Menyongsong Jihad Membebaskan Negeri-negeri Kaum Muslimin | Teks Khutbah Idul Fitri 1435 H

Menyongsong Jihad

Membebaskan Negeri-negeri Kaum Muslimin

Oleh: Tengku Azhar, Lc.

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {البقرة: 102}.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {النساء:1}.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا {70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. {الأحزاب: 70-71}

أما بعد:

فإن أحسن الحديث كلام الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثةٍ بدعة وكل بدعةٍ ضلالة وكل ضلالةٍ في النار.

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Di pagi hari yang cerah dan penuh barokah ini, kita wajib bersyukur sebesar-besarnya ke hadirat Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya lah kita dapat menunaikan kewajiban shaum Ramadhan, lalu menyempurnakannya dengan Shalat Idul Fitri dalam suasana ceria dan gembira. Nikmat yang telah kita terima adalah nikmat yang tiada dua, barang siapa yang mensyukurinya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan menambah nikmat tersebut, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk barokah. sedang siapa yang mengingkarinya, maka ia berada di bawah ancaman Sang Maha Perkasa. Sebagaimana firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan(ingatlah) ketika Tuhan kalian mengumumkan: jikalau kalian bersyukur, niscaya Ku tambah (nikmat-Ku), namun jikalau kalian ingkar (terhadap nikmat,) ketahuilah bahwa adzab-Ku adalah adzab yang amat pedih.”[1]

Oleh sebab itu, pada pagi hari yang mulia ini, kita memohon dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala empat hal;

Pertama, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ مَا تَقَدَّمَ بِذَنْبِهِ

“Barangsiapa puasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala Alloh Swt, niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.”[2]

Dan amat rugi orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wal’iyadzu billah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa malaikat Jibril ‘Alaihissalam pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seraya berkata, “Wahai Muhammad, barangsiapa yang berjumpa dengan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosa-dosanya oleh Allah, maka akan dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya(.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaminkan doa tersebut.[3]

Kedua, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kiranya Dia menerima amal ibadah shaum kita satu bulan yang lalu.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Shaum adalah milik-Ku, dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya. Tatkala shaum seorang hamba meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena-Ku. Shaum adalah perisai(dari perbuatan maksiat). Dan bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan; kebahagiaan di saat berbuka dan kebahagiaan di saat bersua dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala daripada kasturi.” [4]

Ketiga, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kiranya Dia mengkaruniakan pada kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang. Karena Ramadhan adalah kesempatan emas bagi seorang mukmin untuk mempersiapkan dirinya sebagai insan yang bertaqwa.

Keempat, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kiranya Dia menjadikan kita semua tergolong dari golongan hamba-hambaNya yang bertaqwa, serta mengilhamkan pada kita istiqamah dan konsisten dalam bertaqwa selama kita berada didunia. Amiin.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Ketahuilah, bahwa salah satu bukti ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah merealisasikan perintah-perintah-Nya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya. Dan salah satu dari kewajiban itu adalah perintah Allah agar kita orang-orang bertaqwa menjadi para penolong-Nya (agama-Nya). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآَمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong (agama Allah),” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

Kemenangan dan pertolongan dari Allah akan turun kepada orang-orang mukmin (bertaqwa) sebanding lurus dengan usaha mereka untuk menolong agama Allah.

Sungguh naïf memohon kemenangan dan pertolongan dari Allah sedangkan kita amat jauh dari menolong (agama)Nya, bahkan justru kita memusuhi agama dan syari’at-Nya, menentang hukum-hukum-Nya, merendahkan dan mencemooh ahli-Nya. Lantas dari manakah kemenangan dan pertolongan itu datang?

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Kemenangan dari Allah dan pertolongan-Nya tidak datang begitu saja dengan gratis tanpa pengorbanan dan ujian. Lihatlah jalan para Nabi dan Rasul terdahulu. Karena jalan inilah (menolong agama Allah), Nabi Adam Nuh ‘Alaihissalam dimusuhi oleh kaum-Nya, Nabi Yusuf mendekam beberapa tahun dalam penjara, Nabi Ibrahim dibakar oleh Namrudz, Nabi Musa dikejar dan diburu oleh Fir’aun, Nabi Isa diburu untuk disalib, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkali-kali akan dibunuh oleh orang-orang kafir. Dan setelah semua ujian ini berlalu, Allah turunkan kepada para Nabi dan Rasul tersebut kemenangan di dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلَى مَا كُذِّبُوْا وَأُوْذُوْا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِيْنَ

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu”.  (QS. Al-An’am:34)

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Hari ini, jutaan kaum muslimin terjajah di negeri-negeri mereka. Tidak hanya terjajah fisik dan jasadnya saja, tapi juga terjajah agama dan aqidah mereka.

