Khutbah ‘Idul Adha: ‘Belajar dari Totalitas Berislam Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail’

Gambar: https://khotbahjumat.com

Oleh: Ibnu Abdil Bari

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالله ِمِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ…

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Azza waJalla atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terbilang. Dengan izin dan karunia-Nya semata kita bisa melaksanakan shalat Idul Adha pada tahun 1440 H ini dalam keadaan fisik yang sehat dan kondisi yang lapang. Semoga nikmat kesehatan, waktu luang, dan kelapangan ini bisa kita syukuri sebaik-baiknya, dengan meyakini bahwa semua nikmat ini berasal dari Allah; memuji Allah atas nikmat-nikmat tersebut, serta mempergunakan semua nikmat itu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan untuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta segenap keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang sabar menjalankan ajaran agamanya.

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Di pagi hari yang mulia ini, kaum muslimin di seluruh dunia melantunkan takbir, tahlil, dan tahmid, demi mengagungkan Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Pada pagi hari ini, takbir, tahlil, dan tahmid dilantunkan oleh jutaan jamaah haji yang sedang melaksanakan manasik di Mina. Kumandang takbir, tahlil, dan tahmid juga dilantunkan oleh milyaran kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, di wilayah pedesaan dan perkotaan, di wilayah pantai dan pegunungan, di wilayah ramai dan pedalaman.

Takbir, tahlil, dan tahmid tidak akan berhenti dengan selesainya shalat Idul Adha. Takbir, tahlil, dan tahmid akan terus dilantunkan oleh seluruh kaum muslimin sampai waktu Ashar tanggal 13 Dzulhijjah esok. Selama hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq esok, gema takbir, tahlil, dan tahmid akan terus berkumandang dari masjid-masjid, jalan-jalan, pasar-pasar, dan rumah-rumah kaum muslimin. Demikianlah sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi sahabat selama hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Ibadah haji, shaum Arafah, shalat Idul Adha, dan udhiyah (yaitu menyembelih hewan ternak tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla pada tanggal 10, 11 12, dan 13 Dzulhijah) kembali menyapa kaum muslimin pada tahun ini. Setiap tahun, keempat ibadah yang istimewa ini hadir di hadapan kaum muslimin. Setiap tahun keempatnya berulang datang.

Pengulangan demi pengulangan tersebut seharusnya meninggalkan bekas yang mendalam bagi keimanan dan ketakwaan kita. Bukan sebaliknya, kehadirannya justru menjadi peristiwa yang kita anggap biasa saja. Akibatnya, datang dan pergi begitu saja, tanpa ada manfaat bagi dunia dan akhirat kita, tanpa ada maslahat bagi individu kita dan umat kita.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Ibadah-ibadah istimewa di bulan suci Dzulhijah ini tidak bisa dipisahkan dengan sejarah kehidupan Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam dan Nabiyullah Ismail ‘alaihissalam. Jika kita mentadabburi sejarah mereka dengan seksama, niscaya kita bisa memetik banyak pelajaran berharga untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita.

Salah satu pelajaran terpenting yang bisa dipetik dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah memahami bahwa hakekat ajaran agama Islam adalah al-istislaam lillah. Yaitu berserah diri sepenuhnya kepada perintah dan larangan Allah ‘azza wajalla. Berserah diri sepenuhnya kepada agama Allah dan syariat-Nya. Menerima sepenuh jiwa pedoman hidup yang diturunkan-Nya kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sang penutup seluruh nabi dan rasul.

Mari kita sejenak merenungi kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang diabadikan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an, tepatnya pada ayat 102-107. Allah ‘Azza wa Jalla Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Pada masa mudanya, Nabi Ibrahim ialah orang yang menyeru ayah dan kaumnya untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala. Namun mereka tidak menjawab dakwahnya. Beliau pun sudah menjelaskan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat.

Namun, ketika beliau mengemukakan hujjahnya, dan mereka tidak berkutik untuk menjawab. Mereka justru memutuskan untuk membakarnya. Tapi pada akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan api itu dingin dan keselamatan atas Nabi Ibrahim.

