Rasa Iri Yang Diridhai

1 komentar 383 views

Bagaimana perasaan anda bila ternyata Rasulullah ﷺ telah bersabda bahwa anda adalah seseorang yang dijamin masuk Surga? Tentu bahagia bukan? Kemudian apa yang akan anda lakukan bila posisi anda adalah orang yang menyaksikan dan mengetahui bahwa seseorang yang anda kenal telah dijamin masuk Surga oleh Rasulullah ﷺ ? Bisa jadi, anda akan abaikan berita itu atau anda kemudian mencari tahu kenapa dia dijamin masuk jannah.

Jawaban setiap orang bisa berbeda, tapi seorang sahabat mulia Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dengan tegas  mengambil langkah untuk mengetahui apa yang menyebabkan seseorang dijamin masuk jannah oleh Rasulullah ﷺ.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik diceritakan bahwa suatu ketika para sahabat sedang duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ tiba-tiba beliau bersabda, “Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni surga.” Beberapa saat kemudian seorang lelaki lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi dan menetes dari jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal yang ia bawa.

Keesokan harinya Nabi ﷺ bersabda persis sebagaimana hari sebelumnya dan lagi-lagi yang muncul adalah seorang lelaki yang telah disabdakan Rasulullah ﷺ tersebut. Besok harinya, untuk yang ketiga kalinya Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat, “Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni surga.” Tidak berapa lama orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal miliknya.

Setelah itu, Rasulullah ﷺ bangkit dari tempat duduknya, sementara di antara para sahabat ada seorang yang membuncah dalam hatinya yaitu Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash untuk mengetahui apa yang menjadikan seorang lelaki yang disabdakan tersebut dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ. Rasa keingintahuan yang menjadikan iri itulah yang disebut dengan Ghibthah.

Lantas, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengikuti seorang lelaki itu lalu berkata kepadanya, “Aku habis bertengkar dengan orang tuaku. Aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengizinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.” Dia menjawab, “Silahkan!”

Anas berkata bahwa Abdullah bin ‘Amr bin’Ash setelah menginap selama tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamullail (sholat malam). Hanya saja, tiap kali terjaga dari tidurnya, ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh, kemudian mengambil air wudhu dan shalat seperti biasanya. Abdullah juga berkata, “Aku tidak mendengar ia berbicara kecuali yang baik-baik saja.

Amalan Rahasia Calon Penghuni Surga

Setelah tiga malam menginap, hampir saja Abdullah menganggap remeh amal yang dilakukan lelaki yang dijamin masuk surga tersebut. Hingga kemudian dengan rasa kecewa karena tidak mendapati amal yang spesial yang dilakukan lelaki tersebut, Abdullah berkata jujur kepadanya, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak ada kemarahan dan boikot antara aku dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga`.

Setelah beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau. Terang saja aku ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga dapat pula aku mengerjakannya. Namun sejujurnya, akau tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar, maka sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah bersabda demikian?” tanya Abdullah penasaran.

Secara ringkas, lelaki itu menjawab bahwa dia tidak melakukan amalan melainkan Abdullah sudah menyaksikan apa yang ia kerjakan. Mengetahui hal tersebut, Abdullah pamit dan melangkah untuk pulang, baru beberapa langkah lelaki itu memanggil Abdullah dan berkata, “Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak mempunyai dendam kepada seorang pun di antara kaum muslimin atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.

Mendengar jawaban itu, lantas Abdullah berkata, “Rupanya inilah yang menyebabkan kamu mencapai derajat tersebut, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya.” Sederhana, tapi sulit untuk dilakukan hingga seorang sahabat Nabi pun mengakuinya. (Az-Zuhd wa ar-Raqa`iq, hlm. 241-242).

Bersihkan Hati, Raih Ridha Ilahi

Dari kisah singkat di atas, dapat diambil dua pelajaran penting yaitu membersihkan hati dari hasad dan dendam dapat mendekatkan pemiliknya kepada pintu surga. Selain itu, secara tidak langsung rasa iri yang besar dalam diri Abdullah untuk mengetahui amal apa yang dikerjakan lelaki tersebut sehingga dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ adalah rasa iri yang diperbolehkan dalam Islam, walaupun antara hasad dan ghibthah (iri terhadap suatu kebaikan) hanya tipis perbedaannya.

Imam Nawawi Rahimahullah di dalam syarhu muslim, 2/464 menukil bahwa para ulama berkata, “Hasad itu ada dua pembagian. Pertama, hasad yang bersifat hakiki, yaitu harapan hilangnya kenikmatan atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada orang lain. Dan ini haram hukumnya menurut ijma’ ulama berdasarkan nash-nash yang shahih.

Sedangkan yang kedua, hasad yang bersifat majazi (kiasan), yaitu ghibthah (rasa iri dan harapan) untuk mendapatkan kenikmatan persis sebagaimana orang lain, tanpa berharap agar kenikmatan yang dimilikinya hilang. Jika kenikmatan itu dari perkara dunia, maka hukumnya mubah dan bila yang diharapkan adalah perkara akhirat dan ketaatan kepada Allah, maka hukumnya mustahab (sangat dianjurkan).”

Senada dengan Imam Nawawi, Imam al-Qurthubi Rahimahullah di dalam Tafsir al-Qurthubi, 3/71 membagi hasad menjadi dua macam. Pertama, hasad yang madzmum (dicela) sebagaimana firman Allah, “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? (QS. an-Nisa: 54). Kedua, hasad yang mamduh (terpuji) yaitu ghibthah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. (Musthafa al-‘Adawi, Fiqh al-Hasad, hlm. 6-8).

Rasa Iri yang di Ridhai

Sedikit memang perbedaan antara keduanya, yaitu seorang hasid (pendengki) berharap kenikmatan yang ada pada diri orang lain sirna dari dirinya. Sedangkan seorang yang memiliki ghibthah sebagaimana yang dimiliki Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash yaitu berharap dan iri pula terhadap kebaikan dan kenikmatan yang diberikan Allah kepada seseorang, hanya saja ia tidak berharap kenikmatan pada diri si pemilik hilang darinya. Lebih dari itu, perkara yang diirikan itu adalah perkara yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala tentu sangat dianjurkan.

Oleh sebab itu, jika ditanyakan kepada Anda di antara dua nilai dan sifat tersebut mana yang anda pilih, maka pilihlah keduanya. Karena keduanya sifat yang muncul dari hati dan sangat manusiawi, hanya saja sifat hasad yang hakiki itu anda pilih untuk anda buang sejauh-jauhnya dari hati sebagaimana seorang lelaki yang dijamin masuk surga tersebut. Sedangkan sifat ghibthah selayaknya anda benamkan dalam hati, hingga anda selalu merasa lapar terhadap hidangan keimanan dan keta’atan yang dilakukan orang lain dan haus akan minuman amal yang barangkali belum sama sekali anda teguk.

Semoga Allah membimbing kita menjadi seperti seorang lelaki yang dijamin masuk surga tersebut dan memiliki sifat iri sebagaimana iri yang dimiliki Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Rahimahumallahu. Aamiin. Wallahu a’lam.  (Fery Nur/ annursolo.com)

Baca Juga: Lelah di Dunia Sengsara di Neraka

author
Satu Respon
  1. Hindari Siksaan Dengan Menjaga Lisan | Ma'had 'Aly An-Nuur7 bulan ago

    […] Baca Juga: Rasa Iri Yang Diridhai […]

    Balas

Tinggalkan pesan "Rasa Iri Yang Diridhai"