Khutbah Idul Adha 1438 H – MERAJUT UKHUWAH IMANIYAH DALAM IBADAH UDHIYAH

MERAJUT UKHUWAH IMANIYAH DALAM IBADAH UDHIYAH

Khutbah Idul Adha 1438 H

Disusun oleh: Ust. Abu Ammar (alumni Ma’had ‘Aly An-Nuur)

Unduh dalam format doxc http://bit.ly/KhutbahIdulAdha1438

Khutbah Idul Adha 1438 H annursolo.com
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ} .
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا} .
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terbilang. Dengan izin dan karunia-Nya semata kita bisa melaksanakan shalat Idul Adha pada tahun 1438 H ini dalam keadaan fisik yang sehat dan kondisi yang lapang. Semoga nikmat kesehatan, waktu luang, dan kelapangan ini bisa kita syukuri sebaik-baiknya, untuk memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita.
Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan untuk suri tauladan kita, Rasulullah SAW, beserta segenap keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang taat menjalankan ajaran agamanya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Kaum muslimin dan muslimat, jama’ah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT….
Di pagi hari yang mulia ini, kaum muslimin di seluruh dunia melantunkan takbir, tahlil, dan tahmid, demi mengagungkan Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Pada pagi hari ini, takbir, tahlil, dan tahmid dilantunkan oleh jutaan jama’ah haji yang sedang melaksanakan manasik di Mina. Kumandang takbir, tahlil, dan tahmid juga dilantunkan oleh milyaran kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, di wilayah pedesaan dan perkotaan, di wilayah pantai dan pedalaman.
Takbir, tahlil, dan tahmid tidak akan berhenti dengan selesainya shalat Idul Adha. Takbir, tahlil, dan tahmid akan terus dilantunkan oleh seluruh kaum muslimin sampai waktu Ashar tanggal 13 Dzulhijah esok. Selama hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq esok, gema takbir, tahlil, dan tahmid akan terus berkumandang dari masjid-masjid, jalan-jalan, pasar-pasar, dan rumah-rumah kaum muslimin. Demikianlah sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah SAW dan generasi sahabat selama hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Kaum muslimin dan muslimah, jama’ah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT…
Ibadah haji, shaum Arafah, shalat Idul Adha, dan udhiyah (yaitu menyembelih hewan ternak tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT pada tanggal 10, 11 12, dan 13 Dzulhijah) kembali menyapa kaum muslimin pada tahun ini. Setiap tahun, keempat ibadah yang istimewa ini hadir di hadapan kaum muslimin. Setiap tahun keempatnya berulang datang. Pengulangan demi pengulangan tersebut sudah seharusnya meninggalkan bekas yang mendalam bagi keimanan dan ketakwaan kita. Bukan sebaliknya, kehadiran demi kehadirannya menjadikannya peristiwa yang kita anggap biasa saja. Akibatnya, datang dan pergi begitu saja, tanpa ada manfaat bagi dunia dan akhirat kita, tanpa ada maslahat bagi individu kita dan umat kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Ibadah haji dan shalat Idul Adha sangat kental nuansa ibadah sosialnya. Sebab, ia dilaksanakan secara berjama’ah, melibatkan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Adapun shaum Arafah dan penyembelihan udhhiyah, bisa dikatakan termasuk jenis ibadah individu. Meski demikian, nuansa sosialnya juga sangat kental terasa.
Shaum Arafah, meski hukumnya “hanya” sunnah muakkadah, ternyata dilaksanakan oleh sebagian besar kaum muslimin. Mereka berlomba-lomba melaksanakannya, karena mengharap pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT, yaitu terhapusnya dosa-dosa kecil setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.
Hal yang sama terjadi pada penyembelihan udhhiyah. Setiap tahun, jumlah kaum muslimin dan muslimat yang menyembelih hewan udhiyah senantiasa bertambah. Mereka berlomba-lomba untuk menyembelih kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta. Mereka termotivasi oleh besarnya pahala yang dijanjikan Allah SWT. Keimanan menggerakan hati mereka untuk meneladani pengorbanan Nabiyullah Ibrahim AS, yang rela menyembelih putranya Nabiyullah Ismail AS, semata-mata demi melaksanakan perintah Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Ibadah-ibadah istimewa di bulan suci Dzulhijah ini tidak bisa dipisahkan dengan sejarah kehidupan Nabiyullah Ibrahim AS, Nabiyullah Ismail AS, dan ibunda Hajar. Jika kita mentadabburi sejarah mereka dengan seksama, niscaya kita bisa memetik banyak pelajaran berharga untuk meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan kita.
