Selamat Datang Syahrul Mubarak

Tidak ada komentar 4913 views

Oleh: Tengku Azhar, Lc.

Jika seseorang yang ‘spesial’ bertandang ke rumah kita; apa yang akan kita lakukan? Masing-masing kita pasti memiliki jawaban yang sama; mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangannya. Dan persiapan itu tentunya akan lebih dilipatgandakan lagi jika kita tahu bahwa itu adalah kesempatan terakhir yang kita miliki.

Dan Ramadhan adalah tamu yang sangat spesial. Para shahabat Rasulullah senantiasa menunggu-nunggu kehadirannya. Bukan dengan berpangku tangan, namun dengan segudang amalan. Apatah lagi jika sudah memasuki bulan Sya’ban. Sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di antara persiapan yang bisa kita lakukan adalah:

A. Mengkaji ulang fiqih shiyam (Ramadhan)
Ini adalah persiapan yang paling utama. Sebab sebelum beramal seorang muslim mestilah berilmu terlebih dahulu. Meski pernah mempelajarinya, mengulangnya kembali tentu tidak ada salahnya. Bahkan, sangat bermanfaat. Biasanya kita mendapati akan hal-hal baru atau hal-hal yang sudah pernah kita baca, namun baru kali ini kita mengerti dan memahami maksud sebenarnya.

Setelah mengkaji fiqih shiyam yang meliputi syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, pembatal-pembatalnya, hal-hal yang disunnahkan, dan perkara-perkara yang dimakruhkan. Juga, berbagai perbedaan pendapat di antara para ulama sehubungan dengan semua itu.
Lebih bijaksana juga, jika kita mau mengkaji hikmah-hikmah shiyam supaya kita dapat menunaikannya dengan sebaik-baiknya.
Terakhir, jika Ramadhan sudah di depan mata, kita tadabburi hadits berikut:
مَنْ صَامَ رَمَضَضانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shiyam Ramadhan dengan sepenuh keimanan dan hanya mengharapkan balasan dari Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

B. Memprtebal keimanan, terutama keimanan kepada hari akhir
Kuat dan tebalnya keimanan kita, khususnya keimanan kepada hari akhir memiliki andil yang besar terhadap keseriusan kita dalam beramal. Jika kita yakin bahwa kehidupan di akhirat adalah kehidupan yang abadi, bahwa kenikmatan dan kesengsaraan di sana adalah kenikmatan yang sebenarnya -karena dinikmati oleh jasad dan ruh sekaligus-, sedangkan kehidupan dunia adalah kehidupan yang sebentar atau sementara saja, pastilah kita -yang cerdas dan berakal- akan mendahulukan semua yang diperlukan demi kesuksesan di sana. Tentang nilai dunia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
ما الدنيا في الآخرة إلا مثل ما يجعل أحدكم إصبعه هذه وأشار يحيى بالسبابة في اليم فلينظر بم ترجع
“Dibandingkan akhirat, dunia itu hanya seperti air yang menempel di jari salah seorang dari kalian -lalu Yahya (seorang perawi hadits) mengisyaratkan telunjuknya- di lautan. Lihatlah, seberapa banyak (air) yang dibawanya!” (HR. Muslim)
Kajian tentang apa yang terjadi setelah kita mati di alam barzakh kelak dan bahwa seseorang itu bisa meninggalkan dunia yang fana ini kapan saja tentunya akan menyadarkan kita untuk bersiap-siap menghadapinya, kapan saja.

Allah berfirman,
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Duhai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih’.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Kajian tentang nikmatnya jannah dan pedih-perihnya adzab neraka akan menyadarkan kita dan membuat kita sangat-sangat merindukan kehidupan akhirat. Terlebih jika selama di dunia ini beban berat senantiasa kita pikul dari waktu ke waktu.
Keimanan kepada hari akhir yang kokoh akan mengurangi sikap berlebihan kita dalam mencintai dan mengurus dunia. Kita tidak bakalan rela membiarkan dunia menyita waktu-waktu kita.

