Mendulang Hikmah dalam Syari'at Udlhiyah

3 comments 667 views

Oleh: Firmansyah

Apa yang terbersit dalam benak anda ketika mendengar “udlhiyah? Mungkin kata ini masih asing di telinga sebagian kita. Sebab, memang kita belum terbiasa menggunakan kata tersebut dalam keseharian. Berbeda ketika disebutkan kata hewan qurban. Benak kita langsung terbayang penyembelihan hewan setelah shalat id Adha.

Sebenarnya kata udlhiyah memiliki makna hewan qurban. Dus, syariat udlhiyah adalah penyembelihan hewan qurban yang dilakukan setiap tanggal 10 Dzhulhijjah. Syariat yang selayaknya dilaksanakan setiap muslim yang memiliki kelapangan rejeki.

Hal ini dikarenakan, pada hari itu tidak ada amal yang lebih baik kecuali menyembelih. Sebagaimana disabdakan oleh rasulullah saw:

“Tak ada amalan yang paling dicintai oleh Allah pada hari Idul Adha daripada memotong hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan hadir pada hari kiamat (sebagai bukti amal pelakunya) lengkap dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya qurban tersebut akan sampai di sisi Allah sebelum darahnya menyentuh bumi.”

Mencoba menelisik lebih jauh lagi, akan kita dapati bahwa syariat udlhiyah merupakan syariat sejak masa nabi Ibrahim. Lebih tepatnya ketika beliau diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya sendiri lewat mimpi. Sebagaimana firman Allah:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S. Ash Shoffat: 102)

Dalam tafsir Ath Thobari dikisahkan ketika nabi Ibrahim mendapatkan perintah tersebut, beliau bertanya kepada putranya Ishaq. Ishaq pun menjawab “Wahai ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Kemudian berkata: wahai ayahku, kencangkanlah ikatanku sehingga aku tidak dapat bergerak. Dan jagalah bajumu dari tubuhku sehingga tidak terkena percikan darahku sebab apabila Ibunda Sarah melihatnya maka dia akan sedih. Dan percepatlah pisaumu ketika menyembelihku sehingga mempermudah kematianku. Apabila engkau bertemu dengan Ibunda Sarah maka sampaikan salam dariku. Maka Ibrahim menghadap Ishaq dan menciumnya dalam keadaan terikat dan menangis. Ishaq pun juga menangis. Sehingga air mata pun jatuh ke pipi Ishaq. Maka Ibrahim pun menarik pisau untuk menyembelih Ishaq. Tatkala keduanya telah berserah diri, Allah menyeru nabi Ibrahim dan berfirman: “Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”. Maka Allah pun menggantinya dengan sembelihan yang besar”.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa mimpi nabi merupakan wahyu baginya. Karenanya, setelah mendapatkan mimpi selama tiga hari berturut-turut beliaupun berniat melaksanakannya. Dan para ahli tafsir berbeda pendapat siapakah yang disembelih dalam mimpi nabi Ibrahim tersebut.

Terlepas dari perselisihan siapakah yang disembelih antara Nabi Ishaq ataukah nabi Ismail, banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil dari kisah tersebut. Bagaimana seorang ayah sekaligus seorang nabi yang diuji untuk menyembelih putranya sendiri. Bagaimana beliau yang diuji dengan tidak memiliki putra sampai usia senja.

Putra yang sekian lama ditunggu-tunggu kelahirannya. Namun setelah mendapatkan putra dengan penantian sekian panjang dan putranya sudah memasuki usia yang dapat diajak bekerja, beliau diperintahkan untuk menyembelihnya. Sebuah ujian yang tentu tidak akan mudah dilakukan kecuali oleh yang dikehendaki Allah SWT.

Setidaknya ada beberapa hikmah yang dapat dijadikan renungan dan intorpeksi bagi diri kita.

[1] Keteguhan Iman Nabi Ibrahim

Sebagai seorang ayah, tentu beliau memiliki rasa cinta yang begitu mendalam terhadap putranya. Bahkan beliau sangat bersyukur telah dikarunia Ismail dan Ishaq. Namun kecintaan dan rasa syukur tersebut tidak menghalanginya untuk menghindar atau meninggalkan perintah tersebut.

Beliau tetap teguh dengan keimanannya. Maka tidak salah apabila keteguhan iman Nabi Ibrahim untuk menjalankan perintah yang diberikan Allah SWT merupakan contoh kepatuhan yang luar biasa. Bagaimana Nabi Ibrahim mendahulukan titah ilahi yang diwahyukan kepadanya daripada kecintaanya kepada putra beliau.

Beliau telah membenarkan perintah Allah untuk menyembelih anaknya. Pun, beliau tidak pernah mempersoalkan perintah yang nampak tidak masuk akal itu dan tidak pernah meragukannya. Beliau lebih mendahulukan perintah Allah daripada memikirkan akalnya.

Maka, sebagai gantinya, Allah menyelamatkan putra beliau dan mengabadikan kisah tersebut dalam al-Qur’an agar dapat dijadikan pelajaran bagi umat yang datang kemudian.

Teladan yang lain dari Nabi Ibrahim tidak hanya dalam melaksanakan perintah Allah tetapi juga dalam kebijaksanaannya menyampaikan perintah itu kepada anaknya yg sangat dicintainya. Beliau tidak langsung mengambilnya tiba-tiba dan tidak pula mencari kelengahannya. Tetapi, perintah Allah tersebut disampaikannya dengan transparan dan dialog serta penuh argumentasi Ilahiah.