Berikut ini adalah sebagian kecil di antara pelajaran penting yang bisa petik dari sejarah kehidupan mereka. Pelajaran pertama, kita bisa memahami bahwa hakekat ajaran agama Islam adalah al-istislaam lillah, atau berserah diri sepenuhnya kepada perintah dan larangan Allah SWT.
Nabi Ibrahim dan Ismail AS telah memberikan contoh keteladanan dalam berserah diri kepada Allah SWT semata. Saat mendapat perintah untuk menyembelih Ismail AS, Ibrahim AS sang bapak melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan. Demikian pula Ismail AS menerimanya dengan kelapangan hati dan kepasrahan jiwanya kepada Allah semata. Allah mengabadikan kepasrahan jiwa keduanya kepada Allah, dengan firman-Nya:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
Maka ketika keduanya telah menyerahkan diri kepada Allah dan ia (Ibrahim) membaringkan anaknya (Ismail) pada dahinya. (QS. Ash-Shafat [37]: 103)
Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayyil Qur’an, berkata, “Maknanya adalah keduanya menyerahkan urusannya kepada Allah semata, keduanya berserah diri kepada-Nya, keduanya bersepakat untuk menerima perintah Allah dan ridha dengan takdirnya.”
Ikrimah Maula Ibnu Abbas berkata, “Keduanya berserah diri kepada perintah Allah, sang anak ridha untuk disembelih, dan sang bapak ridha untuk menyembelihnya.”
Ibunda Hajar dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan ketabahan mengasuh bayinya, Ismail, sendirian di tengah padang pasir yang tandus, panas, tiada sumber air, tiada pepohonan tempat bernaung, dan tiada manusia lain. Sang suami meninggalkannya sendirian di tempat seperti itu, ia meminta satu ketegasan dari suaminya:
آللهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا
“Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan hal ini?”
Saat suaminya menjawab, “Ya”, maka Ibunda Hajar tidak berkeluh kesah sedikit pun. Jika Allah telah memerintahkan hal itu, maka nasib setelahnya harus diserahkan kepada Allah semata pula. Maka ibunda Hajar memberikan pernyataan yang menentramkan hati suaminya:
إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا
“Jika demikian, Allah pasti tidak akan menelantarkan kami.” (HR. Bukhari no. 3364)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk berserah diri kepada Allah semata. Allah berfirman:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan ingatlah ketika Rabbnya berfirman kepada Ibrahim ‘Berserah dirilah engkau!’ Maka Ibrahim menjawab, “Aku berserah diri kepada Rabb seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah [2]: 131)
Kemudian Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk berserah diri kepada Allah semata. Allah berfirman:
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah (wahai Muhammad), “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya aku menjadi orang yang pertama kali berserah diri kepada Allah, dan jangan sekali-kali kamu termasuk golongan orang musyrik.” (QS. Al-An’am [6]: 14)
Setelah itu, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk berserah diri kepada Allah semata. Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang sebenarnya petunjuk, dan kita diperintahkan agar berserah diri kepada Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]: 71)
Rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tentang manasik haji memuat perintah untuk berserah diri kepada Allah SWT semata. Allah berfirman:
فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
Maka Tuhan sesembahan kalian ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kalian kepada-Nya! Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)! (QS. Al-Hajj [22]: 34)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Pelajaran kedua, semakin baik tingkat keimanan seorang muslim, niscaya semakin baik pula kepeduliannya kepada nasib kaum muslimin lainnya. Bahkan, ia juga semakin peduli terhadap nasib umat manusia secara keseluruhan.
Ukhuwah imaniyah-nya semakin kuat dan erat. Sikap individualis-nya semakin lemah. Kekikiran dan egoismenya semakin luntur. Fanatisme kelompok-nya semakin pudar. Ia mampu menyadari dirinya sebagai bagian dari umat Islam. Ia menghayati kemuliaan dirinya hanyalah saat ia bersatu-padu dengan umat Islam lainnya. Ia menginsyafi bahwa perselisihan, perpecahan, permusuhan, dan konflik dengan sesama umat Islam adalah virus yang menggerogoti eksistensi keimanan.