C. Berazam untuk tidak menyia-nyiakan Ramadhan dan mengisinya dengan banyak amalan-amalan sunnah
Amalan sunnah yang paling dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan adalah qiyam Ramadhan atau lebih dikenal dengan shalat Tarawih.
Selain itu ~kalau kita hendak meneladani mereka~ para shahabat mempunyai kebiasaan memperbanyak tilawah Al-Qur`an. Bahkan ada di antara mereka yang setiap harinya khatam sekali.

Shadaqah sunnah juga sayang bila ditinggalkan.
Dan terakhir, i’tikaf di sepuluh hari terakhir, merupakan sunnah Nabi dan diteladani oleh para pendahulu kita yang shalih.
Demikian mestinya kita sambut tamu yang sangat spesial ini. Tamu yang merupakan karunia agung dari Allah. Sebab di bulan ini Allah akan memberikan ganjaran dan melipatkan pahalanya tanpa batas kepada orang yang mengerjakan shiyam. Lalu, doa orang yang shiyam tidak akan ditolak, orang yang shiyam akan mendapat dua kegembiraan, shiyam akan memberikan syafa’at kepada orang yang mengerjakannya pada hari kiamat, bau mulut orang yang shiyam lebih wangi dari misk di sisi Allah, shiyam adalah perisai, benteng yang menghalangi dari api neraka, dan barangsiapa shiyam fii sabilillah maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh musim rontok, di jannah ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan yang akan dimasuki oleh orang-orang yang shiyam dan tidak akan dimasuki oleh selain mereka.
Selain hal-hal di atas, berikut juga merupakan amaliyah para shahabat dalam menyambut bulan Ramadhan:

1. Hendaknya setiap orang mengoreksi lembaran-lembaran kehidupannya sebelum Ramadhan tiba.
2. Membersihkan diri sebelum bertemu Ramadhan, yaitu dengan banyak beristighfar, bertaubat kepada Allah dari segala dosa dan meninggalkan maksiat yang pernah dilakukannya. Siapa yang durhaka kepada orang tuanya, hendaknya meminta ridha keduanya untuk dimaafkan lalu berbakti kepada keduanya. Siapa yang memutus silaturrahmi atau hubungan sesama muslim, hendaklah dia menyambungnya kembali dengan menyapanya dan mengunjunginya. Siapa yang biasa mendengar musik dan lagu-lagu, harus dia hentikan dan menggantinya dengan bacaan Al-Qur`an untuk seterusnya. Siapa yang melakukan riba atau pekerjaan haram lainnya, hendaklah dia tinggalkan dan menggantinya dengan nafkah yang halal. Siapa yang selama ini tidak pernah atau jarang mengerjakan shalat lima waktu, hendaklah dia memulainya dari bulan Ramadhan dan tidak meninggalkannya sampai akhir hayat. Dan demikian seterusnya untuk meninggalkan setiap perbuatan dosa dan menekuni segala kewajiban, baik pada bulan Ramadhan ataupun pada bulan-bulan lainnya selama hayat masih di kandung badan.

