Khutbah Iedul Fithri 1436 H | MUSIBAH TERBESAR; HILANGNYA KEPEKAAN UMAT TERHADAP BENTUK KESESATAN DAN KEMUNGKARAN

MUSIBAH TERBESAR; HILANGNYA KEPEKAAN UMAT TERHADAP BENTUK KESESATAN DAN KEMUNGKARAN
Oleh: Tengku Azhar, S.Sos.I

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً.
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ {البقرة: 102}.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {النساء:1}.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا {70} يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. {الأحزاب: 70-71}
أما بعد:
فإن أحسن الحديث كلام الله و خير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثةٍ بدعة وكل بدعةٍ ضلالة وكل ضلالةٍ في النار.
Maasyiral muslimin rahimakumullah
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Di pagi hari yang cerah dan penuh barokah ini, kita wajib bersyukur sebesar-besarnya ke hadirat Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya lah kita dapat menunaikan kewajiban shaum Ramadhan, lalu menyempurnakannya dengan Shalat Idul Fitri dalam suasana ceria dan gembira. Nikmat yang telah kita terima adalah nikmat yang tiada dua, barang siapa yang mensyukurinya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan menambah nikmat tersebut, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk barokah. sedang siapa yang mengingkarinya, maka ia berada di bawah ancaman Sang Maha Perkasa. Sebagaimana firman-Nya:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan(ingatlah) ketika Tuhan kalian mengumumkan: jikalau kalian bersyukur, niscaya Ku tambah (nikmat-Ku), namun jikalau kalian ingkar (terhadap nikmat,) ketahuilah bahwa adzab-Ku adalah adzab yang amat pedih.”
Oleh sebab itu, pada pagi hari yang mulia ini, kita memohon dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala empat hal;
Pertama, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ مَا تَقَدَّمَ بِذَنْبِهِ
“Barangsiapa puasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala Alloh Swt, niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.”
Dan amat rugi orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wal’iyadzu billah.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa malaikat Jibril ‘Alaihissalam pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seraya berkata, “Wahai Muhammad, barangsiapa yang berjumpa dengan bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosa-dosanya oleh Allah, maka akan dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya(.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengaminkan doa tersebut.
Kedua, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kiranya Dia menerima amal ibadah shaum kita satu bulan yang lalu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Shaum adalah milik-Ku, dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya. Tatkala shaum seorang hamba meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena-Ku. Shaum adalah perisai(dari perbuatan maksiat). Dan bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan; kebahagiaan di saat berbuka dan kebahagiaan di saat bersua dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala daripada kasturi.”
Ketiga, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kiranya Dia mengkaruniakan pada kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun mendatang. Karena Ramadhan adalah kesempatan emas bagi seorang mukmin untuk mempersiapkan dirinya sebagai insan yang bertaqwa.
Keempat, kita berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kiranya Dia menjadikan kita semua tergolong dari golongan hamba-hambaNya yang bertaqwa, serta mengilhamkan pada kita istiqamah dan konsisten dalam bertaqwa selama kita berada didunia. Amiin.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Ketahuilah, bahwa keadaan ummat Islam pada pagi hari ini terbagi kepada tiga golongan;
Pertama: golongan yang tetap berada di atas kebaikan dan taat, maka tatkala bulan Ramadhan tiba, mereka menyingsingkan lengan baju mereka, melipat gandakan kesungguhan mereka, dan menjadikan Ramadhan sebagai ghanimah Rabbaniyah (harta rampasan perang karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemberian ilahiyah, memperbanyak kebaikan, menyongsong rahmat, menyusul yang terlewati, semoga ia mendapatkan anugerah. Maka tidaklah Ramadhan berlalu kecuali mereka telah memperoleh bekal yang besar, kedudukan mereka menjadi tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, kedudukan mereka bertambah tinggi di surga dan semakin jauh dari neraka.