Ia sadar sepenuhnya, senang dan susah haruslah bersama dengan kaum muslimin lainnya. Ia yakin sepenuhnya, kebahagiaan yang sejati adalah saat kaum muslimin lainnya berbahagia. Dan kesengsaraan yang sejati adalah saat kaum muslimin lainnya sengsara. Suka dan duka kaum muslimin adalah suka dan duka dirinya juga. Senasib dan sepenangungan dengan kaum muslimin lainnya menjadi mental hidupnya. Bukti nyatanya, ia berupaya dengan sungguh-sungguh untuk dapat hidup dengan kaum musliminnya bagaikan satu tubuh, satu sama lain saling melengkapi. Satu sama lain saling membantu, menolong, dan menguatkan. Satu sama lain saling melindungi dan menjaga.
Saat ini, kaum muslimin di berbagai belahan penjuru dunia sedang mendapatkan ujian yang sangat berat. Kaum muslimin di Palestina ditindas oleh penjajah zionis Yahudi. Desa-desa dan kota-kota mereka diduduki, lahan pertanian dan pemukiman mereka dirampas, para ulama dan pemudanya ditangkapi, dan para wanita muslimah dinodai. Bahkan, kaum muslimin di kota Al-Quds dihalang-halangi dari menunaikan shalat wajib dan shalat Jum’at di Masjidil Aqsha, masjid kedua di muka bumi yang dibangun oleh Nabiyullah Ibrahim AS.
Di Suriah, kaum muslimin sudah lebih dari enam tahun terakhir merasakan kebiadaban militer dan persenjataan rezim Nushairiyah Suriah, yang dibackingi oleh rezim Syiah Iran dan rezim komunis Rusia. Ratusan ribu kaum muslimin Suriah dibunuh oleh kekuatan Syiah Suriah, Lebanon, Irak, Iran, dan Afghanistan, atas restu dan dukungan sepenuhnya dari negara komunis Rusia. Jutaan penduduk muslim Suriah menjadi pengungsi, terkatung-katung nasibnya, mengalami kelaparan dan kedinginan, baik di dalam negeri Suriah maupun di negeri-negeri tetangga.
Di Irak, kaum muslimin Ahlus Sunnah menjadi korban terbesar serangan rezim Syiah Irak dan pasukan aliansi yang dipimpin oleh Amerika. Stasiun TV Al-Jazeera melaporkan selama bulan Juli 2017 saja, lebih dari 40.000 ribu warga muslim sunni terbunuh di propinsi Mosul. Ini baru di satu propinsi, belum terhitung korban muslim di kota-kota dan desa-desa Irak lainnya.
Derita yang tak kalah pedih dialami oleh kaum muslimin Rohingnya. Selama beberapa pekan di bulan Agustus 2017 ini, rezim militer Myanmar kembali membunuh lebih dari 800 warga muslim Rohingnya. Banyak di antara mereka adalah anak-anak dan wanita. Rumah-rumah dan desa-desa mereka dipakar. Harta benda mereka dirampas. Kehormatan kaum wanita dinodai dan dilecehkan. Antara 5000 sampai 10.000 muslim Rohingnya kembali terusir dari kampang halamannya. Sementara negara-negara tetangga terdekat seperti Bangladesh dan Thailand justru menolak mereka.
Duka nestapa yang dialami oleh kaum muslimin di luar negeri tersebut adalah duka nestapa kaum musliminin Indonesia juga. Kaum muslimin Indonesia wajib membantu mereka dengan segala cara yang legal dan mampu mereka lakukan. Doa dan qunut nazilah harus terus dipanjatkan untuk mereka. Bantuan kemanusiaan dan bantuan medis harus senantiasa dikirimkan kepada mereka. Aksi solidaritas dan pemberitaan di media sosial maupun media massa harus digencarkan. Upaya-upaya lainnya melalui jalur politik-pemerintahan, jalur hukum, dan lainnya harus dilakukan, sebagai wujud persaudaraan seiman dan seislam kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Kaum muslimin dan muslimat, jama’ah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT….
