Riya', Sifat Munafiq

Tidak ada komentar 947 views

Oleh: Tengku Azhar

Tafsir QS. An-Nisaa`: 142

                Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

        إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

                “Sesungguhnya orang-orang munafiq ingin menipu Allah, padahal Allah lah yang telah menipu mereka, jika mereka mengerjakan shalat mereka mengerjakannya dengan rasa malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalatnya) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit saja.” (QS. An-Nisaa`: 142)

                Imam Ath-Thabari –rahimahullah- menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah menjelaskan keadaan orang-orang munafiq yang ingin menipu Allah lewat shalat, sedekah, dan darah mereka. Padahal hati mereka sama sekali tidak beriman kepada Allah. Allah biarkan mereka dalam keadaan demikian sebagai istidraj dari-Nya, hingga ketika mereka bertemu Allah kelak di akhirat, Allah lemparkan mereka ke dalam Neraka Jahannam. Wal’iyadzubillah.

                Imam As-Sady –rahimahullah- menjelaskan tentang ayat ini bahwa pada hari kiamat orang-orang munafiq akan diberi cahaya yang dengannya mereka bisa berjalan bersama orang-orang mukmin, kemudian ketika mereka meniti shirat Allah singkirkan dan padamkan cahaya itu dari mereka, hingga mereka berjalan dalam kegelapan dan dilemparkan ke dalam Jahannam. Itulah bentuk tipudaya Allah atas mereka.

                Ibnu Juraij –rahimahullah- berkata, “Ayat ini turun untuk Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abu Amir bin Nu’man.”

                Al-Hasan –rahimahullah- berkata, “Pada hari kiamat orang-orang mukmin dan munafik akan diberi cahaya yang dengannya mereka berjalan. Ketika mereka sampai di Sirath maka Allah padamkan cahaya orang-orang munafiq dan Allah benderangkan cahaya bagi orang-orang mukmin, kemudian orang-orang munafiq diseru, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam QS. Al-Hadid ayat 13-15:

                “Pada hari orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.’ (Kepada mereka dikatakan), ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan diluarnya hanya ada adzab. Orang-orang munafiq memanggil orang-orang mukmin, ‘Bukankah kami dahulu bersama kamu?’ Mereka menjawab, ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu, meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah. Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kamu maupun dari orang-orang kafir. Tempat kamu di neraka. Itulah tempat berlindungmu, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Hadid: 13-15)

                Kemudian Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa orang-orang munafiq tidak mengetahui bahwa setiap ibadah yang diwajibkan oleh Allah kepada orang-orang mukmin adalah dalam rangka untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah, karena orang-orang munafiq mengingkari adanya pahala dan dosa, juga mengingkari adanya hari kiamat dan pembalasan atas setiap amal perbuatan. Karenanya orang-orang munafiq bila beramal (melaksanakan shalat) mereka mengerjakannya dengan rasa malas dan riya’ kepada orang-orang mukmin. Supaya orang-orang mukmin menyangka mereka (munafiqin) bagian dari kaum mukminin. Hal itu dikarenakan orang-orang munafiq tidak meyakini semua kewajiban yang telah bebankan atas orang-orang mukmin, karenanya mereka mengerjakannya dengan malas-malasan dan setengah hati.

                Hingga Imam Qatadah –rahimahullah- berkata, “Demi Allah, kalau bukan kerena mencari pujian manusia, maka orang-orang munafiq tidak akan pernah shalat. Dan kalaupun mereka shalat, maka shalatnya mereka hanya riya’ dan sum’ah.”

                Kemudian Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa sifat munafiqin berikutnya adalah orang-orang munafiq tidaklah berdzikir melainkan hanya sedikit, hal itu dikarenakan dzikir mereka untuk selain Allah.