[2] Kesediaan seorang anak dalam mengejawantahkan perintah Rabbnya

Hikmah kedua yang dapat diambil adalah kesediaan seorang anak dalam melaksanakan perintah Allah, walaupun hal tersebut berkaitan dengan hidupnya. Bagaimana seorang anak mematuhi perintah Rabbnya yang diwahyukan melalui mimpi dan lesan ayahandanya.

Bagaimana seorang anak yang beranjak usia remaja dan karena panggilan iman dia rela mengorbankan nyawanya karena Allah. Hal ini sebagaimana dikisahkan ketika nabi Ibrahim menyampaikan kepadanya perintah Allah untuk menyembelihnya, putranya pun menjawab (QS 37: 102): Ya abatif’al ma tu’maru satajiduni insya Allahu minashshabirin. (”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.) Subhanallah, andaikan perintah itu disampaikan kepada anak muda jaman sekarang mungkin ayahnya sudah dituduh gila.

Putra beliau adalah anak yang patuh dan mengerti kedudukan orang tuanya dan posisinya sebagai anak. Ia tidak membangkang dan tidak bimbang. Justru putra beliau memberikan jawaban yg memancarkan keimanan, tawaddu, dan tawakkal kepada Allah.

Hanya orang-orang yang mempunyai keimanan dengan landasan tauhid yang kuat yang rela mengorbankan nyawanya karena Allah. Sikap seperti inilah yang mestinya diteladani oleh setiap orang beriman.

Selain hikmah yang terkandung dalam syariat udlhiyah di atas, terdapat pelajaran lain yang dapat kita ambil dari ibadah udlhiyah ini.

[1] Secara Vertical (حَبْلٌ مِّنَ اللهِ/ hablumminallah)

Secara vertical berarti ini menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah atas semua nikmat yang telah diberikan kepada kita. Serta melahirkan kesadaran bahwa semua nikmat itu merupakan karunia Allah. Selain itu, ibadah udlhiyah dapat menjadi tolok ukur ketakwaan dan keimanan seseorang.

Semakin tinggi ketakwaan seseorang, maka semakin mudah dan semakin besar keinginannya untuk melaksanakan syariat udlhiyah. Begitu pula kebalikannya, semakin rendah keimanan seseorang, maka semakin enggan dirinya untuk mengeluarkan hartanya dalam rangka melaksanakan syariat udlhiyah.

[2] Secara Horizontal (حَبْلٌ مِّنَ النَّاسِ / hablumminannas)

Ditinjau dari segi horizontal maka kita akan melihat sisi hablumminannas. Bagaimana syariat udlhiyah mengajarkan kita agar memelihara rasa solidaritas dan sosial dengan orang-orang di sekitar kita.

Ketika seseorang menyembelih hewan qurban, maka tidak semuanya akan dimakan sendiri. Akan tetapi sebagian dagingnya bagi diri dan keluarganya sedangkan yang lainnya akan dibagi.

Ikhtitam

Begitu banyak hikmah dan pelajaran dalam syariat udlhiyah, tentunya sebagai seorang muslim harus memiliki semangat yang tinggi dalam melaksanakan syariat ini. Bahkan untuk menghasung umatnya dalam ber-udlhiyah rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

 “Barang siapa yang memiliki kemampuan, namun tidak mau berkurban, maka janganlah sekali-kali mendekati tempat shalat kami (lapangan shalat ‘Iid).” (Hadits hasan, Shahih Ibnu Majah 3114)

Begitu kerasnya peringatan rasulullah SAW, tidak lain dan tidak bukan kecuali untuk menyadarkan mereka yang memiliki kelapangan namun enggan melaksanakan syariat ini.

Lantas, bagaimana yang tidak memiliki kemampuan? Bagi yang belum mampu melaksanakan udlhiyah, hendaknya mulai sekarang menancapkan niat untuk ber-udlhiyah tahun dengan dengan disertai usaha keras dengan menabung sedikit demi sedikit. Semoga dengan niat ikhlas disertai usaha keras, Allah mengabulkan niatan kita. Bukan tidak mungkin mimpi hari ini menjadi kenyataan esok hari. Wallahu a’lam bish showab.

Sumber: oaseimani.com

author
3 Responses
  1. author

    siswantoro6 years ago

    Assalamualaikum.

    Mohon maaf anak nabi Ibrahim yang menjadi qurban sepertinya tidak Ishaq.
    Terima kasih. Salam kenal.

    Wassalam

    Reply
    • author

      firmansyah6 years ago

      wa’alaikumsalam. salam kenal balik..
      jazakumullah atas comentnya.
      dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang hal tersebut dengan argumentasi masing-masing. untuk lengkapnya silahkan dibuka buku-buku tafsir.

      Reply
  2. author

    abu farros6 years ago

    tanya ?
    bagaimanakah cara potong rambut kepala yang sesuai syar’i ? apakah boleh dengan berbagai macam model? bolehkan mencukur bulu-bulu kecil di sekitar kepala ? juga dalil-dalilnya /
    jazakumulloh

    Reply

Leave a reply "Mendulang Hikmah dalam Syari'at Udlhiyah"