3. Menyusun agenda yang mengantarkannya kepada amal-amal shalih yang akan dilakukannya secara disiplin selama bulan Ramadhan.
4. Banyak berdo’a suapaya ringan menjalankan ibadah bulan Ramadhan.
5. Mempelajari dan membaca hukum-hukum yang berkenaan dengan bulan Ramadhan.
Ancaman Bagi Mereka yang Menyia-nyiakan Ramadhan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ  قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  يَقُوْلُ : بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَتَانِي رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعِي فَأَتَيَا بِي جَبَلاً وَعْراً فَقَالاَ : اصْعَدْ ، فَقُلْتُ : إِنِّي لاَ أُطِيْقُهُ ، فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ ، فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيْدَةٍ ، قُلْتُ : مَا هَذِهِ اْلأَصْوَاتُ ؟ قَالُوا : هَذَا عُوَى أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعَرَاقِيْبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشِدَّاقُهُمْ تَسِيْلُ أَشِدَّاقُهُمْ دَماً، قَالَ : قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ ؟ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ
Sahabat Abu Umamah Al-Bahily radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketika aku tidur , datang dua orang kepadaku kemudian memegang lengan atasku dan mengajakku ke bukit yang terjal. Dua orang itu berkata : “Naiklah”. Aku katakan : “Aku tidak sanggup.” Mereka katakan : “Akan kami permudah.” Kemudian aku naik sampai ke puncak bukit, ternyata aku mendengar jeritan yang sangat keras. Aku pun bertanya : “Suara apa ini?” Mereka berkata : “Inilah jeritan penghuni neraka.” Kemudian kami pergi sampai tiba di sekumpulan orang yang tergantung di urat ketingnya ( urat di atas tumit) dan robek mulutnya mengeluarkan darah. Aku bertanya : “Siapa mereka?” Jawab dua orang itu : “Mereka orang-orang yang membatalkan shiyam (tanpa alasan syar’i) sebelum tiba waktu berbuka.” (Hadits shahih riwayat Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, juz 1 hal. 430; dan juga lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, hadits no. 3951)
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata : “Adapun hukum orang yang meninggalkan shiyam Ramadhan sedang ia mukallaf (berakal dan dewasa), baik laki-laki ataupun perempuan adalah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan telah berbuat dosa besar. Wajib baginya bertaubat kepada Allah dan mengqadha’ shiyam yang ia tinggalkan itu dengan mengerjakannya di luar Ramadhan serta memberi makan orang miskin tiap harinya (dari shiyam yang ia tinggalkan) jika ia mampu. Dan apabila yang melakukannya itu orang fakir tidak mampu memberikan makan, cukup baginya qadha’ dan bertaubat kepada Allah. Karena shiyam Ramadhan adalah kewajiban besar yang Allah wajibkan atas umat Islam yang mukallaf. Dan juga telah dijelaskan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa shiyam Ramadhan termasuk rukun Islam yang lima.” (Majmu’ Fatawa Syaikh bin Baaz, juz 15 hal. 332)

Para Salaf Menyambut Bulan Ramadhan
Pasa salafush shalih adalah orang-orang yang selalu menantikan dan merindukan bulan Ramadhan. Mereka sangat berharap dapat menyempurnakan shaum dan ibadah qiyaamur ramadhan mereka, serta memenuhi hari-hari dengan ketaatan dan ibadah. Di antara doa mereka –sebagaimana diucapkan oleh imam Yahya bin Katsir –rahimahullah-:
“Ya Allah, selamatkanlah kami sampai datangnya bulan Ramadhan, dan serahkanlah Ramadhan kepada kami, serta terimalah (penggunaan) bulan Ramadhan itu dari kami dalam sebuah pengabulan.”

Bahkan kata Mualla bin Fadhl –rahimahullah- mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka sampai pada bulan Ramadhan, kemudian selama enam bulan berikutnya mereka bedoa lagi agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah- berkata,
“Diberi kesempatan untuk sampai pada bulan Ramadhan dan shaum di dalamnya merupakan kenikmatan yang luar biasa agung untuk orang-orang yang telah Allah kehendaki. Hal itu ditunjukkan oleh sebuah hadits tentang tiga shahabat yang dua di antaranya syahid, kemudian beberapa waktu berselang yang ketiganya bermimpi melihat dirinya justru telah mendahului kedua shahabatnya yang telah meninggal dunia itu, kemudian Rasulullah bersabda dalam hadits tersebut:
‘Bukankah ia terus-menerus berdoa begini dan begitu setelah kedua shahabatnya meninggal? Ia pun sempat menjumpai Ramadhan dan menshauminya? Maka demi Dzat yang jiwaku adalah di tangan-Nya sesungguhnya perbedaan antara kedua kelompok orang tersebut adalah bagaikan lagit dan bumi.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Wallahu A’lamu bish Shawab.

diambil dari majalah YDSUI

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Selamat Datang Syahrul Mubarak"