Mereka menyadari bahwa tidak ada acara santai bagi mereka kecuali di bahwa pohon thuba (surga), maka mereka mengerahkan jiwa ini di dalam taat.
Mereka menyadari  sesungguhnya amal shalih tidak hanya terbatas di bulan Ramadhan, maka kamu tidak melihat mereka kecuali puasa satu tahun. Mereka selalu puasa enam hari di bulan Syawal, puasa hari Kamis dan Senin serta pada hari-hari putih. Air mata selalu membasahi pipi mereka di tengah malam, dan di waktu sahur istighfar mereka melebihi orang-orang yang penuh dosa. Mereka hidup di antara rasa khauf (khawatir/takut) dan raja` (mengharap), dan kondisi mereka adalah seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala :
والَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آتوا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ
(Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka …dan hati mereka selalu merasa takut bahwa mereka akan kembali kepada Rabb-mereka).
Dan di dalam As-Sunan, dari Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca ayat ini, lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka orang-orang yang mencuri, berzinah, meminum arak, dan mereka takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ يَابْنَةَ الصَّدِّيْقِ ، وَلكِنَّهُمْ قَوْمٌ يُصَلُّوْنَ وَيَصُوْمُوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَيَخَافُوْنَ أَنْ يَرُدَّ اللهُ عَلَيْهِمْ ذلِكَ
‘Tidak wahai putri ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang selalu puasa, shalat, bersedakah, dan merasa takut Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima semua itu.’
Merekalah orang-orang yang diterima. Merekalah orang-orang yang terdahulu (Sabiquun). Merekalah orang-orang yang memerdekakan jiwa mereka dan putih catatan amal ibadah mereka. Maka sangatlah beruntung, kemudian sangat beruntung bagi mereka.
Kedua: Golongan yang sebelum Ramadhan berada dalam kelalaian, lupa, dan bermain. Maka tatkala tiba bulan Ramadhan, mereka tekun beribadah, puasa dan shalat, membaca Al-Qur`an, bersedekah, air mata mereka berlinang, dan hati mereka khusyu’, akan tetapi setelah Ramadhan berlalu mereka kembali seperti semula, kembali kepada kelupaan mereka, kembali kepada dosa mereka.
Maka kita katakan kepada mereka:
Barangsiapa yang menyembah Ramadhan maka Ramadhan telah mati dan barangsiapa yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Hidup dan tidak pernah mati. Sesungguhnya Yang menyuruhmu beribadah di bulan Ramadhan Dia-lah yang menyuruhmu beribadah di luar bulan Ramadhan.
Ketiga: Golongan yang datang dan perginya Ramadhan, kondisi mereka sama seperti keadaan mereka sebelumnya. Tidak ada sesuatu pun yang berubah dari mereka. Tidak ada perkara yang berganti. Bahkan, kemungkinan dosa mereka bertambah, kesalahan mereka menjadi lebih besar, catatan amal mereka bertambah hitam, dan leher mereka bertambah menyala ke neraka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar merugi.  Mereka hidup seperti kehidupan binatang. Mereka tidak mengenal untuk apa mereka diciptakan, terlebih-lebih mengenal kebesaran dan kehormatan Ramadhan. Sungguh, aku mendengar –demi Allah- salah seorang dari mereka bersenang-senang dan terang-terangan tidak puasa di siang hari bulan Ramadhan. Untuk golongan seperti ini tidak ada daya kecuali mendoakan mereka agar bertaubat yang nashuh, taubat yang tulus, dan barangsiapa yang bertaubat niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Ketahuilah bahwa di antara musibah terbesar yang menimpa ummat ini adalah, hilangnya kepekaan mereka terhadap bentuk kemungkaran dan kesesatan. Mereka sudah tidak lagi peduli dengan banyaknya bermunculan aliran-aliran sesat yang merusak aqidah ummat dan menjerumuskan mereka ke dalam kubang kesesatan dan kekufuran.