Maka, ketika Nabi Ibrahim putus asa dari keimanan mereka, beliau kemudian berhijrah meninggalkan kaum dan sesembahan mereka, dan memohon dikaruniai seorang anak. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101

Nabi Ibrahim dikarunia seorang anak ketika beliau sudah berusia senja. Berdasarkan satu pendapat, pada saat itu, beliau berusia 86 tahun. Maka, bisa kita bayangkan betapa besar kecintaan beliau kepada sang anak. Anak ini adalah anak yang dirindukan kehadirannya berpuluh-puluh tahun lamanya. Ia menjadi penyejuk mata bagi Nabi Ibrahim.

Namun,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Nabi Ibrahim telah diuji dengan dilemparkan ke dalam perapian pada masa mudanya, dan beliau mengatakan, “Hasbunallah wani’mal wakil”, adapun ujian pada kali ini, ia datang ketika beliau sudah renta. Si anak lahir ketika beliau sudah tua, dan anak ini lebih ia cintai, bahkan dari dirinya sendiri.

Ujian semakin berat, karena Allah memerintahkan agar Ibrahim sendiri yang menyembelihnya. Allah tidak mengabarkan kepada beliau bahwa Ismail akan mati, sehingga urusan kematiannya mudah. Allah juga tidak memintanya untuk mengirim anak semata wayangnya pergi ke medan jihad. Dan Allah pun tidak memerintahkan beliau agar anaknya melakukan bunuh diri. Tidak. Allah ‘Azza wa Jalla justru meminta Ibrahim untuk melakukan hal itu sendiri, melalui tangannya?

Melakukan apa? Melakukan penyembelihan. Tetapi sekalipun demikian. Nabi Ibrahim menerima dengan patuh perintah ini.

Padahal kalau kita resapi, Ismail adalah anak satu-satunya pada waktu itu, tidak ada anak yang lain. Jika perintah ini ditujukan kepada kita, akankah kita menyembelih anak semata wayang yang sudah kita nanti berpuluh-puluh tahun lamanya? Sungguh, “Inna hadza lahuwal bala’ul mubin.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

   يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ

Di dalam kalimat ini, kata yang digunakan Nabi ibrahim untuk memanggil anaknya ialah, “Ya bunayya”, bukan ya ibni. Di mana ini menunjukkan kuatnya rasa cinta dari sang ayah kepada anaknya. Seolah Nabi Ibrahim mengatakan, ‘duhai anakku, duhai penyejuk hatiku, duhai permata jiwaku, duhai anak yang paling aku cintai.” Jadi, Ismail adalah anak yang disayangi dan dicintai oleh ayahnya.

Di samping itu, kata yang digunakan oleh Nabi Ibrahim ialah kata, “Ara, aku sedang-tengah melihat” dengan menggunakan fi’l mudhari’, bukan fi’l madhi, “Ra’aitu” sebagaimana kata Nabi Yusuf, يَاأَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ ), padahal mimpi ini sudah berlalu. Seolah-olah Nabi Ibrahim sedang menyaksikan mimpi penyembelihan ini ketika ia tengah berdialog bersama putranya, Ismail. MasyaAllah! Alangkah besarnya kualitas iman, ketaatan dan kepasrahan beliau kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla.

Terlihatlah bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Nabi ibrahim, dikatakan kepada putranya dengan penuh ketenangan yang menakjubkan. قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Mengapa Nabi Ibrahim mengabarkan perintah penyembelihan ini kepada putranya? Mengapa beliau tidak mengambil anaknya dengan tiba-tiba lalu melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla, dan selesai? Hanyasanya beliau ingin memberitahukan tentang urgensi melakukan perintah dengan sepenuh ketaatan dan kepasrahan, bukan dengan keterpaksaan. Agar masing-masing dari mereka mendapatkan pahala ketaatan, dan merasakan manisnya kepasrahan kepada Allah ‘Azza wa Jalla Ta’ala. Ia ingin agar anaknya bisa mengecap lezatnya melaksanakan perintah dengan sukarela sebagaimana yang beliau rasakan, dan mendapatkan kebaikan yang lebih kekal dan lebih baik, bahkan dari kehidupan itu sendiri. Beliau juga berkeinginan untuk menguji kesabaran anaknya ketika ia masih kecil dalam menaati Allah ‘Azza wa Jalla, dan baktinya kepada kedua orangtuanya.

