Nasehat Yang Berbalut Keikhlasan Akan Mengabadi

Tidak ada komentar 95 views

Gambar: Ilustrasi

Oleh: Ibnu Abdil Bari

Allah Ta’ala berfirman:

( لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.” (al-Ma’idah: 28).

Kata-kata di atas ialah ungkapan yang begitu tulus dari seorang Habil kepada saudaranya, Qabil. Kata-kata ini menegaskan bahwa Habil tak kan pernah menggerakkan tangannya untuk membunuh saudaranya, sekalipun saudaranya sudah menegaskan bahwa, “Sungguh, aku akan membunuhmu.

Ini adalah tragika yang terjadi pada dua anak Adam. Yang pertama mencerminkan pribadi yang dikuasai hasad sehingga ia ingin membunuh saudaranya sendiri. Sedang yang kedua mengisahkan pribadi yang amat bertakwa. Ia menjelaskan bahwa ia tidak membalas karena takut kepada Allah Ta’ala.

Surat Al-Ma’idah ayat 28 di atas mengandung banyak pelajaran, di antaranya:
1. Mengingatkan saudaranya yang hendak berbuat dosa

Inilah pelajaran umum dari ayat ini. Ayat ini menegaskan bahwa kata-kata Habil ditujukkan untuk memperingatkan saudaranya, Qabil tentang besarnya dosa pembunuhan yang akan dilakukannya.

2. Takut kepada Allah adalah benteng dari bermaksiat

Ayat ini mengandung pesan bahwa yang menghalangi Habil untuk tidak menggerakkan tangannya ialah karena rasa takutnya kepada Allah. Perasaan inilah yang seyogianya dimiliki oleh seorang mukmin ketika hendakk mendurhakai Allah Ta’ala; hendaknya perasaan takut kepada Allah mendorongnya untuk menjauhi maksiat dan dosa.

Syaikh As-Sa’di berkata ketika menjelaskan kata-kata Habil, “Inni Akhafulllah”, “Orang yang takut kepada Allah tidak akan menerjang melakukan dosa, terlebih dosa-dosa besar. Di dalam kata-kata ini terdapat ancaman untuk menakut-nakuti orang yang ingin membunuh, dan bahwasanya hendaknya kamu bertakwa dan takut kepada Allah.” (At-Taisir, hal. 229).

Imam Al-Qasimi juga berkata menukil pernyataan Abu Su’ud, “Tidak samar lagi bahwa di dalam kata-kata ini terdapat pengarahan kepada Qabil untuk takut kepada Allah Ta’ala, dengan ungkapan yang sangat mengena dan kuat.”

Kemudian Imam Al-Qasimi menambahi, “Seolah-olah Habil mengatakan, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah Ta’ala jika aku menggerakkan tanganku untuk membunuhmu, maka Dia akan menghukumku. Ini jika aku membela diri dari seranganmu, lantas bagaimana dengan kondisimu jika engkau yang memulai dan menyerang terlebih dahulu?” Penyifatan Allah dengan rububiyatul alamin juga menegaskan pemberian rasa takut ini. (Mahasinut Ta’wil: 4/ 109).

3. Membela diri

Firman Allah, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.”, kata Syaikh Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir (6/ 171), menunjukkan bahwa membela diri yang berujung kepada pembunuhan itu diharamkan. Tetapi syariat ini dihapus. Karena syariat-syariat memperbelohkan bagi orang yang diserang untuk membela dirinya, sekalipun dengan membunuh orang yang menyerangnya. Tetapi ia tidak boleh melampaui batas dari pembelaan diri ini.

Imam Al-Qurthubi juga menegaskan, “Berdasarkan ijma’, dalam syariat kita diperbolehkan untuk membela diri. Tentang kewajibannya ada perbedaan pendapat, tetapi yang paling benar ialah wajib (membela diri). Karena ini termasuk bentuk mencegah (terjadinya) kemungkaran.” (Al-Jami’: 6/ 136).

4. Karena mengharapkan pahala

Abdullah bin Umar menjelaskan bahwa, “Demi Allah, sesungguhnya orang yang dibunuh (Habil) adalah orang yang lebih kuat, tetapi rasa malu menghalanginya untuk menggerakkan tangannya untuk membunuh saudaranya.”

Di dalam syariat, kata Imam Al-Baghawi di dalam tafsirnya, hal ini diperbolehkan; orang yang hendak dibunuh, ia boleh tunduk dan pasrah karena ingin mendapatkan pahala. Sebagaimana yang dilakukan oleh Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu. (Tafsir Al-Baghawi: 2/ 39).

5. Energi keikhlasan
Faidah ini ditegaskan oleh Syaikh Abdullah Balqasim Hafizhahullah.

Syaikh Abdullah Balqasim mengatakan,

 !قتيل وحيد
‏لم يسمع كلماته الخالدة غير قاتله 
‏أتى بها الإخلاص من وراء القرون 
‏ما كان لله ﷻ يبقى

“Yang terbunuh hanya seorang! Dan yang mendengar kata-kata yang mengabadi ini hanya si pembunuhnya. Namun keikhlasan dalam kata-kata tersebut ada di sepanjang zaman. Maka, apapun yang ditujukan untuk Allah pasti akan kekal.”

Akhukum fillah,
Ibnu Abdil Bari رحمه الله

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Nasehat Yang Berbalut Keikhlasan Akan Mengabadi"