Peradaban Itu Pernah Ada

Tidak ada komentar 1012 views

Oleh: Firmansyah, Lc

Kota Makkah terletak di sebelah selatan jazirah arab. Sebuah negeri tandus yang dikelilingi pegunungan serta diapit dua imperium besar, Romawi dan Persi. Namun letak geografis tersebutlah membuat negeri tersebut tidak pernah dijajah dan dikuasai oleh negeri lain.

Konon sebelum datangnya Hajar dan Ismail ke tempat tersebut, Makkah merupakan negeri yang tidak ada tanaman dan sumber air. Namun sejak Allah memancarkan air zam-zam, maka babak baru kehidupan manusia pun dimulai. Perlahan tapi pasti populasi Makkah semakin bertambah dan terus bertambah.

Mereka semua merupakan penganut millah Ibrahim sebelum datangnya ‘Amru bin Luay. Dialah yang menyelewengkan millah Ibrahim kepada agama paganis (penyembahan berhala). Dan dengan perjalan waktulah ajaran tersebut menyebar ke seluruh penjuru jazirah arab. Hingga pada akhirnya hanya sedikit sekali yang masih berpegang dengan millah Ibrahim.

Maka ketika mencapai klimaksnya Allah pun mengutus seorang rasul Umyy (tidak dapat membaca dan menulis) kepada mereka untuk mendakwahkan kembali millah Ibrahim al hanif. Dakwah beliau tersebut dimulai dari kalangan keluarga dan menyebar hingga ke seluruh kabilah Arab. Beliau intensif berdakwah di Makkah selama 13 tahun dan 10 tahun berdakwah di Madinah.

Padahal menurut sejarah, sebelum beliau lahir pada tahun 570 M, kota Mekkah merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Bahkan ketika pertama kali Islam muncul di sana hanya terdapat belasan orang yang dapat menulis. Ini semua menunjukkan kebodohan masyarakat tersebut.

Belum lagi kerusakan akhlak pada masyarakat tersebut. Merajalelanya pembunuhan, merebaknya perzinaan, dan tersebarnya peperangan antar kabilah. Bahkan kerusakan akhlak tersebut sudah mendarah daging dan menjadi penghias di setiap lini kehidupan.

Namun, hasil yang beliau torehkan di dunia ini tidak pernah dapat tertandingi oleh manusia manapun. Beliau dapat merubah masyarakat yang dulunya dalam keadaaan jahiliyah (kebodohan) baik dalam ilmu dunia maupun ilmu akhirat menjadi masyarakat yang berilmu dan beradab.

Tidak hanya orang muslim saja yang mengakuinya, namun orang non muslim juga. Bahkan Michael H. Hart (1978) menjadikan  Nabi Muhammad nomor satu di dalam bukunya “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah ”. Tentu saja ini bukan kebetulan belaka. Pemilihan tersebut memiliki dasar sebagaimana yang dia ungkapkan dalam bukunya, mengapa memilih Nabi Muhammad menjadi nomor satu.

Membangun Peradaban

Peradaban islam mulai dibangun setelah kaum muslimin menang dalam perang Badar. Pada waktu banyak orang quraisy yang menjadi tawanan. dan untuk menebus dirinya mereka harus mengajari anak-anak kaum muslimin. Bagi tawanan yang bisa baca dan tulis maka harus mengajari 10 anak. Bagi mereka yang memiliki harta haruslah menebus dengan harta yang mereka miliki.

Waktu pun berlalu dan mereka tumbuh besar. Akhirnya islam pun memiliki generasi yang sangat “mumpuni” dalam urusan duniawi dan ukhrowi. Pun, itu semua dipergunakan untuk kemajuan islam wal muslimin.

Berkat ajaran beliaulah pasukan arab dapat menorehkan sejarah penaklukan yang sangat mencengangkan dalam sejarah manusia dan tidak pernah tertandingi. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol. Semua sejarah ini ditorehkan oleh mereka yang mendapatkan ajaran Rasulullah.

Peradaban Islam

Islam pernah menorehkan sejarah penaklukan yang sangat mencengangkan dalam sejarah manusia. Bahkan tidak pernah ditangingi oleh peradaban manapun. Pendudukan yang dilakukan islam tidaklah untuk menekplorasi kekayaan negeri tersebut. Akan tetapi, untuk menyebarkan agama ini.