Saksikanlah saudara-saudara kita di Palestina! Ribuan nyawa kaum muslimin telah melayang, ribuan anak-anak mereka terbunuh secara sadis, mereka dihalangi dari shalat di Masjid Al-Aqsha, padahal itu adalah masjid mereka. Mereka harus membayarnya dengan nyawa untuk bisa shalat di dalamnya. Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Saksikanlah saudara-saudara kita di Suriah! Bagaimana mereka selama bertahun-tahun tahun tidak berani untuk melaksanakan shalat berjamaah di Masjid, karena Rezim Asad yang berkuasa akan menangkap siapa saja yang melaksanakan shalat di Masjid dan menyiksanya. Bertahun-tahun mereka dijauhkan dari Al-Qur’an, dijauhkan dari pendidikan Islam, dihinakan para ulamanya, dinodai kehormatan wanitanya, dan ditumpahkan darah mereka.

Saksikanlah wahai kaum muslimin! Bagaimana nasib saudara-saudara kita yang berada di Afghanistan, Iraq, Iran, Afrika Tengah, Rohingya, Uinghur, Yaman, Mesir, bahkan di negeri Indonesia ini, dan di negeri-negeri kaum muslimin lainnya.

Akankah kita diam seribu bahasa? Akankah kita membisu tanpa berbuat apa-apa? Tidakkah kita marah atas kebiadaban yang menimpa saudara-saudara kita? Di manakah hati kita? Tidakkah kita punya anak? Bagaimana bila yang disembelih itu adalah anak-anak kita? Tidakkah punya istri? Bagaimana yang diperkosa itu adalah istri-istri kita? Tidakkah kita punya suami? Bagaimana kalau yang ditembak secara keji itu adalah suami kita? Tidakkah kita punya orang tua? Bagaimana yang disiksa dan dibunuh secara biadab itu adalah kedua orang tua kita?

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih agama ini dengan rahmat-Nya untuk menjadi rahmat bagi segenap makhluk-Nya dan Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya Shallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjadi Nabi terakhir dengan membawa agama Islam ini. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memenangkan agama ini dengan pedang dan tombak, setelah Islam itu disampaikan dengan jelas oleh Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan hujah dan keterangan yang tidak bisa dibantah oleh ilmu siapapun. Rasulullah telah bersabda dalam hadits shahih riwayat Ahmad dan Thabrani:

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَي السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدُ اللهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رَمْحِي وَجَعَلَ الذِّلَّ وَالصِّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang disembah dan tidak disekutukan dengan lain-Nya dan rezekiku terletak di bawah tombakku, dan kehinaan itu dijadikan atas orang yang menyelisihi agamaku.  Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia itu adalah termasuk golongan kaum itu”.[5]

Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan dengan hikmah-Nya bahwa kemakmuran bumi tegak diatas landasan hukum/aturan pembelaan (daf’u).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لفسدت الأرض ولكن الله ذو فضل على العالمين

“Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolak keganasan sebahagiaan manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia yang dicurahkan atas semesta alam”. (Al-Baqarah: 251).

Yakni Allah telah memuliakan manusia dengan menetapkan aturan ini dan menerangkan pula kepada mereka aturan tersebut. Atau dengan kata lain pergumulan antara haq dan bathil akan selalu ada yang kesemuanya itu adalah demi kebaikan manusia, agar kemenangan diraih oleh yang haq sehingga tersebarlah kebaikan. Bahkan syiar-syiar keagamaan dan kelangsungan ibadah dilindungi oleh adanya aturan (pembelaan) tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لهدمت صوامع وبيع وصلوات ومساجد يذكر فيها اسم الله كثيرا  ولينصرن الله من ينصره إن الله لقوي عزيز

