadap apa yang dilihatnya adalah : بَارَكَ اللَّهُ فِيهِ (“Ya Alloh Semoga Alloh memberikan berkah padanya”) اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَيْهِ (“Ya Alloh berkahilah atasnya”) اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ (“Ya Alloh berkahilah baginya”). Ibnu Qoyyim, Op. cit., hal. 147

[11] Ibnu Qoyyim, Ibid.,  hal. 147

[12] “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan  tatkala kamu memasuki kebunmu “Maa Syaa Allah, Laa Quwwata Illaa Billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,”(Al-Kahfi: 39)

[13] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim, (Kairo: Dar- Al-God Al-Jadid, 1431), jilid 3, hal. 76

[14] Al-Qurtubi, Jami’ul Ahkam Al-Qur’an, 10/ 406

[15] dalam riwayat Imam Ahmad ada lafadh tambahan yaitu, ” Kemudian beliau mengatakan; “Bahwa Ibrahim ‘alaihis salam adalah bapakku dia mendoakan perlindungan untuk Isma’il dan Ishaq ‘alaihimas salam.”

[16] Ibnu Qoyyim, zadul ma’ad, jilid 4, hal.159. Lihat juga al-Baghowi,Syarhu Sunnah, jilid 7, hal. 122

[17] Syaikh Abdullah al-Sadhan, Kaifa Tu‘aliju Maridhaka Bi-Rukyah Al-Syar’iyah, terj.Cara Pengobatan Dengan Al-Qur’an, Mudzaffar Sahidu, (islamhouse.com) hal. 47

[18]Ibnu Hajar,Fathul Bari, (Beirut: Dar-Fikr), jilid 10, hal. 212

[19] Wahid Abdusslam Bali, As-Sharimul Battar Fi Tashaddi Lisaharatil Asyrar, (Jeddah: Maktabah Sohabah, 1992), hal. 243. Lihat juga: Syaikh Abdullah Bin Jibrin dalam kitab Fatwa-Fatwa Terkini, (Jakarta: Darul Haq, 2004), hal. 268

[20] Hadits ini menunjukkan perintah yaitu (waidza ustugsiltum fagsilu) yang berarti hukumnya wajib.‘Alamah Badruddin al-‘Aini berkata, “’A’in diperintahkan untuk mandi dan dipaksa jika ia menolak.karena lafadh amr hadits  menunjukkan makna wajib dan tidak etis juga jika seseorang menolak untuk kesembuhan saudaranya. Lihat: Abu Ubaidah Mahir Bin Sholih Alu Mubarok, Fathul Mughis Fi Sihri Wal Hasad Wa Maasul Iblis, (Riyadh: Dar Al-Ulum Al-sunnah, 1415) Hal. 36

[21]Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan bagian dalam sarungnya. Sebagian ulama mengatakan kemaluannya dan sebagian yang lain berkata pahanya. Lihat: Abu Ubaidah Mahir Bin Sholih Alu Mubarok, fathul mughis fi sihri wal hasad wa maasul iblis, (Riyadh: Dar Al-Ulum Al-Sunnah, 1415) hal. 35

[22] Ibnu Qoyyim, Loc. Cit., 4/157

[23] Syaikh Abdullah Sadhan berkata, “Tidak mengapa jika bekas air tersebut dimasak sampai mendidih untuk menghindari penyakit dan kotoran.” Lihat Syaikh Abdullah Sadhan, loc. Cit. Hal 74

[24] Ibnu Qoyyim, Op. Cit., 4/ 151

[25] Jika setelah diguyur ternyata belum sembuh maka Tidak mengapa jika air bekas tersebut diminum. Hal ini berdasarkan hadits Sahl bin Hunaif yaitu, “aku menyangka rasulullah bersabda, ‘menyuruhnya lalu dia  meminum beberapa tegukan air tersebut.” Lihat: Syaikh Abdullah Sadhan, op. Cit., hal 76. Dan tidak mengapa juga jika dituliskan beberapa ayat Al-qur’an kemudian disirami dengan air lalu air itu diminum atau diguyurkan keatas tubuh korban, sebagaimana perkataa mujahid, “Tidak mengapa jika dituliskan al-qur’an kemudian disiram dengan air untuk dimandikan orang sakit.” Lihat: Ibnu Qoyyim, Loc. Cit., Hal, 137

[26] Abu Ubaidah Mahir Bin Sholih Alu Mubarok, loc.Cit., hal. 36

[27] DR. Sayyid Muhammad Syatta, Al-Marodh Minhah Wa Busyra Wa Rahmah, hal. 138. Namun menurut  Ibnu Qoyyim hikmah dimandikan korban penyakit ‘ain adalah seperti fungsi air untuk memadamkan api dan dalam hal ini adalah hawa panas yang ditimbulkan dari penyakit ‘ain. Dan berfungsi juga untuk menghindari dari keinginan buruk seseorang yang ingin mengenai ‘ian kepadanya. Lihat: Ibnu Qoyyim, tibbun al-nabawi, hal. 148

[28]Menurut menurut Imam Nawawi, wudhu merupakan bagian tata cara pemandian ‘a’in artinya dia bukan ritual yang berdiri sendiri. Lihat: Imam Nawawi Syarah Shohih Muslim, 14/144

[29] Namun ada juga dengan bentuk takyil yaitu perukyah mengilustrasi ciri-ciri orang yang menjadi penyebab terjadinya penyakit ‘ain tersebut. Hal ini menurut DR. Nashir bin Abdul karim Al-aql tidak diperbolehkan karena perukyah  menggambarkan seseorang yang tidak ada dihadapannya yang mana hal ini sangat berpotensi terjadinya kedholiman pada seseorang. Lihat:  Syaikh Abdullah Sadhan, loc. Cit., dalam bab mukaddimah.

[30] Abdullah al-Sadhan, loc. Cit, hal. 43

[31] Fatwa-Fatwa Terkini, 3/277

 

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Menyikapi Penyakit ‘Ain"