Khutbah Jum’at: Menjadi Juara di Sisi Allah

Tidak ada komentar 1846 views

Dwonload Versi PDF: Khutbah Jum’at

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Pada kesempatan kali ini, alangkah baiknya kita senantiasa menghaturkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, nikmat islam, serta hidayah-Nya, sehingga kita dapat melaksanakan salah satu dari berbagai kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita, yaitu melaksanakan shalat jum’at secara berjama’ah tanpa ada halangan suatu apapun.

Kedua kalinya, kita haturkan shalawat serta salam kepada junjungan kita, uswatun khasanah kita Nabiyyullah Muhammad Salallahu ‘alaihi wasalam. Beliaulah yang telah berjuang dan berkorban untuk menegakan syariat Allah Ta’ala dimuka bumi ini, sehingga kita bisa merasakan indahnya keimanan dan keislaman hingga detik kali ini.

Selanjutnya, kami tidak lupa untuk mewasiatkan kepada diri kami pribadi dan secara umum kepada jama’ah sekalian. Marilah, dari waktu dan kesempatan yang telah Allah berikan ini, kita gunakan untuk senantiasa meningkatakan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah semaksimal mungkin, yaitu dengan selalu memperhatikan syari’at Allah, kita aplikasikan dan terapkan didalam seluruh aspek kehidupan kita hingga dipenghujung usia. Baik berkaitan dengan hal-hal yang wajib, sunnah, haram, makruh, maupun mubah. Karena, dengan timbangan inilah prestasi seorang hamba dinilai dihadapan Allah Ta’ala.

Suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang gambaran taqwa itu. Lalu ia menjawab bertanya, “Bagaimana jika engkau melintasi jalan yang penuh akan onak dan duri?” Jawab Umar, “Tentu aku akan mempersiapkan diri dan berhati-hati”. “Itulah taqwa”, kata Ubay bin Ka’ab.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah jum’at rahimakumullah

Telah dimaklumi bahwasanya manusia pada mulanya berasal dari dua orang yang telah Allah ciptakan sebagai manusia pertama, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam dan Ibunda Hawa. Daripadanya terlahirlah banyak bangsa bahkan suku. Seluruh manusia di muka bumi di nisbatkan kepada beliau berdua.  Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13,  artinya, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Dari ayat ini secara umum dapat kita pahami bahwasa pada dasarnya manusia itu diciptakan dengan kedudukan yang sama dihadapan Allah Ta’ala. Hanya saja yang membedakan antara manusia satu dengan yang lain adalah dalam urusan agama mereka,  yaitu seberapa besar ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Katsir menambahkan: “Mereka berbeda disisi Allah adalah karena taqwanya, bukan karena jumlanya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ لأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلاَّ بِالدِّيْنِ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ

“Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena agamanya atau amal shalih.”

Pada saat ini, kehidupan manusia telah berkembang dengan pesat dalam segala aspeknya. Dari segi jumlah mencapai milyaran, dari sisi penyebaran, ratusan bahkan ribuan suku dan bangsa yang setiap dari mereka mengembangkan diri sesuai potensi mereka yang mampu dikembangkan. Maka akan kita temukan beragam bahasa, adat istiadat, budaya dan lain-lain, termasuk juga didalamnya adalah teknologi yang mereka inovasi dan kembangkan. Akan tetapi, jika kita renungkan semua itu adalah untuk jasmani kita saja yaitu agar hidup kita dalam keadaan sehat,tercukupi kebutuhan materi, dan aman tentram dalam kehidupan sehari-hari.

Tak mungkin dipungkiri, bahwasanya dari perkembangan tersebut mampu menimbulkan rasa gembira, senang, puas, bangga, bahkan sombong. Sebagai contoh yang bisa kita ambil, suatu negara yang maju dan kuat akan selalu beranggapan bahwa mereka berada diatas angin, merasa lebih baik dan harus ditakuti oleh negara lain yang lebih lemah. Orang kaya merasa berkuasa atas segalanya dan lebih baik dari yang lain, orang yang memiliki jabatan dan kedudukan yang lebih tinggi merasa lebih pantas diikuti oleh yang lain dalam segala tuntutannya. Bahkan mungkin terkadang, orang yang ditakdirkan Allah Ta’ala memiliki kelebihan dari orang yang ditakdirkan kekurangan berani memerintahkan mereka untuk melakukan hal-hal yang bahkan telah Allah larang.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah jum’at rahimakumullah

