Khutbah Idul Fitri – Memaknai Kembali Idul Fitri

Tidak ada komentar 9057 views

Memaknai Kembali Idul Fitri

oleh: Ilyas Mursito

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.

اللهُ أَكْبَرُ بِفَضْلِهِ، اَللهُ أَكْبَرُ بحِلْمِهِ وَعَفْوِهِ، اَللهُ أَكْبَرُ بِجُوْدِهِ وَكَرَمِهِ، اَللهُ أَكْبَرُ رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ، وَبَسَطَ الأَرْضَ بِغَيْرِ عَنَتٍ، وَسَخَّرِ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِلْعَمَلِ وَالسَّكَنِ، وَأَنْزَلَ الْغَيْثَ عَلَى عِبَادِهِ بِرَحْمَتِهِ، وَسَخَّرَ الأَفْلَاكَ دَائِرَةً بِحِكْمَتِهِ وَقُدْرَتِهِ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي اِمْتَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الِإسْلاَمِ، وَشَرَحَ صُدُوْرَنَا بِنُوْرِ الإِيْمَانِ، وَأَفَاضَ عَلَيْنَا بِآلاَئِهِ الْعِظَامِ حَيْثُ جَعَلَنَا مِنْ خَيْرِ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ، وَأَنْزَلَ عَلَيْنَا أَعْظَمَ كِتَابٍ وَأَحْكَمَهُ، وَيَسَّرَ لَنَا أَمْرَ طَاعَتِهِ، وَبَشَّرَ الْمُتَّقِيْنَ بِجَنَّتِهِ، وَحَذَّرَ الْمُعْرِضِيْنَ بِأَلِيْمِ عِقَابِهِ.

الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ ونَستَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أنفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أعْمَالِنا مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ ومن يُضْلِلْ فَلا هَادِي لَهُ، أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ِفي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

فَيَا أَيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ اَّلذِيْنَ رَضُوْا بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلِإسْلامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَا نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُؤْمِنُوْنَ اْلمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ عَزَّ مَنْ قَائِل :

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ  آل عمران: 102

 يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا  النساء: 1

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا`يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  الأحزاب: 70-71

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَالْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا أَلَا وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar 3x La ilaha illallah wallahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Allahu akbar dengan segala kemuliaan-Nya. Allahu akbar dengan segala kesantunan dan kasih sayang-Nya. Allahu akbar dengan derma dan pemberian-Nya. Allahu akbar yang meninggikan langit tanpa tiang, yang menggelar bumi tanpa lelah, yang menundukkan siang dan malam untuk bekerja dan istirahat, yang menurunkan hujan untuk hamba-Nya dengan cinta-Nya, dan mengendalikan planet beredar dengan hikmah dan ketentuan-Nya.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Mulai dari bersembunyinya sang mentari di senja kemarin hari, gema takbir bergema, mengiringinya bersembunyi dalam dekapan malam. Ratusan juta lisan mengagungkan nama Pemilik jagat raya dengan penuh syukur, terurai air mata keharuan dan kebahagiaan. Tak lelah bibir berzikir mengungkapkan rasa bahagia dan syukur itu.

Bulan penuh berkah yang meninggalkan kita mendidik kita menjadi manusia tangguh, hempasan dan tempaan lapar dan dahaga memastikan kita menjadi manusia mukmin, yang siap melakukan segalanya, untuk meraih cinta dan ridha Allah Azza wa Jalla. Dahaga terhadap tetesan air, akan mewariskan dahaga terhadap ampunan dan maghfirah-Nya. Layaknya kerinduan, yang akan selalu menghiasi diri, menanti kedatangan bulan Ramadhan yang penuh keberkahan.

Terkenang malam-malam kemarin, beratnya mata oleh deraan kantuk, tak menyurutkan untuk mengeja kalam suci-Nya. Saat sebagian mata tertutup oleh penatnya bekerja mengais rezki, ia berdiri, sujud, dan ruku’ hidupkan malam dan gairahkan suasana dengan hangatnya munajat yang senantiasa ditempa dan diasah. Semua dilakukan, karena cinta kepada Rabb yang memberi hidup dan menjaminnya. Maka, tak ada penat, lelah, dan kantuk yang menghambat langkahnya mengejar cinta-Nya.