Mereka tidak lagi peduli dengan banyaknya bertebaran kemaksiatan dan kemungkaran di sekeliling mereka, bahkan kemunkaran dan kemaksiatan tersebut telah masuk ke rumah-rumah mereka bahkwan mungkin ke dalam kamar-kamar mereka. Wal’iyadzubillah
Mereka tidak lagi risau dengan dimurtadkannya kaum muslimin satu persatu oleh para misionasi kristen dan lainnya.
Mereka tidak lagi peduli dengan nasib ratusan ribu kaum muslimin yang dibantai oleh orang-orang kafir di negeri mereka, dan jutaan kaum muslimin lainnya terlunta-lunta di kamp-kamp pengungsian.
Bahkan yang lebih ironis lagi, sebagian ummat ini justru mengganggap dengan banyaknya bermunculan tempat-tempat maksiat membawa keberkahan tersendiri bagi mereka. Mereka inilah orang-orang yang disebut oleh para ulama dengan manusia yang tidak lagi mengenal mana yang makruf, dan tidak lagi mengingkari kemungkaran.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Demi Allah, jika musibah ini terus menerus menimpa ummat ini, maka tanda-tanda kehancuran ummat ini dan negeri ini telah dekat.
Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menemui istrinya yang tercinta, Zainab bin Jahsy –radhiyallahu ‘anha- dalam keadaan kaget dan berkata;
لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ اليَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ
“Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, celakalah orang Arab dari keburukan yang sudah dekat, telah dibuka hari ini dinding yang mengurung Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melingkarkan ibu jarinya dengan telunjuk.
Zainab lantas bertanya: Ya Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal diantara kami masih ada orang-orang yang shalih?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ
“Iya, jika keburukan (maksiat) sudah banyak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kepekaan ini telah hilang dari diri kaum muslimin, mengapa kepedulian ini telah sirna dari dada-dada mereka, padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan kepada kita untuk mengingkari setiap kemungkaran dan kesesatan dengan tangan kita, jika tidak mampu maka dengan lisan kita, dan jika tidak mampu maka dengan hati kita.
Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan kita untuk menolong saudara-saudara kita yang terzhalimi? Bukankah Rasulullah telah mengumpakan bahwa kaum muslimin itu bagaikan satu tubuh, yang apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya juga ikut merasakan sakit dan menderita?
Dan juga sabda Rasulullah: Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisiNya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya. (HR. Muslim No. 2699)

Para ulama menjelaskan sebab-sebab terjadinya musibah besar ini pada kaum muslimin;
Pertama; kaum muslimin telah banyak memakan makanan (meminum minuman) yang haram baik karena zatnya yang haram maupun cara mendapatkanya dengan cara haram.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Ketahuilah, cepat atau lambat makanan dan minuman haram yang masuk ke dalam perut kita akan menjadikan kita orang-orang yang tidak lagi peduli dan peka terhadap segala penyimpangan dan kemaksiatan. Karena makanan dan minuman haram tersebut akan menjadikan hati sakit bahkan mati. Wal’iyadzubillah…
Karenanya, kita dapatkan para Nabi dan Rasul, dan para ulama salaf dari umat ini mereka adalah orang-orang wara’, yang senantiasa menjaga perut mereka dari kemasukan makanan dan minuman yang haram, bahkan ketika ada makanan haram itu masuk ke dalam perut mereka, seketika mereka berusaha untuk memuntahkannya, sekalipun nyawa taruhannya.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Makanan dan minuman halal adalah penerang jiwa dan hati, yang akan menjadikan kita orang-orang yang memiliki bashirah yang benar untuk bisa senantiasa peka terhadap segala penyimpangan dan kemungkaran.
Sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu- yang peka terhadap orang-orang yang menolak membayar zakat pada masanya, sekalipun mereka adalah orang-orang yang shalat, maka dengan tegas Khalifah Abu Bakar memvonis mereka adalah orang-orang murtad yang wajib diperangi. Ini karena Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa menjaga makanan dan minumannya.