Sebenarnya, kepedulian kita terhadap nasib kaum muslimin lainnya merupakan bentuk kepeduliaan terhadap nasib diri kita sendiri di akhirat kelak. Jika kita menginginkan ridha Allah dan keselamatan diri di akhirat kelak, maka kepeduliaan kepada nasib muslimin adalah salah satu pintu terbaiknya.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ
“Barangsiapa meringankan salah satu penderitaan hidup seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan untuknya salah satu penderitaannya pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang hidupnya kesulitan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan bagi hidupnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa seorang sahabat mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah? Dan amalan apakah yang paling disukai Allah?” Maka Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling memberi manfaat bagi manusia lainnya. Amal yang paling dicintai Allah adalah engkau memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan kesusahan hidupnya, atau engkau melunasi hutangnya, atau engkau menghilangkan kelaparannya. Sungguh, aku berjalan bersama seorang saudara muslim untuk memenuhi sebuah kebutuhan hidupnya, adalah lebih aku sukai daripada aku melakukan I’tikaf selama sebulan di dalam Masjid Nabawi ini.” (HR. Ath-Thabarani)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Pelajaran ketiga, Nabiyullah Ibrahim AS, Nabiyullah Ismail AS, dan Ibunda Hajar adalah suri tauladan terbaik bagi kaum muslimin sampai hari akhir kelak. Setelah era mereka, Rasulullah SAW dan generasi sahabat adalah suri tauladan terbaik bagi kaum muslimin sampai hari akhir kelak. Pada setiap tempat dan zaman, kaum beriman memiliki pahlawan, suri tauladan, dan tokoh panutan yang hidup secara langsung di tengah mereka.
Lalu, di zaman kita hidup saat ini dan di tempat kita hidup saat ini, siapakah tokoh-tokoh umat yang menjadi potret nyata keteladanan tersebut? Siapakah para panutan yang kaum muslimin saat ini bisa melihat sosoknya, mendengar tutur katanya, menyaksikan tingkah lakunya, dan meneladani perbuatannya?
Mereka tidak lain adalah waratsatul anbiya’. Mereka adalah para ulama, kyai, ustad, da’i, dan aktifis Islam yang melanjutkan perjuangan para nabi dan rasul. Mereka adalah tokoh-tokoh Islam dan aktifis-aktifis Islam, baik muslim maupun muslimah, yang berjuang menegakkan agama Islam secara ikhlas, yakin, sabar, tabah, ulet, kokoh, dan istiqamah di atas rel syariat Allah. Kita wajib meneladani mereka, bermakmum di belakang mereka, dan berjuang bersama mereka, demi meraih ‘Izzul Islam wal Muslimin yaitu kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang- shadiqin. (QS. At-Taubah [9]: 119)
Shadiqin, secara harfiah berarti orang-orang yang jujur, orang-orang yang benar, atau orang-orang yang tulus. Al-Qadhi Abu Bakar Ibnu Al-Arabi Al-Maliki Andalusi dalam tafsirnya, Ahkamul Qur’an, dan Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi Al-Andalusi dalam tafsirnya, Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa shadiqin adalah orang-orang yang lahiriahnya sesuai dengan batinnya. Hati mereka beriman, tulus, dan ikhlas. Ucapan lisan mereka adalah ucapan yang baik-baik, bernilai pahala, dan jauh dari ucapan buruk yang bernilai dosa. Perbuatan mereka adalah amal-amal kebajikan dan kesalehan, bukti dari kebenaran iman dalam jiwa mereka.
Imam Burhanuddin Abul Hasan Ibrahim bin Umar Al-Biqa’i dalam tafsirnya, Nazhmu Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa As-Suwaar, memberikan sebuah catatan penting terkait ayat ini. Dalam ayat ini, perintah ditujukan secara umum kepada orang-orang yang beriman. Perintah tersebut mencakup setiap orang yang beriman. Bagi orang-orang yang imannya masih lemah, ayat ini merupakan perintah untuk berlari dan mengejar ketertinggalan, sehingga bisa mengikuti dan membersamai generasi shaadiqin.
Sementara bagi orang-orang yang imannya sudah kuat dan berada di garis terdepan dalam perjuangan Islam, ayat ini merupakan motivasi tambahan agar mereka mampu istiqamah, mempertahankan kepeloporan mereka.
Subhanallah, sungguh indah dan dahsyat makna yang terkandung dalam ayat yang mulia ini. Semoga Allah melimpahkan kekuatan, kesabaran, dan keistiqamahan kepada kita semua untuk dapat mengamalkan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Kaum muslimin dan muslimat, jama’ah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah SWT….
Demikian sedikit uraian tentang beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari ibadah haji, shaum Arafah, shalat Idul Adha, dan penyembelihan hewan ternak. Jika ada kebenaran dan kebaikan dalam uraian ini, maka hal itu dari Allah semata. Jika ada kekurangan dan kesalahan dalam uraian ini, maka hal itu dari setan dan dari diri pribadi kami, semoga Allah memaafkannya.
Marilah kita akhiri khutbah Idul Adha pada pagi hari ini kita akhiri dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT.
…..
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Khutbah Idul Adha 1438 H – MERAJUT UKHUWAH IMANIYAH DALAM IBADAH UDHIYAH"