Begitulah kecenderungan watak manusia dalam memuaskan hasrat kehidupannya, terkadang atau bahkan sering tidak mau mempedulikan dan acuh tak acuh terhadap perintah maupun larangan yang telah Allah tetapkan. Padahal dari syariat Islam inilah manusia diuji oleh Allah Ta’ala agar mampu menjadi hamba yang taat atau malah akan terjerumus menjadi ahli maksiat. Itulah yang menjadi barometer dan pada saatnya nanti akan dimintai segala pertanggung jawaban

Akan tetapi, karena lemah dan tipisnya ikatan antara manusia terhadap syariat Allah Ta’ala, maka banyak sekali manusia yang malah tidak menghiraukan dan memperhatikan mana yang halal ataupun yang haram, karena pada dasarnya manusia tidak memiliki hak untuk menghalalkan ataupun mengharamkan sesuatu, melainkan harus kembali kepada syariat Allah Ta’ala. Karena minimnya ilmu syar’i itulah yang menjadi sebab banyak manusia terjerumus ke dalam lembah kebinasaan dan jatuh di dalam kubangan dosa. Bahkan terkadang para pelakunya tidak pernah terbesit bahwa ia telah melakukan perbuatan dosa, atau malah membanggakan diri dengan amalan dosanya, na’udzubillah.

Prestasi manakah yang akan kita ukir? Prestasi barrun (baik), taqiyyun (taqwa), karimun (mulia). Ataukah prestasi fajirun (ahli maksiat), syaqiyun (celaka), dzalilun (hina). Dalam hal mana? Yaitu sejauh mana kita mau menyikapi syariat-syariat Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Hasan Al-Basri pernah berkata:

أَيُّهَا النَّاُس إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

”Wahai manusia, ketahuilah bahwasanya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, setiap ada hari yang berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”

Ma’asyiral muslimin, jama’ah jum’ah rahimakumullah

Sudah berapa umur kita yang telah berlalu begitu saja tanpa kita sadari?

Sudah berapa amal ketaatan yang telah kita laksanakan sebagai tabungan pahala di sisi Allah?

Sudah berapa pula kemaksiatan yang telah kita lakukan yang bisa saja menyebabkan kita terseret kedalam ngerinya Neraka?

Maka, marilah kita bersegera untuk bertaubat dan kembali kepada jalan yang Allah ridhai agar kita bisa mengukir amalan-amalan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Umat Islam telah diberi hidayah dan petunjuk berupa al-Qur’an dan juga as-Sunnah. Selanjutnya tinggal bagaimana umat Islam sendiri mengaplikasikannya didalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk didalam golongan orang-orang yang zhalimun linafsih, atau saabiqun bil khairat

  • Zhalimun linafsih: Orang yang enggan mengerjakan kewajiban (syariat) tetapi banyak melanggar apa yang Allah haramkan (yang dilarang)
  • Muqtashid: Orang yang menunaikan kewajiban, meninggalkan yang diharamkan, kadang meninggalkan yang sunnah dan mengerjakan yang makruh.
  • Sabiqun bil khairat: Orang yang mengerjakan kewajiban dan sunnah, serta meninggalkan yang haram dan makruh, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah

Tak diragukan lagi, bahwasanya tak seorang pun diantara kita yang bercita-cita untuk  mendekam didalam penjara. Terlebih penjara Allah yang berupa siksa api  Neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan. Yang akan senantiasa kekal  membara bagi orang-orang yang tidak memperdulikan syari’at Allah. Itulah ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya, sebagaimana sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam :

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Jalan menuju Jannah itu penuh dengan sesuatu yang tidak disukai manusia, dan jalan menuju Neraka itu dilingkupi sesuatu yang disukai oleh syahwat.”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ … أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُاَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌرَّبَّنَآإِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا بِرَبِّكُمْ فَئَامَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْعَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَاوَعَدتَنَا عَلَىرُسُلِكَ وَلاَتُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيعَادَرَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامً
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًاَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّرَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Dwonload Majalah An-Nuur di Sini

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Khutbah Jum’at: Menjadi Juara di Sisi Allah"