Perayaan Maulid Nabi, Bukti Cinta Rasul?

Tidak ada komentar 1583 views

Oleh: Fajrun Mustaqim

Salah satu bentuk yang katanya termasuk dari cinta Rasul adalah perayaan maulid Nabi saw. Maulid berarti waktu kelahiran, yaitu merayakan kelahiran nabi Muhammad saw, dengan menampakan kesenangan serta kegembiraan. Biasanya perayaan ini disertai dengan pembacaan sejarah kelahiran Nabi saw, kejadian-kejadian yang pernah menimpanya, mu’jizat-mu’jizat beliau, dan juga urutan Ahli bait beliau. Lafadz dan bentuk perayaan pun bisa berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainya.

Sering-sering acara ini menuju kepada hal-hal yang berlebihan mengenai diri Rasul saw. Dengan sengaja atau tanpa sengaja, mereka memberikan sifat rububiyah kepada diri Rasul saw, padahal hanya Allah ta’ala yang memilikinya. Dan ironisnya, mereka justru lalai dengan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah saw, dari kewajiban-kewajiban atau sunah-sunanya yang semestinya diikuti. Padahal inilah sebenarnya yang menunjukan  cintanya kepada Rasul saw.

Kegiatan yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin ini, tak luput dari dalih atau alasan, dengan mencoba memplintirkan sebuah ayat atau hadits. Mereka katakan,”Apa salahnya kita merayakan hari itu, toh di dalamnya banyak bershalawat  kepada Nabi saw, sebagaimana dalam surat Al-Ahzab:56”. Allah ta’ala berfirman,”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” QS Al-Ahzab:56

Bershalawat kepada Rasul dan keluarganya tentu sangat dianjurkan, hal itu jelas bila tidak dikaitkan dengan perayaan tertentu yang tidak ada tuntunannya. Dan akan menjadi sebuah amalan yang sia-sia bila tidak diikuti dengan memperbanyak belajar sunah-sunah Rasulullah saw dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, hingga dzikir kepada nabi saw menjadi selalu hidup. Dan sikap senang atas diri nabi saw, adalah bila senang dengan apa yang telah dibawanya, hingga mampu mengikuti semua ajarannya. Lebih dari itu, para sahabat, sebagai genarasi pertama Islam, yang telah lama bersama Rasulullah saw, tidak melakukan hal demikian.

Hakikat Cinta Rasul saw

Cinta kepada Rasulullah saw semestinya melebihi cinta kita kepada diri kita sendiri. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Umat bin Khattab ra.”suatu ketika Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah saw,”engkau lebih kucintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Maka Rasulullah saw bersabda,”Tidak wahai Umar, akan tetapi sampai diriku lebih kau cintai dari pada dirimu sendiri”. Kemudian Umar bin Khattab ra. berkata,”Demi Allah, engkau  sekarang lebih kucintai dari pada diriku sendiri”.”Sekarang engkau benar wahai Umar” tambah Nabi”. HR Bukhari

Dan ketahuilah, bahwa cinta ini tidak akan sempurna kecuali dengan adanya keta’atan kepada Allah dan RasulNya. Allah ta’ala berfirman:

“Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Al-Imran;310

Kecintaan kepada Rasul akan terbukti bila bertentangan dengan cinta kepada yang lainnya. Apakah akan mengutamakan cintanya kepada Rasul ataukah sebaliknya. Bila mendahulukan cintanya kepada Rasul, berarti telah membuktikan akan kebenaran cintanya kepadanya.

Menurut Ibnu Rajab, cintai kepada kepada Rasul Ada dua derajat; pertama,  yang menjadi sebuah kewajiban; ta’at kepadanya dengan melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangannya, meyakini semua berita yang dibawanya dan pasrah dengan semua yang telah datang darinya.

Kedua,  menjadi perbuatan sunnah, yaitu dengan mengikuti sunah-sunahnya, akhlaknya, adabnya, mencotoh cara bergaul dengan keluarganya, saudara-saudaranya, mencontoh akhlaknya yang dzahir berupa zuhud di dunia, sangat merindukan akhirat, kedermawanan, sikap tawadhu’, juga akhlaknya yang batin berupa takut kepada Allah ta’ala dan mencintainya, rindu untuk bertemu denganNya, ridha dengan semua ketentuanNya, menyandarkan diri dan bertawakal kepadaNya lalu menjauhi semua bentuk sesembahan yang dapat memalingkan hati dari ibadah kepadaNya.

