Silaturahmi, Ibadah Berlapis Fadhilah

No comment 819 views

Silaturahmi, Ibadah Berlapis Fadhilah

Banyaknya pintu ibadah adalah bukti bahwa Islam adalah agama universal dan sesuai dengan perkembangan zaman. Karena masing-masing individu memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam menunaikan ibadahnya kepada Allah. Ada yang diberi kelebihan dalam qiyamul lail, tapi lemah dalam shiyam sunnah dan yang semisalnya. Jamaknya, islam memberikan keluasan kepada umatnya untuk beramal sesuai dengan kemampuannya.

Sesuai dengan pilihan ibadah, balasan juga akan disesuaikan dengan berat dan ringannya beban ibadah ketika ditunaikan. Tentu niat ikhlas sebagai syarat utamanya. Dengan niat shahih, amalan kecil akan menjadi besar pahalanya. Atau bahkan sebaliknya, ketika niat keliru, amal yang besar akan menjadi kecil, bahkan sia-sia tanpa pahala.

Silaturahmi merupakan salah satu pintu ibadah yang Allah anugerahkan kepada umatnya. Dengan menghidupkan silaturahmi, akan banyak manfaat yang didapatkan; shahabat, barokah, rezeki, umur panjang, pengalaman dan banyak lagi keuntungan yang lainnya. Dengan catatan harus sesuai dengan ketentuan syariat.

Pengertian Silaturrahahmi

Ibnu Manzhur menjelaskan bahwa shilah, berarti menyambung, lawan kata dari hujron yang berarti meninggalkan atau memutuskan. (Lisanul ‘Arab 11/726). Sehingga silaturrahmi dapat dimaknai dengan “Sebuah ungkapan yang menggambarkan tentang perbuatan baik, kasih sayang dan kelembutan yang ditujukan kepada keluarga yang senasab (satu keturunan) dan karib kerabat, serta perhatian terhadap kondisi mereka, sekalipun mereka berada di tempat yang jauh dan berbuat tidak baik kepada kita. (Lisanul ‘Arab 11/728)

Sedangkan secara istilah, Imam Nawawi rahimahullah memberi batasan, “Shilatur rahmi artinya berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan kondisi yang menyambung maupun yang disambung. Kadang kala dengan harta benda, pelayanan, kunjungan, salam, dan lain-lain.”

Secara penyebutan barangkali masih ada yang kebingungan antara silaturahmi atau silaturahim, karena memang mirip, apalagi ketika ditulis dengan abjad hijaiyyah/arab. Sebenarnya tidak ada masalah dan tidak perlu meributkan mana yang benar antara kata “silaturahmi” atau “silaturahim” karena ini hanyalan masalah urf/adat berbahasa indonesia. Karenanya berlaku kaidah

لا مشاحة فى الاصطلاح

“Tidak ada perdebatan dalam istilah (jika hakihatnya sama)”

Namun jika ditelusuri dari akar kata, silaturrahmi lebih tepat. Karena terdiri dari dua kata yaitu “shilah” (menyambung) dan “Rahim” (rahim wanita/kekeluargaan). Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”.

Kenapa harus bersilaturrahmi

Allah Ta’ala memerintahkan hambanya untuk berbuat baik kepada kerabatnya. Firman Allah ta’ala:

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً”.

Artinya: “beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Serta berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman, musafir dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”. [QS. An-Nisa’: 36]

Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan keutamaan orang yang menyambung silaturrahmi:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan rahimnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas radhiyallahu ‘anhu)

Berkata Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan)

Kutamaan Silaturrahmi

Banyak keutamaan dan hikmah yang akan diraih oleh seorang hamba ketika menyambung silaturrahmi. Maka siapapun pasti akan termotivasi untuk menunaikannya. Diantara keutamaanya adalah :

1. Silaturrahmi adalah bukti iman kepada Allah ‘azza wa jalla.

Hal ini didasarkan pada sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

Barang siapa yang beriman ke pada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi. (HR. Bukhari 6138)

2. Memperpanjang umur dan dilapangkan rizkinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

Siapa yang suka untuk diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi. (HR. Bukhari 5986 & Muslim 2557)

3. Peluang terbesar untuk masuk surga.

Silaturrahmi merupakan salah satu sebab penting yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju surga. Didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub al-Anshori radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku akan amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan diriku dari api neraka.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabda beliau:

تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ.

Engkau beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturrahmi. (HR. Bukhari 1396 & Muslim 13)

4. Menyambung tali silaturrahmi merupakan bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala.

Dalam surat Ar-Ra’du Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوْ اْلأَلْبَابِ. الَّذِيْنَ يُوفُوْنَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلاَ يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَاقَ. وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْءَ الْحِسَابِ.

“Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.  Dan orang-orang yang menyambung apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhan-nya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra’du: 19-21)

5. Allah akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambung tali silaturrahmi.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menyambung hubungan dengan seorang hamba yang menyambung tali silaturrahmi. Sebaliknya, Allah mengancam akan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskannya. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut berbunyi (artinya): “Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya, hingga apabila Dia selesai dari menciptakan mereka, rahim akan berdiri dan berkata: ‘Ini adalah tempat berdiri orang yang berlindung kepada-Mu dari memutuskan tali silaturrahmi.’ Allah berfirman: ‘Ya, tidakkah engkau ridha bila Aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan orang yang memutuskanmu?’ Rahim berkata: ‘Tentu saja.’ Allah berfirman: ‘Maka, itu menjadi milikmu.’” (HR. Bukhari 5987 & Muslim 2554)

6. Ganjaran silaturahmi lebih besar dari pada memerdekakan budak.

Dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: “Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu.” (HR Bukhori dan Muslim)

Akibat meninggalkan silaturrahmi.

1. Tidak akan diterima amalnya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya perbuatan anak cucu adam diperlihatkan pada setiap kamis malam jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR Ahmad)

2. Akan terputus hubungannya dengan Allah swt.
Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya.” [HR. Bukhari, dan Muslim].

3. Akan dilaknat oleh Allah dan dimasukan kedalam neraka jahanam.

Allah swt berfirman :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ () أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُم

“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”(QS Muhammad 22-23)

4. Tidak masuk surga
Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan.”. Sufyan berkata : “yaitu yang memutus hubungan tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah pembahasan tentang silaturrahmi. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk melaksanakannya. Sehingga keutamaan dan barakah silaturrahmi dapat kita raih. Wallahu’alam bisshowab [Ryan Arif/YDSUI]

 

author
No Response

Leave a reply "Silaturahmi, Ibadah Berlapis Fadhilah"