“Dan sekiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menolak keganasan suatu kaum terhadap kaum yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang-orang Yahudi dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.  Dan Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar Maha Kuat lagi Maha Kuasa.” (QS Al-Haj: 40)

Dan hukum  ini (yakni aturan pembelaan/daf’u) atau dengan kata lain aljihad  telah banyak dibahas dalam kitabullah. Karena sesuatu yang dikatakan Alhaq itu, haruslah ada padanya kekuatan yang dapat melindunginya. Kenyataan menunjukkan banyak kebenaran (Alhaq) yang jatuh derajatnya karena rendahnya kedudukan orang-orang yang berpegang padanya dan sebaliknya berapa banyak kebatilan yang tinggi derajatnya karena adanya pembela dan orang-orang yang bersedia berkorban untuknya.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Jelaslah, bahwa umat Islam dimana pun mereka berada, baik yang di Timur maupun di Barat, Utara dan Selatan, berkewajiban untuk membela hak-hak saudaranya dan membebaskan negeri-negeri mereka dari penjajahan musuh-musuh mereka.

Wahai kaum muslimin, di manakah sosok seorang pemimpin muslim seperti Khalifah Al-Muktasim hari ini? Di saat seorang wanita muslimah pada tahun 223 H disandera oleh tentara Romawi Timur dibawah kepemimpinan Tufail bin Michael, wanita ini menjerit dengan nada pilu, “Duhai Muktasim…Duhai Muktasim!

Detik itu juga, Khalifah Al-Muktasim beranjak dari singgasananya dan mengumumkan mobilsasi umum. Kaum muslimin berbondong-bondong datang, mengalir dari seluruh negeri Islam. Setelah semua pasukan siap dengan senjatanya, sang Khalifah pun bersiap. Dengan tekad yang bulat Sang Khalifah berseru, “Tawanan harus berhasil dibebaskan, nyawa kaum muslimin harus dibayar.”

Genderang perang ditabuh, tak ayal lagi pertempurang berkecamuk dengan dahsyat, seluruh kaum muslimin berjuang dengan gagah berani. Tanggal 6 Ramadhan 223 H, dengan pekik Takbir seluruh tentara Islam yang membahana, Kota Amuriyah, negeri Romawi yang paling kuat, sejak Islam lahir, negeri itu belum pernah dijamah oleh kaum muslimin, akhirnya jatuh ke tangan kaum muslimin, dan seluruh tawanan berhasil dibebaskan.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan dalam pandangan Allah bila dibandingkan dengan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak (alasan yang benar).”[6]

Orang yang dalam hatinya masih bersemayam keimanan tentulah akan bergejolak marah melihat saudara-saudaranya dibantai bak anjing kurap. Fitrah dan nalurinya akan mendorong untuk berbuat dan bersikap, demi menolong saudaranya.

Bagi seorang muslim, bukan sekedar fitrah saja yang menuntutnya untuk bersikap gesit dan tegas dalam menolong saudaranya seiman yang tertindas. Al-Qur’an, As-Sunnah. Dan ukhuwah imaniyah menuntutnya untuk berkorban apa saja, demi keselamatan dan harga diri saudaranya.

Setiap rupiah yang diinfakkan, setiap tetesan keringat dan darah yang dicurahkan akan dicatat sebagai pengorbanan demi harga diri dan kehormatan. Tiada kemuliaan bagi kaum yang tidak mau berkorban demi kehormatannya.

Rasulullah bersabda,

“Barangsiapa terbunuh karena membela hartanya berarti syahid, barangsiapa terbunuh karena membela nyawanya berarti syahid, barangsiapa terbunuh karena membela agamanya berarti syahid, dan barangsiapa yang terbunuh karena membela keluarganya berarti syahid.”[7]

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah

Iman macam apakah yang masih bersemayam dalam hati seseorang yang diam diri dan acuh tak acuh dengan kondisi saudaranya yang disembelih musuh? Sesungguhnya kadar keimanan seseorang bisa diukur dari seberapa kecintaannya kepada saudaranya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim, no. 45)

Para ulama telah memfatwakan, jika ada seorang muslimah yang ditawan oleh musuh, maka seluruh umat Islam wajib membebaskannya. (Hasyiah Ibnu Abidin, IV/126)

Para ulama juga telah bersepakat ketika musuh menyerang suatu negeri Islam, maka jihad menjadi fardhu ‘ain bagi penduduk negeri itu. Bila penduduk negeri itu tidak mampu mengusir musuh atau mereka tidak berjuang dengan maksimal dan melalaikan kewajiban mengusir musuh, maka negeri-negeri di sekitar wajib membantu.