                Munafiqin Kontemporer

                Bila menilik penjelasan ulama di atas tentang sifat munafiqin yang senantiasa riya’ atas setiap amal yang mereka kerjakan. Dikarenakan amal itu dikerjakan bukan untuk Allah, tetapi untuk menipu orang-orang mukmin, agar kaum mukminin menyangka mereka adalah bagian dari kalangan orang-orang beriman, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah:

                “Mereka ingin menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari.” (QS. Al-Baqarah: 9)

                Maka akan kita temukan banyak munafiqin kontemporer yang berbuat demikian. Ketika datang masa PEMILU, tidak sedikit di antara mereka menjual ayat-ayat Allah, berubah sosok menjadi alim, shalih, dan aktif ke masjid, dalam rangka untuk memperdaya kaum muslimin dan menipu mereka. Demokrasi telah mengunci hati-hati mereka, menjadikan mereka sosok yang akrab dengan kemunafikan. Mengumbar janji, menjual kata-kata adalah sesuatu yang sangat akrab dalam dunia demokrasi.

                Dengan demokrasi, mereka berani berbuat apapun dalam rangka untuk mencari simpati kaum muslimin dan meraup suara mereka pada PEMILU atau PILKADA. Semua itu mereka lakukan bukan untuk Allah, tetapi untuk manusia. Wal’iyadzubillah.

                Mereka rela mati dan mengorbankan apa yang mereka miliki untuk demokrasi. Padahal belum tentu mereka berani berbuat demikian untuk membela Allah, Rasul-Nya, agama-Nya dan kaum muslimin. Bahkan sebaliknya, dengan demokrasi mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dengan demokrasi mereka memerangi syariat Allah dan orang-orang yang berjuang untuk menegakkan syariat Allah.

                Pintu-pintu Pembuka Riya’

Pintu-pintu yang mengantarkan kepada riya’ (ingin dipuji manusia) sangat banyak sekali, kita berlindung kepada Allah darinya.

Jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memang keinginan seorang hamba tersebut untuk selain Allah. Dia ingin dan senang apabila diketahui oleh orang lain bahwa ia telah melakukan hal tersebut dan sama sekali tidak meniatkan ikhlas untuk Allah ‘Azza wa Jalla, kita berlindung kepada Allah dari yang seperti itu. Jenis ini termasuk nifak.

2. Pada awalnya niat dan tujuan hamba tadi untuk Allah, namun apabila dilihat oleh manusia ia tambah giat dalam ibadahnya dan memperindah
seindah-indahnya. Ini termasuk syirik yang tersembunyi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia,jauhilah kesyirikan yang tersembunyi!” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu syirik yang tersembunyi?” Beliau menjawab, “Seseorang bangkit melakukan shalat kemudian dia bersungguh-sungguh  dalam shalatnya karena dilihat manusia. Itulah yang disebut dengan syirik yang tersembunyi.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

3. Seorang hamba pada awal masuk memulai ibadah, ia lakukan untuk Allah dan keluar dari ibadah itu untuk Allah, kemudian ia menjadi terkenal dengan ibadah itu serta dipuji, ia pun merasa senang dengan hal itu dan berangan-angan para manusia memuji dan memuliakannya.

Disamping itu dia pun mendapatkan apa yang dia inginkan dari harta benda dunia. Kesenangan dan keinginan untuk mendapatkan yang lebih serta mencapai apa yang diimpikannya ini menunjukkan riya’ tersembunyi yang ada pada dirinya.

4. Dan disana ada riya’ yang bersifat badaniyah, seperti orang yang menampakkan kepucatan dan kekurusannya agar dilihat oleh manusia bahwa
dia itu seorang ahli ibadah yang telah dikalahkan oleh ketakutan terhadap akhirat. Terkadang juga dengan merendahkan suara dan kekeringan bibirnya agar disangka oleh manusia bahwa ia sedang berpuasa.

5. Riya’ dari segi pakaian dan trend mode, seperti orang yang mengenakan pakaian yang penuh tambalan agar disangka oleh manusia bahwa dia seorang yang zuhud terhadap dunia, atau mengenakan pakaian jubah tertentu yang biasa dipakai oleh para ulama. Ia memakai pakaian itu agar dikatakan sebagai orang yang alim.