Para mufassir menyebutkan bahwa dialog ini, فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى bukanlah untuk bermusyawarah tapi agar masing-masing dari mereka berdua mendapatkan pahala karena pasrah dan tunduk pada perintah Allah Ta’ala.

Maka, mendengar pernyataan ayahandanya, Ismail pun menjawab dengan penuh kemantapan,  قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ

Mari kita tadabburi kata-kata ini. Nabi Ismail mengatakan, “Ya abati” yang ini menunjukkan kecintaan dan kedekatan sang anak kepada orangtuanya. Berita penyembelihan yang disampaikan oleh ayahnya tidak lantas membuatnya risau, takut dan kehilangan akal sehat. Bahkan Nabi Ismail tetap beradab dan menampakkan rasa cinta kepada ayahandanya, Ibrahim.

Di dalam kata-kata,  افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ juga mengandung asrar balaghiyah, rahasia dari sisi kebahasaan. Seharusnya, jawaban Nabi Ismail ialah, “Ya abati idzbahni”, wahai ayah, sembelihlah aku. Tidak. Nabi Ismail menjawab dengan lebih dari itu, “lakukanlah apa yang diperintahkan kepada ayah!” sekalipun sebelum penyembelihan itu aku harus dipotong hidungnya, dipotong hidungnya, dicongkel matanya, digergaji kakinya, dan dimutilasi seluruh jasadnya sebelum disembelih, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu, wahai ayah.

Kata-kata, تُؤْمَرُ juga menunjukkan bahwa Nabi Ismail tahu bahwa ayahnya hanya diperintah oleh Allah ‘Azza wa Jalla, yang ini semua menunjukkan bagaiman sejatinya kualitas iman dan ketundukannya kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Ia tahu bahwa mimpi seorang Nabi adalah wahyu, dan ia pun mengerti bahwa perintah dalam wahyu itu harus dilaksanakan. Maka, kata-kata ini menunjukkan bahwa Nabi Ismail pasrah dengan perintah penyembelihan ini, karena perintah ini semata-mata perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Kata-kata, سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ juga menegaskan bahwa Nabi Ismail akan bersabar terhadap perintah penyembelihan tersebut, dan menguatkan hatinya untuk bersabar, jika Allah ‘Azza wa Jalla berkehendak.

Lantas apa hikmah dari perintah Allah ‘Azza wa Jalla kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail?

Maksud dari ujian penyembelihan ini ialah untuk mengetahui tingginya tingkat ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena seorang anak itu sangat berharga baginya. Apalagi jika anak itu adalah anak semata wayang, yang akan menjadi harapan bagi masa depannya. Tidak diragukan lagi, bahwa ia begitu berharga baginya.

Maka, di sinilah tampak hikmah dari kisah ini; yaitu bahwa pokok tauhid, bahkan inti tauhi dan ruhnya ialah cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla menguji Ibrahim perihal rasa cintanya kepada Allah, dan prioritas beliau dalam mencintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada mencintai anaknya. Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Ibrahim  untuk menyembelih Ismail semata-mata ingin menguji rasa cintanya kepada Allah. Sehingga Allah ‘Azza wa Jalla lebih ia cintai daripada anaknya. Maka ketika rasa cintanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla terbukti, Allah ‘Azza wa Jalla pun membebaskannya dengan sembelihan yang besar.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

 فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107

 Yakni, Nabi Ibrahim menelungkupkan wajah putranya, Ismail. Agar beliau tidak melihat wajah putranya ketika sedang menyembelihnya sehingga membuat beliau iba, lalu tidak jadi menyembelih. Bahkan seolah-olah sang putra telah membantu ayahnya untuk menuntaskan perintah penyembelihan ini.

Ada sebuah riwayat yang disebutkan oleh para mufassir terkait peristiwa penyembelihan ini:

Ketika nabi Ibrahim mendapat wahyu untuk menyembelih Ismail, dengan tulus dan tabah sang anak berkata:

يَا أَبَتِ اشْدُدْ رِبَاطِيْ حَتَّى لاَ أَضْطَرِبَ….

“Wahai Ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tak lagi bergerak.”

وَاكْفُفْ عَنِّي ثِيَابَكَ حَتَّى لاَ يَنْتَضِحَ عَلَيْهَا مِنْ دَمِّيْ شَيْءٌ فَيَنْقُصَ أَجْرِيْ وَتَرَاهُ أُمِّيْ فَتَحْزَنُ ….

