Menghidupkan Sunnah Di Zaman Fitnah

No comment 357 views

Sunnah adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam baik berupa perkataan, perbuatan atau penetapan. Contoh sunnah yang berupa perkataan adalah hadits-hadits yang disampaikan oleh beliau dalam sabdanya. Sunnah berupa perbuatan misalnya, memanjangkan jenggot dan memotong kumis, merapatkan shaf shalat, menggunakan celana atau kain di atas mata kaki dan perbuatan-perbuatan yang dikerjakan nabi dalam hidup-Nya. Adapun sunnah yang berupa penetapan nabi, seperti tidak wajibnya berwudlu bagi orang yang sudah bertayamum ketika mendapatkan air.

Seribu tahun lalu Rasulullah telah menyampaikan kepada umatnya agar selalu menapaki sunnah-sunnah beliau, “Maka wajib atasmu memegang teguh akan sunnahku (cara yang telah aku lakukan)”. HR. Abu Daud dan Tirmidzi

Sebagai seorang muslim yang baik, tentunya kita tidak hanya mencukupkan amalan keseharian hanya pada hal-hal yang diwajibkan dalam syari’at Islam. Namun, kita juga berusaha melaksanakan amalan-amalan sunnah yang dicontohkan Rasulullah. Bahkan, lebih baik lagi jika kita memiliki salah satu amalan sunnah yang diunggulkan dalam keseharian.

Teladan Salaf

Contoh orang yang paling teguh dalam melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah adalah sahabat Abdullah bin Umar. Beliau berusaha mencontoh segala sesuatunya dari kehidupan Rasulullah, bahkan saking teguhnya dalam berpegang dan melaksanakan sunnah beliau, sampai meyampaikan hadits di tempat sebagaimana Rasulullah menyampaikannya.

Masih banyak lagi teladan dari kalangan salaf -baik generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in- yang mereka berpegang teguh dalam menjalankan sunnah nabi; Mereka mencintai sunnah-sunnah Rasulullah.

Menghidupkan sunnah di zaman fitnah

Abdullah bin Umar merupakan anak dari sahabat mulia Umar bin Khathab. Ialah al-Faruq; sang pembeda antara yang hak dengan yang batil. Beliau merupakan sebuah benteng dari fitnah-fitnah yang akan menimpa kaum muslimin, maka ketika benteng tersebut roboh, fitnah akan menyebar di tengah umat.

Maka benarlah, ketika Umar bin Khathab syahid dibunuh oleh seorang majusi yang bernama Abu Lu’Lu’ah (orang yang kuburannya diagungkan dalam ajaran Syi’ah), fitnah menggelundung bak bola api di tengah umat yang sulit untuk dibendung. Puncak dari fitnah tersebut ialah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Terjadinya perselisihan antara kaum muslimin, munculnya kelompok sesat, pudarnya sunnah-sunnah Rasulullah, dan berbagai kerusakan yang muncul baik kerusakan dunia ataupun din (agama). Itu semua adalah bukti akan fitnah yang menimpa kaum muslimin.

Jika kita melihat realita hari ini, dunia yang semakin maju tidak hanya membawa efek positif, namun efek negatif juga tidak kalah maju. Amalan-amalan sunnah yang dahulu dikerjakan oleh Rasulullah, sahabat dan para salafussholih mulai pudar dan bahkan terlupakan.

Hari ini banyak orang bangun malam atau begadang untuk menonton bola atau acara-acara televisi lain yang tidak bermanfaat, padahal dahulu salaf umat ini bangun malam untuk bermunajat kedapa Rabbnya, meminta ampun atas dosa yang diperbuaat. HP banyak di tangan daripada Al-Qur’an; shalat ditinggalkan demi menonton acara kesayangan; dan amalan sunnah lain yang kian hari terlupakan seiring berkembangnya zaman.

Akan tetapi dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyampaikan bahwa kelak akan ada suatu zaman di mana pada zaman tersebut orang yang berusaha berpegang teguh terhadap agama dan sunnah Rasulullah dianggap orang yang asing. Rasulullah juga mengibaratkan orang yang berpegang teguh terhadap agama dan sunnah beliau seperti orang yang menggenggam bara api. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api’”. HR. Tirmidzi

Kalau kita bayangkan bara api yang sangat panas digenggam tangan pasti akan meyebabkan tangan tersebut paling tidak melepuh. Begitu juga keadaan orang yang berusaha berpegang teguh pada apa yang dibawa Rasulullah, ia akan mendapat celaan bahkan siksaan.

Ketika orang berjenggot dianggap goblok; orang tidak isbal (memakai kain di atas mata kaki) dianggap kurang kain atau kebanjiran; lebih baik tidak merapatkan shaf agar iblis ikut shalat; dan amalan-amalan yang dicontohkan Rasulullah menjadi hal yang tabu di tengah umat. Orang yang berusaha mengamalkan agamanya sesuai tuntunan nabinya dihina, dicela, bahkan tak jarang disiksa.

Keberuntungan bagi yang mengamalkan sunnah

Seorang muslim yang berusaha mengamalkan sunnah di tengah zaman di mana fitnah tersebar luas terlebih di zaman kita; zaman dimana kerusakan hampir di setiap lini kehidupan; tak kenal orang kaya atau miskin; orang berpendidikan atau rakyat jelata; pejabat atau masyarakat biasa. Orang yang berpegang teguh pada sunnah nabinya; menjalankan keyakinan sesuai perintah-Nya, terasa asing di mata sebagian orang yang mengaku Islam.

Akan tetapi, keasingan ia di mata orang justru dikabarkan oleh Rasulullah sebagai keberuntungan. Karena, walaupun dalam keadaan yang susah, ia tetap teguh dalam melaksanakan sunnah Rasulullah tidak hanya dalam keadaan lapang saja. Sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء

Artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing’”. HR. Muslim

Maka sungguh beruntung bagi orang yang tetap mengamalkan sunnah, meski ia difitnah; meski ia asing ditengah ‘bisingnya’ dunia, karena Rasulullah telah mengabarkan akan fenomena demikian. Kabar yang datang dari Rasulullah tidak akan pernah salah. Di dunia mungkin terasing, tapi di akhirat, ia akan menjadi orang yang beruntung.

Selain mendapat kabar keberuntungan dari Rasulullah. Melaksanakan sunnah Rasulullah dan syari’at Islam merupakan usaha dari hifzhu ad-Din (menjaga agama). Menjaga agama merupakan salah satu tujuan syari’at Islam dan dengan mengamalkan sunnah dan syari’at akan mendatangkan maslahat (kebaikan) dan mencegah mafsadat (keburukan) bagi hamba baik di dunia atau akhirat.

Menjalankan sunnah Rasulullah juga merupakan bentuk ungkapan rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya, sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an surat Ali Imran: 31, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Mengikuti sunnah Rasulullah selain sebagai bentuk cinta kepada Allah, juga mendatangkan ampunan dari Allah dan Allah juga akan mencintai hamba-Nya yang mencintai-Nya. Maka ketika Allah mencintai hamba-Nya, hamba-hamba Allah yang ada dilangitpun ikut mencintainya.

 

[Humam/Majalah An-Nuur vol. 47]

author
No Response

Leave a reply "Menghidupkan Sunnah Di Zaman Fitnah"