Lapar yang melilit dan dahaga kerongkongan dilakukan, bukan karena kebencian, hukuman, bahkan kutukan dari Allah. Semua itu tak lain karena cinta kepada Rabb semesta Alam. Sebab dengannya, dua kebahagiaan sedang menanti; kebahagiaan saat mereguk hidangan berbuka dan saat mereguk nikmat Jannah dan bertemu dengan Allah di Jannah. Seperti yang diberitakan oleh Rasul yang mulia,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ ‏ 

Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan, jika ia berbuka ia berbahagia dan jika bertemu dengan Rabbnya ia berbahagia karena puasanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Meninggalkan bulan Ramadhan dan memasuki awal bulan syawal, menorehkan rasa tersendiri bagi setiap muslim. Ada rasa haru yang terpendam dalam tangis dan tawa. Ada haru yang tersimpan di balik keceriaan wajah dan kesedihan hati. Rasa itu ada, dan pasti ada bagi siapapun jua orangnya. Terlepas apakah dia termasuk diantara hamba Allah Subhanahu Wa ta’ala yang menghidupkan Ramadhan dengan ibadah atau kah termasuk diantara mereka yang setengah-setengah dalam menghidupkan Ramadhan, ataukah termasuk diantara mereka yang melalaikan Bulan Ramadhan dengan perkara-perkara yang jauh dari makna ibadah.

Sebagai seorang muslim, seyogyanya dan seharusnya, ridha Allah Ta’ala itulah yang menjadi tujuan dia dalam bertindak, berkata dan bertingkah laku. Termasuk dalam tangis dan tawa yang mengekspresikan keharuan meninggalkan bulan Ramadhan. Sebab keridhaan ini dijadikan oleh Allah Ta’ala nilainya lebih dari surga, sebagai tambahan atas karunia surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepada penghuni surga, “Wahai penghuni surga,” mereka berkata, “Kami memenuhi panggilan-Mu, kami mentaati-Mu”. Allah berkata, “Apakah kalian ridha (puas)?”, maka mereka berkata, “Kenapa kami tidak ridha (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari ciptaan-Mu”. Maka Allah berkata, “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?”. Mereka berkata, “Apakah yang lebih baik dari ini?”. Allah berkata, “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhaan-Ku, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jangan sampai karena bahagia yang dirasa, membuat diri larut dalam kemaksiatan, yang menjauhkan diri dari Ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai keharuan yang dirasa menjadikan diri larut dalam kesedihan, sehingga menyambut bulan Ramadhan dengan wajah yang muram, dengan berbagai faktor penyebab yang beraneka ragam.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Oleh sebab itu, perlu kiranya kita memaknai kembali keharuan dalam tangis dan tawa kita di hari Idul Fitri ini. Mari kita sejenak kembali mengenang sejarah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Tepatnya di akhir hayat beliau.

Pada akhir tahun 10 H, tampaklah beberapa tanda yang mengindikasikan bahwa ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dekat. Hal ini merupakan salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada kaum muslimin. Dengan tanda-tanda tersebut mereka bisa mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima suatu musibah berat yang akan menimpa mereka. Karena tidak ada musibah yang lebih berat, bagi para sahabat, melebihi musibah, ditinggal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara tanda-tanda tersebut, adalah ditaklukkannya Kota Mekah, masuk Islamnya tokoh-tokoh Bani Tsaqif di Thaif, kedatangan delegasi dan utusan negara-negara non-Islam menuju Madinah untuk memeluk Islam dan lain sebagainya. Ini beberapa tanda yang menunjukkan sudah dekatnya ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada tanggal 8 Dzul Hijjah 10 H, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju Mina. Beliau shalat zuhur, ashar, maghrib, dan isya di sana. Kemudian bermalam di Mina dan menunaikan shalat subuh juga di tempat itu. Setelah matahari terbit, beliau berangkat menuju Arafah. Setelah matahari mulai bergeser, condong ke Barat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah.

Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup khutbah dengan assalaamu’alaikum, yaitu doa keselamatan bagi seluruh kaum muslimin waktu itu. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan wahyu-Nya. Wahyu itu adalah ayat ke-3 dari Surah Al-Ma’idah,

اليَومَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).

Pada saat turun ayat tersebut, kaum muslimin berbahagia, sebab dengan itu berarti ajaran Islam telah sempurna. Namun ekspresi lain tampak dari Umar bin Khattab, dia pun menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Umar menjawab, “Sesungguhnya tidak ada setelah kesempurnaan kecuali kekurangan.” (HR. Bukhari)

Dari ayat tersebut, Umar merasakan bahwa ajal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dekat. Apabila syariat telah sempurna, maka wahyu pun akan terputus. Jika wahyu telah terputus, maka tiba saatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke haribaan Rabbnya Jalla wa ‘Ala. Dan itulah kekurangan yang dimaksud Umar, yakni kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Peristiwa yang lain adalah disaat meninggalnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Pada hari senin, bulan Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi wafat. Hari itu adalah waktu dhuha yang penuh kesedihan. Bumi kehilangan orang yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya. Ummahatul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha bercerita, “Ketika kepala beliau terbaring, tidur di atas pahaku, beliau pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, ‘Allahumma ar-rafiq al-a’la’.” (HR. al-Bukhari dalam Fathul Bari, 8/150 No. 4463). Beliau memilih perjumpaan dengan Allah di akhirat. Beliau wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyampaikan amanah.

Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. mereka bersedih karena berpisah dengan al-Kholil al-Musthafa. Hati-hati mereka bergoncang. Tak percaya bahwa kekasih mereka telah tiada. Hingga di antara mereka menyanggahnya. Umar angkat bicara, “Rasulullah tidak wafat. Beliau tidak akan pergi hingga Allah memerangi orang-orang munafik.” (Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 8/146).

Abu Bakar hadir kemudian berkata, “Duduklah Umar”, perintah Abu Bakar pada Umar. Namun Umar menolak duduk. Orang-orang mulai mengalihkan diri dari Umar menuju Abu Bakar. Kata Abu Bakar, “Amma ba’du… siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad , maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS:Ali Imran | Ayat: 144).

Mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar, orang-orang seakan merasakan ayat itu baru turun hari itu. Mereka begitu larut dalam kesedihan. Mereka merasakan kosong. Bagaimana tidak, mereka ditinggal orang yang paling mereka cintai. Orang yang mereka rindu untuk berjumpa setiap hari. Orang yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia. Mereka lupa akan ayat itu. Dan mereka diingatkan oleh Abu Bakar, seorang yang paling kuat hatinya di antara mereka.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Dari sepenggal sirah Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam tersebut, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil, terkait dengan keharuan dalam tangis dan tawa kita, berpisah dengan Ramadhan serta berjumpa dengan bulan syawal.

Ketika kita merasa sedih bahkan menangis meninggalkan bulan Ramadhan. Maka jadikanlah kesedihan itu sebagaimana perpisahan para sahabat dengan Rasulullah. Mereka sedih lantaran ditinggal kekasih yang begitu mereka cintai. Siapalah kiranya yang dapat menjamin mereka akan bertemu dengan Rasulullah lagi, selain Allah Ta’ala. Kapankah kiranya pertemuan dengan Rasulullah itu akan terjadi? Semua penuh tanda tanya, yang menunjukkan kepastian yang masih semu.

Seorang kekasih ketika ditinggal oleh orang yang dicintai, pastilah kerinduan itu yang akan selalu dirasa. Demikian pula hal nya dengan para Shahabat, mereka begitu merindukan Rasulullah. Oleh sebab itu, tak hentinya mereka senantiasa beribadah dan menjaga amalannya serta meningkatkannya. Agar kelak dapat berjumpa kembali dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam yang tercinta.