Oleh karenanya sejarah mencatat islam telah melahirkan ulama dan pakar ilmu yang berpengaruh terhadap peradaban manusia di negeri yang diduduki. Contohnya adalah Andalusia (sekarang Spanyol).

Dari sinilah peradaban barat membangun sendi-sendinya berdasarkan peradaban islam yang berdiri di Spanyol.

Selain itu penaklukan wilayah tersebut sejarah juga mencatat bahwa islam telah melahirkan ulama-ulama yang berpengaruh terhadap peradaban manusia. Bahkan peradaban Barat membangun sendi-sendinya berdasarkan peradaban Islam yang berdiri di Spanyol hasil kerja keras para ulama Islam di sana. Di Spanyol, kaum muslimin mendirikan banyak perguruan tinggi dan meletakkan dasar teori eksperimen.

Ustadz Muhammad Al-Husaini Rakha berkata, “Spanyol pada masa pemerintahan bangsa Arab menjadi markas seni dan industri, serta mercu suar ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama, negara-negara Eropa tenggelam dalam lautan kebodohan. Orang-orang Eropa aktif berinteraksi dengan orang-orang Arab dan menimba ilmu dari mereka serta mengambil manfaat dari peradaban mereka. Para mahasiswa dari seluruh penjuru Eropa berdatangan ke Spanyol dan memanfaatkan perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di sana-sini. Setelah masa belajarnya selesai, mereka pulang ke negaranya masing-masing untuk menyebarkan ilmu yang mereka pelajari dari orang-orang Arab. Di antara bukti kebesaran peradaban Spanyol bahwa di Cordova saja terdapat lima puluh rumah sakit, sembilan ratus toilet, delapan ratus sekolah, enam rauts masjid, perpustakaan umum yang memuat enam ratus ribu buku dan tujuh puluh perpustakaan pribadi lainnya.”

Peradaban kaum muslimin di Andalus (sekarang Spanyol) pada waktu itu betul-betul berada di puncak kebesarannya hingga banyak sekali raja-raja Eropa mengirimkan wakilnya untuk menimba ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas Andalus. Selesai kuliah, mereka kembali ke negerinya masing-masing untuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di Spanyol.

Tercatat dalam sejarah bahwa George III Raja Inggris, Ghal, Swedia, dan Norwegia pernah menuliskan surat kepada Hisyam III khalifah kaum muslimin di Andalus. Dia bermaksud untuk mengirim putra-putra terbaiknya untuk menimba ilmu-ilmu di negeri Andalus.

Selain fakta di atas ada studi perbandingan yang ditulis oleh penulis Amerika tentang kondisi Eropa secara umum dan kondisi Andalus secara khusus pada era keemasannya. Ia berkata, “Jika matahari telah terbenam, seluruh kota-kota besar Eropa terlihat gelap gulita. Di sisi lain, Cordova (ibukota Andalus) terang benderang disinari lampu-lampu umum. Eropa sangat kumuh sementara di kota Cordova telah dibangun seribu WC umum. Eropa sangat kotor sementara penduduk Cordova sangat perhatian dengan kebersihan. Eropa tenggelam dalam Lumpur sementara jalan-jalan Cordova telah mulus. Atap istana-istana Eropa sudah pada bocor sementara istana-istana Cordova dihiasi dengan perhiasan yang mewah. Para tokoh Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri sementara anak-anak Cordova sudah mulai masuk sekolah …!”

Karena peranan Andalus (Spanyol) pada era Islamlah Eropa maju dalam ilmu pengetahuan, seni, dan industri. Dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan seni ke seluruh pelosok Eropa, Andalus tidak membeda-bedakan negara satu dengan negara lainnya. Salah seorang orientalis yang moderat berkata, “Tanpa bangsa Arab dalam sejarah, kebangkitan ilmu pengetahuan dan seni akan mundur ke belakang hingga berabad-abad.”

Sejarah itu pernah tercatat, akankah kita biarkan itu hanya tinggal kenangan tanpa ada keinginan dalam diri kita untuk mengulang sejarah tersebut ? Pertanyaan ini haruslah menjadi cambuk bagi diri kita untuk terus berusaha mengulang sejarah tersebut. ( Frm)

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Peradaban Itu Pernah Ada"