Dengan demikian, cinta kepada Rasullah saw bukanlah sebuah pengakuan dengan ucapan semata. Karena seandainya cukup dengan ucapan, niscaya semua orang akan mudah mengatakannya. Hasan Al-Basri berkata,”sekelompok manusia berkata kepada Rasulullah saw,”Wahai Muhammad, kami mencintai rabb kami, maka Allah menurunkan ayatNya (Ali Imran:31): Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Maka mengikuti semua pentunjuk nabi Muhammad saw tanda akan kecintaan kepadanya.

 Antara Ifrat Dan Tafrit(lalai dan berlebihan)

Kewajiban seorang muslim, adalah mengimani akan adanya kerasulan Nabi Muhammad saw, mengimani seluruh berita yang dibawanya, menjadikannya sebagai suri tauladan dalam kehidupannya, dan mencitainya melebihi cintanya kepada apa-apa yang dia cintai. Allah ta’ala berfirman,”Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.QS At-Taubah:24

Namun, satu sisi Rasulullah saw melarang umatnya agar tidak memiliki sikap berlebihan atas dirinya, beliau adalah hamba Allah ta’ala yang tidak memiliki sifat uluhiyah atau rububiyah. Rasulullah saw bersabda:

لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah sikap kalian berlebihan kepadaku sebagaimana sikap orang-orang Nasrani kepada putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah hambaNya, maka katakanlah; hamba dan rasul Allah”. HR Bukhari

Maka cara mencintai rasul pun harus mengikuti ajaran-ajarannya yang dibenarkan dan disyari’atkan, agar kita tidak terjebak dalam dua jurang kesesatan yang berlawanan, yaitu sikap ifrat dan tafrit (lalai dan berlebihan). Para Salaf berkata:”Tidaklah Allah ta’ala memerintahkan kecuali bagi syaithan ada dua godaan: yaitu sikap lalai dan sikap berlebihan, dia tidak menghiraukan dengan yang mana manusia dapat terjerumus”. WaAllahu A’lam

author
Tidak ada Respon
  1. author

    neilasahila9 tahun ago

    Kebaikan dalam PERINGATAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW : antara lain
    1. Menunjukkan Ukhuwah Islamiyah, kepada agama lain,
    2. Mengajak orang untuk mau bersilaturahmi
    3. Bersama sama BERSHOLAWAT kepada Nabi, walau kitika sendiri kita juga sdh melakukan.
    4. Memberi penerangan pada orang awam tentang hikayat Nabi Akhir Zaman
    masih banyak yg lainnya, meningat ALLAH dan Malaikat juga bersholawat kepada Nabi. Allahumma Yarkhamna walahum amien

    Balas
  2. author

    Gerald9 tahun ago

    Jangan dilihat satu sisi, banyak kan manfaatnya kita maulidan……. yang paling terasa ya cinta rosul, kebersamaan….. jangan malah bikin ribut di saat Maulid Nabi…….. orang tulus mau mengexpresikan cintanya, malah dikata-katain……………………. Think Smart Moslems!!!!

    Balas
  3. author

    Melodramatic Mind9 tahun ago

    @neila: Baca dulu artikel di atas secara seksama, runut, dan lepaskan dulu pikiran qt dari prasangka2, yach..? Tambahan dari neila bagus.. Tp da 1 hal yg mengganjal.. Gimana menerapkan UKHUWAH ISLAMIYAH kepada agama lain? Maaf, tengkyu..

    Balas
  4. author

    i.moslem9 tahun ago

    tujuan dan niat yang baik memang perlu, namun cara melakukan sebuah amal agar tercapai tujuan juga menjadi lebih perlu.. niat baik, niat membri tujuannya menolong numn cra memberinya menyakitkan juga akan menjauhkan dari tujuan.. misal

    Balas

Tinggalkan pesan "Perayaan Maulid Nabi, Bukti Cinta Rasul?"