Lantas bagaimana hal nya dengan kita?, ketika meninggalkan Ramadhan, seyogyanya perasaan sedih disertai tangis itu hadir, karena akan ditinggal oleh kekasih hati, yaitu bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sebab belum tentu, tahun depan kita dapat berjumpa lagi. Maka, layaknya kerinduan sahabat kepada Rasulullah, jadikan juga rindu itu di hati kita kepada Bulan Ramadhan. Kerinduan itu tampak, bahkan beberapa bulan sebelum Ramadhan datang, mereka banyak berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Selain sedih tangis, ada juga tawa dan gembira yang mewarnai idul fitri. Para sahabat, di saat merasakan dekatnya kepergian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, disatu sisi mereka merasa gembira, sebab itu pertanda bahwa ajaran Islam telah sempurna. Sedangkan kebahagiaan kita, dengan berlalunya bulan Ramadhan adalah karena kita telah berjumpa dan menyelesaikan ibadah bulan Ramadhan yang berlalu selama 30 hari.

Harus kita akui, bahwa berhasil menjumpai bulan Ramadhan, terlebih lagi dengan kondisi fisik dan mental yang sehat, sehingga mampu melaksanakan perintah puasa dengan khidmat, adalah anugerah besar dari yang maha kuasa, sahabat Ali bin Abi Thalib Ra berkata: “Sehat jasmani adalah anugrah yang paling indah”.

Sebab tidak semua semua orang mendapati kesempatan itu dengan baik. Kita ambil contoh saja, beberapa saudara kita beberapa hari yang lalu, mendapat musibah banjir. Karena meluapnya sungai bengawan solo. Di satu sisi kita turut prihatin dengan kejadian itu, tapi disisi lain kita juga bersyukur karena tidak terkena dampak dari banjir tersebut.

Kebahagiaan lain, yang semestinya kita rasakan pada momen datangnya hari raya idul fitri adalah, kita telah mengeluarkan zakat fitrah. Sebuah ibadah yang tidak lain sebagai bentuk penyucian diri setiap muslim sekaligus sebagai penyempurna puasa Ramadhan. Namun perlu kita cermati juga bahwa bukan hanya zakat fitri yang harus kita tunaikan, ada zakat mal yang merupakan kewajiban kita sebagai muslim, dan bagian dari rukun Islam yang lima. Keliru kiranya jika ada seorang muslim yang telah membayar zakat fitri, dia merasa telah menunaikan salah satu rukun Islam. Sebab yang termasuk dalam kategori rukun Islam adalah zakat mal.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Hal lain yang justru terpenting, adalah apa dan bagaimana ibadah dan amalan kita pasca Ramadhan. Kepergian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, bagi para sahabat bukanlah akhir dari perjuangan. Justru itu adalah titik awal perjuangan dan tantangan mereka dalam mengamalkan dan mendakwahkan Islam. Bagaimana tidak, sebagaimana termaktub dalam sejarah, selepas kepergian Rasulullah banyak sekali kemurtadan terjadi. Hanya tersisa tiga daerah, yang selamat dari fitnah kemurtadan ini, yaitu Makkah, Madinah dan Bahrain.

Begitu juga halnya dengan kita. Dengan berakhirnya bulan Ramadhan, yang berakhir pula rutinitas ibadah didalamnya. Bukan berarti berakhir juga ibadah kita. Justru dengan berakhirnya bulan Ramadhan, tantangan kita untuk selalu istiqomah semakin berat dan banyak. Bukan hanya rintangan dari luar, bahkan tantangan dari diri sendiri pun tak kalah hebatnya.

Saat ini lah tugas berat kita, untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan itu, dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala, karenanya bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal, yang artinya peningkatan. Disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan. Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak hingga Ramadhan tahun yang akan datang. Pertama, tidak gampang berbuat dosa. Sebab sekecil apapun dosa akan diminta pertanggung jawaban. Sebagaimana sekecil apapun dosa di bulan Ramadhan, akan mempengaruhi pahala ibadah puasa kita didalamnya. Maka kita pasti berusaha dengan sebaik-baiknya agar mendapat jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan, oleh itu semestinya, setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan dosa.