Juga sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- peka terhadap penyimpang Khalifah Al-Makmun yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk Allah dan bukan Kalam Allah. Maka dengan tegas Imam Ahmad bin Hanbal menentangnya, sekalipun beliau akhirnya dipernjara oleh Al-Makmun. Ini karena Imam Ahmad bin Hanbal senantiasa menjaga makanan dan minumannya.
Kedua; Kaum muslimin telah banyak terjerumus ke dalam kubangan kemaksiatan dan kemungkaran.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda;
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ : كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”(HR. At Tirmidzi, no. 3334)
Kemaksiatan kepada Allah akan menjadikan hati menjadi sakit bahkan mungkin mati. Sehingga hati yang seperti ini tidak lagi mengenal yang makruf dan tidak lagi mengingkari kemungkaran, bahkan mungkin sebaliknya. Yang munkar mereka anggap sebagai makruf dan yang makruf mereka anggap sebagai kemungkaran. Wal’iyadzubillah..
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Menjauhi kemungkaran dan meninggalkannya adalah cahaya yang akan menerangi hati setiap mukmin sehingga Allah mengaruniakan kepada mereka hati yang senantiasa peka terhadap segala bentuk penyimpangan dan kemungkaran. Dan kemudian mereka berpaling darinya dan berlepas diri dari para pelakuanya.
Ma’asyiral Muslimin –rahimakumullah-
Semoga Ramadhan yang telah kita lalui menjadikan kita orang-orang yang senantiasa peka terhadap segala bentuk kesesatan dan kemungkaran, dan kemudian mengingatkan ummat dari semua penyimpangan dan kesesatan itu. Dan akhirnya semoga Allah menjauhkan kita dari adzab-Nya fid Dunya wal Akhirah. Wallahu A’lam bish Shawab.
Marilah kita tutup khutbah Idul Fitri 1436 H pada pagi hari ini dengan berdoa kepada Allah.
لا إله إلا الله الحليم الكريم . لا إله إلا الله العلي العظيم. لا إله إلا الله رب السماوات السبع ورب العرش الكريم.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحيآء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات فيا قاضي الحاجات
اللهم إنا نعوذ بك أن نشرك بك ونحن نعلم ، ونستغفرك لما لا نعلم (ثلاث مرات).
اللهم ربنا اغفر لنا خطايانا وجهلنا وإسرافنا في أمرنا، وما أنت أعلم به منا، اللهم اغفر لنا جدنا وهزلنا، وخطأنا وعمدنا، وكل ذلك عندنا، اللهم اغفر لنا ما قدمنا، وما أخرنا، وما أسررنا، وما أعلنا، وما أنت أعلم به منا، أنت المقدم وأنت المؤخر وأنت على كل شيء قدير.
اللهم أعنا على شكرك، وذكرك ، وحسن عبادتك. اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا (ثلاثا)
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
ربنا أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه، وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه ربنا عليك توكلنا وإليك أنبنا وإليك المصير
ربنا لاتزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
ربنا إننا سمعنا مناديا ينادي للإيمان أن آمنوا بربكم فآمنا، ربنا فاغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سيآتنا وتوفنا مع الأبرار
اللهم أبرم لهذا الأمة أمر رشد يعزّ فيه أهل الطاعة ويذل فيه أهل المعصية ويؤمر فيه بالمعروف وينهى فيه عن المنكر.
اللهم انصر إخواننا المجاهدين والدعاة المخلصين من شر كيد أعدآئنا أجمعين، واجعلنا منهم ياكريم ياحليم، اللهم سدد رأيهم ورميهم واجمع كلماتهم على الحق والهدى، وعجل لمأسوريهم ومبتلاهم ومكروبيهم بالتفريج ياأرحم الراحمين
اللهم آت نفوسنا تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت مليكها ومولاها
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين…

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Khutbah Iedul Fithri 1436 H | MUSIBAH TERBESAR; HILANGNYA KEPEKAAN UMAT TERHADAP BENTUK KESESATAN DAN KEMUNGKARAN"