6. Riya’ dengan ucapan. Mayoritasnya ini adalah riya’ yang menjangkiti para ahli agama, penasehat dan pemberi wejangan, dan orang yang
menghafal khabar dan hadits untuk berdiskusi, debat dan jidal serta menampakkan kedalaman ilmunya.

7. Riya’ dalam amalan, seperti orang yang riya’ dalam shalatnya dengan memperpanjang shalat, ruku’ dan sujudnya, menampakkan kekhusyu’an, dan
orang yang riya’ dalam ibadah puasa, haji dan shadaqah.

8. Riya’ dengan jumlah shahabat dan pengunjung, seperti orang yang memberatkan diri agar dikunjungi oleh seorang yang alim, agar dikatakan bahwa fulan telah mengunjungi si fulan, dan mengundang manusia agar mengunjunginya supaya dikatakan bahwa dia seorang tokoh agama yang sering didatangi oleh manusia.

9. Riya’ dengan mencela dirinya sendiri dengan tujuan agar dilihat oleh manusia bahwa dia orang yang tawadhu’, sehingga kedudukan dia
terangkat di sisi mereka yang akhirnya memuji dan menyanjungnya. Ini termasuk kelembutan (tersembunyinya) pintu-pintu riya’.

10. Diantara kelembutan dan kesamaran riya’ adalah seseorang menyembunyikan amalannya, dimana dia tidak menghendaki ada orang lain
yang melihatnya dan tidak senang ketaatannya nampak. Akan tetapi, apabila dilihat oleh manusia ia senang apabila manusia mengucapkan salam terlebih dahulu kepadanya, menciumnya dengan penuh kegembiraan dan penghormatan, memujinya, semangat memenuhi kebutuhannya dan mendapatkan keringanan dalam jual beli. Apabila dia tidak menjumpai itu semua, ia merasakan rasa sakit yang mendalam dalam dirinya, seakan-akan dia mengharuskan adanya penghormatan atas ketaatan yang dia sembunyikan.

11. Diantara kelembutan riya’ adalah menjadikan ikhlas sebagai wasilah untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah mengatakan, “Dihikayatkan dari Abu Hamid Al-Ghazali bahwasanya telah sampai kepadanya khabar bahwa barangsiapa yang ikhlas kepada Allah selama empat puluh hari, niscaya akan terpancar hikmah dari hatinya melalui lisannya. Ia berkata, ‘Aku telah berbuat ikhlas selama empat puluh hari, namun tidak juga terpancar hikmah sedikitpun’. Kemudian aku ceritakan hal itu kepada orang-orang yang arif, mereka mengatakan kepadaku, ‘Karena kamu berbuat ikhlas untuk mendapatkan hikmah, bukan ikhlas karena Allah!

            Wallahu A’lamu bish Shawab

author
Tidak ada Respon
  1. author

    Melodramatic Mind8 tahun ago

    Terenyuh baca penggalan kalimat2 akhir tulisan ini.. Ustadz, apa juga dikatakan munafik (riya tidak ikhlas) jika seseorang berusaha dengan keras mencari takbiratul ihram bersama imam selama kurun waktu tertentu agar dihindarkan dari kemunafika? Karena memang ada hadist yg menyebutkan demikian.. Makasih

    Balas
    • author

      tulus8 tahun ago

      maaf ustadz, mau bertannya
      saat kita ingin berzakat tentu saja zakat tersebut kita berikan kepada fakir miskin ,kemudian zakat tersebut kita prioritaskan lagi kepada fakir miskin yang bisa mengelola zakat tersebut, bagaimana pendapat ustadz

      Balas
  2. author

    edy haryono8 tahun ago

    munafik amat berbahaya karena suka dusta ,bahkan Alloh yg maha pandai akan ditipu, licik dalam pergaulan,pinter menyembunyikan kekafirannya dihadapan manusia.

    Balas
  3. author

    edy haryono8 tahun ago

    sifat munafiqin berbahaya ,licik, pendusta,bahkan Alloh yg maha pandai pun akan ditipunya.

    Balas

Tinggalkan pesan "Riya', Sifat Munafiq"