Jangan sampai, dosa yang kita tinggalkan pada bulan Ramadhan, hanya sekadar ditahan-tahan untuk selanjutnya dilakukan lagi, sesudah Ramadhan berakhir dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar. Kalau demikian jadinya, ibarat pohon, hal itu bukan dibakar, tapi hanya ditebang cabang-cabangnya, sehingga ketika satu cabang ditebang, tumbuh lagi cabang yang lebih banyak.

Dalam kaitan dosa, sebagai seorang muslim jangan sampai kita termasuk orang yang bangga dengan dosa, apalagi kalau mati dalam keadaan bangga terhadap dosa yang dilakukan, bila ini yang terjadi, maka sangat besar resiko yang akan kita hadapi dihadapan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka bisa masuk ke dalam syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan (QS Al A’raf :40).

Kedua senantiasa hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Secara harfiyah, Ramadhan berarti mengasah, yakni mengasah ketajaman hati agar dengan mudah dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Ketajaman hati itulah yang akan membuat seseorang menjadi sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku. Hal ini menjadi penting, mengingat apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS Al Isra: 36).

Nilai ibadah Ramadhan ketiga, yang harus kita lestarikan dalam kehidupan sesudah Ramadhan adalah bersikap jujur. Baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya. Yang tidak kalah penting dalam masalah kejujuran ini, adalah kejujuran ilmu. Kita sebagai seorang muslim, ketika mengetahui sesuatu terkait dengan hukum syar’i, maka hendaklah dilaksanakan, jika itu berupa perintah, dan menjauhinya ketika itu berupa larangan.

Contoh yang paling banyak terjadi sekarang adalah masalah riba. Secara tegas Allah Ta’ala menyebutkan bahwa riba itu haram. Tapi masih saja ada orang yang berkelit dengan berbagai alasan. Baik alasan yang dibuat-buat atau alasan lain dengan menukil dalil-dalil syar’i yang disalah artikan. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al Baqarah: 275)

Dan pelakunya, akan diperangi oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Maka tidak mungkin orang yang diperangi oleh Allah, akan mendapat RidhoNya. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. # Maka jika kamu tidak meninggalkan riba, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 278-279)

Nilai Keempat adalah memiliki semangat berjamaah. Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri, membuat syaitan merasa kesulitan dalam menggoda manusia. Sehingga syaitan menjadi terbelenggu pada bulan Ramadhan. Hal ini diperkuat lagi, dengan semangat yang tinggi bagi kita, dalam menunaikan shalat yang lima waktu secara berjamaah. Sehingga di bulan Ramadhan inilah, mungkin shalat berjamaah yang paling banyak kita laksanakan, bahkan melaksanakannya juga di masjid atau mushalla.

Nilai ibadah Ramadhan kelima yang harus kita lakukan adalah melakukan pengendalian diri. Mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak,  kehidupan ini akan berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, tak ada lagi haq dan bathil, bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak. Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal, Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al-A’raf: 179)

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil-Hamdu…

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah…

Demikian tadi uraian khutbah saya. Poin penting yang perlu kita perhatikan adalah, bahwa perpisahan dengan Ramadhan bukanlah akhir dari rangkaian ibadah dalam hidup kita. Jangan merasa diri telah bersih dari segala dosa, sebagai tidak ada jaminan yang membuktikan bahwa seluruh amal kita di bulan Ramadhan diterima. Tidak ada yang menjamin bahwa dosa kita itu diampuni oleh Allah. Maka keliru, jika ada istilah kosong-kosong pada hari raya idul fitri ini, diartikan bahwa seluruh dosa itu telah terampuni. Karena hanya Allah yang Maha Tahu. Sehingga kita tidak boleh merasa diri telah suci dari dosa.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan doa,

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.

اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Khutbah Idul Fitri – Memaknai Kembali Idul Fitri"