Bila negeri-negeri sekitar tetap belum mampu mengusir musuh atau mereka melalaikan masalah ini, maka kewajiban jihad meluas ke negeri-negeri kaum muslimin yang lebih jauh. Begitu seterusnya sampai akhirnya seluruh kaum muslimin di seluruh dunia wajib membebaskan negeri kaum muslimin tersebut dari cengkraman musuh. (Ad-Difa’ ‘An Aradhil Muslimin, DR. Abdullah Azzam)

Inilah kondisi dan hukum yang berlaku atas kaum muslimin hari ini, di Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya yang dikuasai musuh.

Masihkah kita akan diam membiarkan saudara-saudara kita dibantai oleh tangan-tangan kaum kafir yang berlumuran dosa? Apa jawaban kita kelak di akhirat, ketika ditanya oleh Allah, “Apa yang kau lakukan untuk membela saudaramu yang tertindas?”

Jika Anda, kita, dan segenap kaum muslimin tidak bergerak, siapa lagi yang akan membantu dan memperjuangkan nasib mereka? Masihkah kita memimpikan kemuliaan, pertolongan, dan kemenangan dari Allah tanpa perjuangan?

Semoga para hari raya Idul Fitri 1435 H ini, Allah membuka hati kita, sehingga kita berupaya untuk membebaskan saudara-saudara kita yang tertindas sesuai dengan kemampuan kita. Wallahu A’lam bish Shawab.

Marilah kita tutup khutbah Idul Fitri 1435 H pada pagi hari ini dengan berdoa kepada Allah.

لا إله إلا الله الحليم الكريم . لا إله إلا الله العلي العظيم. لا إله إلا الله رب السماوات السبع ورب العرش الكريم.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحيآء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات فيا قاضي الحاجات

اللهم إنا نعوذ بك أن نشرك بك ونحن نعلم ، ونستغفرك لما لا نعلم (ثلاث مرات).

اللهم ربنا اغفر لنا خطايانا وجهلنا وإسرافنا في أمرنا، وما أنت أعلم به منا، اللهم اغفر لنا جدنا وهزلنا، وخطأنا وعمدنا، وكل ذلك عندنا، اللهم اغفر لنا ما قدمنا، وما أخرنا، وما أسررنا، وما أعلنا، وما أنت أعلم به منا، أنت المقدم وأنت المؤخر وأنت على كل شيء قدير.

اللهم أعنا على شكرك، وذكرك ، وحسن عبادتك.    اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا (ثلاثا)

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه    ربنا عليك توكلنا وإليك أنبنا وإليك المصير

ربنا لاتزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

ربنا إننا سمعنا مناديا ينادي للإيمان أن آمنوا بربكم  فآمنا، ربنا فاغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سيآتنا وتوفنا مع الأبرار

اللهم أبرم لهذا الأمة أمر رشد يعزّ فيه أهل الطاعة ويذل فيه أهل المعصية ويؤمر فيه بالمعروف وينهى فيه عن المنكر.

اللهم انصر إخواننا المجاهدين والدعاة المخلصين من شر كيد أعدآئنا أجمعين، واجعلنا منهم ياكريم ياحليم، اللهم سدد رأيهم ورميهم واجمع كلماتهم على الحق والهدى، وعجل لمأسوريهم ومبتلاهم ومكروبيهم بالتفريج ياأرحم الراحمين

اللهم آت نفوسنا تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت مليكها ومولاها

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين…


[1] (QS. Ibrahim: 7)

[2]  (HR. Al-Bukhari, no. 1901)

[3] (Shahih At-Targhib wat Tarhib, no. 996)

[4] (HR. Al-Bukhari, no. 6938).

[5] Hadits Hasan. Diriwayatkan dari Ibnu Umar oleh Ahmad, Musnad, 2:50, 92.

[6] HR. At-Tirmidzi, no. 1395.

[7] HR. Abu Dawud, no. 4772.

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Menyongsong Jihad Membebaskan Negeri-negeri Kaum Muslimin | Teks Khutbah Idul Fitri 1435 H"