Wahai Ayahku, singsingkanlah baju engkau agar darahku tidak mengotori bajumu, maka akan berkurang pahalaku, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya beliau akan bersedih.”

وَيَا أَبَتِ اسْتَحِدَّ شَفْرَتَكَ وَأَسْرِعْ مَرَّ السِّكِّيْنِ عَلَى حَلْقِيْ لِيَكُوْنَ أَهْوَنُ عَلَيَّ فَإِنَّ الْمَوْتَ شَدِيْدٌ….

Dan tajamkanlah pisau Ayah serta percepatlah gerakan pisau itu di leherku agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu amat dahsyat.”

وَإِذَا أَتَيْتَ أُمِّيْ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنِّيْ…. وَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تَرُدَّ قَمِيْصِيْ عَلَى أُمِّيْ فَافْعَلْ ….

Wahai Ayah, apabila engkau telah kembali maka sampaikan salam (kasih)ku kepada ibunda, dan apabila bajuku ini Ayah pandang baik untuk dibawa pulang maka lakukanlah.”

فَقَالَ لَهُ إِبْرَاهِيْمُ نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللهِ تَعَالَى….

“(Saat itu, dengan penuh haruIbrahim berkata: “Wahai anakku, sungguh engkau adalah anak yang sangat membantu dalam menjalankan perintah Allah.”

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Dari sini, terlihatlah kebenaran ayat,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

“Maka ketika keduanya telah menyerahkan diri kepada Allah dan ia (Ibrahim) membaringkan anaknya (Ismail) pada dahinya.” (QS. Ash-Shafat: 103).

Maknanya, bahwa keduanya telah pasrah dalam melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan sepenuh keyakinan, ketaatan, ketenangan, ridha, pasrah dan melaksanakannya tanpa ada sedikit pun keraguan. Ikrimah Maula Ibnu Abbas berkata, “Keduanya berserah diri kepada perintah Allah, sang anak ridha untuk disembelih, dan sang bapak ridha untuk menyembelihnya.”

Dengan demikian, yang tersisa ialah Ismail disembelih, darahnya ditumpahkan dan ruhnya dilenyapkan. Namun, ini tidak berarti apa-apa di sisi Allah. Ujian telah dilaksanakan, dan tujuannya telah tercapai. Allah ‘Azza wa Jalla tidak ingin menyiksa hamba-Nya dengan ujian. Yang akan sampai kepada Allah ‘Azza wa Jalla ialah ketakwaan, bukan mengalirnya darah dan juga daging-daging yang disembelih. Maka, ketika Allah ‘Azza wa Jalla tahu kejujuran keduanya, Allah ‘Azza wa Jalla kemudian berfirman,

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)

Allah ‘Azza wa Jalla seketika langsung memerintahkan Ibrahim untuk menghentikan penyembelihan itu, dan menegaskan bahwa ia telah lulus dalam ujian tersebut. Sebagai gantinya, Allah ‘Azza wa Jalla mengganti Ismail dengan dzibhin azhim. Menurut syaikh As-Sa’di, disebut azhim ditinjau dari tiga sisi; besar dari sisi bahwa ia menjadi tebusan bagi Ismail; besar dari sisi bahwa ia merupakan ibadah yang agung –udhiyah-; dan besar dari sisi bahwa ia merupakn bentuk taqarrub dan sunah yang akan berlaku hingga hari kiamat.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

 Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Sungguh, pada kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang diabadikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Ash-Shaffat ayat 100-107 terdapat banyak pelajaran yang bisa kita ambil, di antaranya:

  1. Ujian keimanan adalah keniscayaan

Allah menciptakan dunia sebagai perhiasaan dunia, dan menjadikannya sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Maka jika karunia ini bisa mengurangi rasa cintanya kepada Dzat yang telah memberikan karunia-karunia tersebut, maka bersiaplah untuk mendapatkan ujian dari Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana Nabi Ibrahim; Allah ‘Azza wa Jalla cemburu jika di dalam hati kekasihnya tersebut terdapat rasa cinta kepada anaknya hingga mengurangi rasa cinta kepada Rabbnya. Maka, terjadilah ujian keimanan berupa penyembelihan anak yang menyejarah itu.

