Kemuliaan Orang-orang Yang Berakal

Tidak ada komentar 2707 views

Oleh: Teungku Azhar, Lc.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ َلآَيَاتٍ ِلأُولِي الأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

Tafsir Ayat
Imam Ath-Thabari –rahimahullah- berkata, “Ayat ini adalah hujjah yang nyata dari Allah kepada seluruh makhluk-Nya bahwa Dia-lah yang mengatur, mempersilih-gantikan sesuatu, dan kepada-Nya lah semua makhluk berharap dan bergantung. Maka perhatikanlah wahai orang-orang yang berakal.”

Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Bahwasanya pada penciptaan langit dan bumi (dan apa-apa yang ada pada keduanya), serta bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal sempurna, yang mengenal sesuatu dengan hakikatnya, dan bukan seperti orang-orang yang bisu, tuli, dan buta yang disifati oleh Allah dengan,

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ . وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105 dan 106)

Kemudian beliau berkata, “Kemudian Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang yang berakal tersebut dalam ayat-ayat berikutnya:
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah dalam keadaan berdiri, jika kamu tidak mampu maka shalatlah dengan keadaan duduk, jika tidak mampu juga maka shalatlah dalam keadaan berbaring.” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

Beberapa Karakteristik Akal Seorang Muslim

Akal adalah potensi. Ia bersifat netral, tergantung kepada siapa yang menggunakannya. Manakala digunakan oleh orang beriman, ia akan menuntunnya kepada keagungan Allah Ta’ala dan kesejahteraan manusia. Namun manakala ia dimanfaatkan oleh orang kafir yang jauh dan lepas dari bimbingan wahyu, akal justru akan menyeret manusia kepada kerusakan dan kesengsaraan. Karena itu Islam menggariskan beberapa karakteristik yang mesti ada agar potensi akal bisa dimanfaatkan untuk kebaikan manusia.
Dr. Abdus Salam Al Basyuni menyebutkan beberapa karakteristik yang tersebut adalah :

Pertama: Akal muslim

Maknanya akal yang benar-benar tunduk kepada ketentuan Allah Ta’ala. Ia mengerti betul medan mana saja yang harus digeluti dan medan mana yang ia tidak boleh turut campur di dalamnya. Akal muslim berarti akal yang beragama bukan akal seorang atheis. Dalam medan yang dilarang bergerak, ia berhenti dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada nash secara sempurna karena ia menyadari memang ada medan yang di luar kemampuan dan jangkauannya. Setelah meneliti, akal menyadari bahwa syar’I tak mungkin memerintahkan hal yang membawa kemudharatan bagi manusia. Akal menyadari antara hati dan akal beredar di orbit yang sama, tak mungkin keduanya bertabrakan atau saling menghancurkan. Akal dan hati laksana bulan dan planet. Akal mengikuti hati yang dibimbing wahyu, sebagaimana bulan beredar mengelilingi planet.

Dalam medan yang diperbolehkan, akal bekerja mengerahkan segenap kemampuannya untuk berdaya upaya bagi kesejahteraan manusia, dengan satu syarat tidak keluar atau menentang wahyu. Dalam medan ayang dibolehkan bergerak inilah, akal benar-benar bermanfaaat melahirkan berbagai kemajuan fisik yang memabawa kesejahteraan hiduap manusia. Akal menjadi awal dari perbagai penemuan dan kemajiuan di bidang industri, iptek, kesehatan dan bidang kehidupan lainanya.

Ustadz Muhammad Qutb menjelaskan hubungan akal dengan wahyu dengan jelas. Kata beliau,” Jadi wahyu dan akal bukanlah dua hal yang seimbang (serupa dan sama). Tapi yang pertama (wahyu) lebih besar dan lebih sempurna dari yang kedua. Yang pertama datang untuk menjadi pokok bagi yang kedua dan mizan (neraca timbangan) untuk menguji konsep dan pemahaman yang kedua (akal) dan membenarkan kekurangan dan penyelewengan yang kedua. Antara keduanaya —tak diragukan lagi — memang ada kesesuaian namun atas dasar ini (sama-sama bekeraja demi kemaslahatan manusia namun wahyu mengendalikan dan mengawasi akal—pent), bukan atas dasar menganggap keduanya sebagai dua hal sebanding.” [Khashoishu al Tashawur al Islamy hal. 20, dari Basyuni hal. 27].