Oleh karenanya, tepat sekali apa yang disampaikan oleh Syaikh Uqail Asy-Syamri ketika beliau mengomentari ayat, “Inni ara fil manami anni adzbahuka”, beliau berkata,

لئلا يبقى في قلب إبراهيم إلا الله؛ ما دام في قلبك غير الله فاستعد للامتحان لطرده

“Hal ini ditujukan agar tidak ada sesuatu pun yang tersisa di dalam hati Nabi Ibrahim selain Allah ‘Azza wa Jalla. Jika di hatimu ada sesuatu selain Allah ‘Azza wa Jalla, maka bersiaplah untuk menghadapi ujian yang akan mengusirnya.”  

  1. Balasan dari berbakti kepada orangtua, Hal ini bisa dilihat dari bakti yang diperlihatkan oleh Nabi Ismail kepada ayahandanya, dengan kata-katanya, يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَر

Sikap bakti yang diperlihatkan oleh Nabi Ismail adalah buah dari sikap bakti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Yaitu, ketika beliau mendakwahi ayahnya, beliau menampakkan rasa cinta dan sayang yang begitu besar kepada ayahnya, dan menjelaskan dengan sepenuh kehalusan bahwa ia mengharapkan keislaman ayahnya. Beliau berkata,

 وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (41) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَاأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (42) يَاأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (43) يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (44) يَاأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (45)

Lihatlah betapa besar rasa cinta dan bakti Nabi Ibrahim kepada ayahnya. Maka, terkait fenomena ini, syaikh Walid Al-Ashimi mengatakan, “Kata, “Ya abati” berulangkali diucapkan oleh Nabi Ibrahim kepada ayahnya karena begitu cinta kepadanya, namun ayahnya tidak menjawab –seruannya. Lalu Allah menganugerahi seorang putra yang mengatakan kepadanya, Nabi Ibrahim dengan, “Ya abati-f’al ma tu’mar, wahai ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

  1. Allah ‘Azza wa Jalla hanya menerima takwa kita

Hakikat ujian sejatinya ialah untuk mengetahui ketakwaan kita. Maka, ketika Allah ‘Azza wa Jalla tahu bahwa Ibrahim dan Ismail menampakkan totalitas dalam berislam pasrah kepada perintah-Nya, Allah pun mengganti Ismail dengan dzibhun azhim. Karena Allah menegaskan dalam surat Al-Hajj ayat 37,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Ayat di atas menegaskan bahwa yang menjadi landasan bahwa amal itu diterima ialah jika ia dilandasi oleh keikhlasan dan ketakwaan, bukan yang lainnya.

  1. Berkah dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Hal ini bisa kita lihat dari ayat,

إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ {105

 Maknanya, bahwa digantinya Ismail dengan dzibhun azhim ialah karena ihsan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dalam melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla; bahkan tidak hanya itu, Nabi Ibrahim kemudian dikarunia anak lain selain Ismail, yaitu Ishaq sebagaimana tercantum dalam firman-Nya,

وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112

Bahkan kedua anak ini kemudian diberkahi oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya,

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113

         

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….

   Jamaah Shalat Idul Adha rahimani warahimakumullah,

Demikian sedikit uraian tentang beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang diabadikan Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Ash-Shaffat ayat 100-107. Jika ada kekurangan dan kesalahan dalam uraian ini, maka hal itu dari setan dan dari diri pribadi kami, semoga Allah memaafkannya.

Marilah kita akhiri khutbah pada pagi hari ini dengan menghadapkan hati kita kepada Allah, seraya memanjatkan doa kepada-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ المُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُومًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُومًا، وَلا تَدَعْ فِينَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُومًا.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ وَالمُسْلِمِينَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ انْصُرِ اْلمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ وَاْلمُشْرِكِينَ وَاْلمُرْتَدِينَ وَاْلمُنَافِقِينَ وَاْلمُجْرِمِينَ وَاْلخَائِنِينَ.

اللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ يَا ذَا الجَلالِ وَالإِكْرَامِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ بِكَ نَستَجِيرُ، وَبِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ وَلاَ تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ يَا مُصْلِحَ شَأْنِ الصَّالِحِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dwonload Versi PDFDisini

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Khutbah ‘Idul Adha: ‘Belajar dari Totalitas Berislam Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail’"