Dari sini akal seorang muslim adalah akal ghoibi, dalam artian kata mengimani hal-hal yang ghoib dan mu’jizat-mu’jizat yang telah ditetapkan Alalh sekalipun tak bisa dicerna akal sehat. Hal-hal yang ghaib dan mu’jizat para nabi memang seratus persen dari Allah, karena itu para nabi sendiri mendatangkan mu’jizat itu bukan atas kemauan mereka sendiri, namun sekali lagi atas kehedak Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,” Katakanlah Maha Suci Rabbku. Bukankah aku tak lain hanyalah seorang manusia biasa dan seorang rasul.” [QS. Al Isra’ :93].
Ini tentu berbeda dengan akal para “ pakar dan cendekiawan muslim ” hari ini yang banyak meragukan wahtu, hal-hal yang ghoib dan mu’jizat para nabi dengan alasan tak masuk akal. Akal yang demikian ini tentu bukan akal yang sehat, namun akal yang sakit dan teracuni oleh virus-virus pemikiran barat dan kufur.

Kedua: Akal Ushuli Salafy

Artinya akal yang benar-benar mengakui dasar-dasar dan pokok-pokok sumber ajaran Islam :
a) Mengakui dan mengimani Al-Qur’an Al-Karim, berikut muhkam dan mutasyabihnya, qath’i dilalah dan dhoni’ dialahnya.
b) Menghormati dan berkhidmat kepada sunah nabawiayah, menerima yang sunah yang shahih yang diterima oleh umat setelah diperiksa oleh para pakar hadits melalui qaidah-qaidah musthalah hadits. Akal seorang muslim selalu menerima setiap hadits yang shahih, tanpa membuat dikotomi hadits ahad-hadits mutawatir, hadits masalah hukum-hadits masalah aqidah dst seperti dilakukan oleh kaum Mu’tazilah, yang ditiru para “cendekaiawan gerakan pembaharuan keagamaan” dewasa ini.
c) Mengakui ijma’ dan mencari hal-hal yang telah menjadi ijma’ para ulama. Manakala suatu masalah telah menjadi ijma’, akal tak boleh mencari-cari celah untuk menemukan pendapat yang lain.
d) Mengakui qiyas shahih sebagai dasar keempat bagi ijtihad. Qiyas yang shahih akan membimbing akal menuju kesesuaian ajaran Islam dengan berbagai perkembangan zaman.
Karena itu akal seorang muslim menolak berbagai pemikiran yang merusak keempat dasar Islam ini. Akal menolak :
a) Orang-orang yang meragukan Al Qur’an baik seluruhnya, sebagiannya atau meski satu huruf sekalipun. Karena itu kita menolak anggapan dan tuduhan bohong yang mengatakan ada mushaf lain selain Al Qur’an yang lebh lengkap seperti pendapat Rafidzah, atau yang mengatakan Al Qur’an adalah kisah fiktif biasa layaknya novel picisan seperti yang dikatakan Thoha Husain dalam buku Al Syi’ru al Jahili’nya atau yang meragukan adanya Ibrahim seperti dikatakan oleh Muhammad Ahmad Khalfullah dalam disertasinya, Al Qashash al Fanni fi al Qur’anil Karim. Sebagaimana kita juga menolak orang-orang yang memasukkan teori-teori impor dari orang kafir untuk memahamai Al Qur’an seperti teori materialistik, sosialisme dst.
b) Kita juga menolak orang-orang yang mengingkari as sunah, yang menyerang dan menghujat manhaj penulisan hadits, para perawi-nya, mukharijnya, kaedah mustholah hadits dst.
c) Kita Juga menolak orang-orang yang hanya menerima sunah bila sesuai dengan kepentinagan mereka, namun menolaknya manakala tidak memberi keuntungan kepada mereka, sebagaimana disebutkan Allah dalam QS. An Nur : 47-50.
d) Kita juga menolak orang-orang yang mengingkari ijma’ secara terus terang atau menolaknya dengan alasan tak mungkin terajadi.
e) Kita Menolak orang-orang yang menolak dan mengingkari qiyas, karena qiyas seperti disebut oleh imam Al Asnawi adalah dan qoidatu al ijtihad wa al mushil ila al ahkam allati laa hasro laha /kaedah ijtihad dan hal yang menyampaikan kepada hukum yang jauh tak terbatas.
Selain empat dasar ini, akal seorang muslim juga menerapkan kaedah-kaedah yang telah disepakati untuk melakukan ijtihad seperti ushul fiqh, ilmu tentang waqi’, ilmu tentang bahasa arab [Nahwu, Sharaf, Balaghah dll], ilmu tentang asbabun nuzul, nasikh dan mansukh dll. Sebaliknya, kita menolak orang-orang yang memaksakan akal mereka untuk ikut nimbrung – bila tanpa dasar ilmu-ilmu dan syarat ijtiahad — dalam arena ijtihad dengan alasan kajian ulang dan ijtihad serta pembaharuan.

Seperti kita ketahui bersama, memang banyak yang mengkritik sikap berpegang teguh dengan dasar-dasar ajaran Islam ini sebagai sikap jumud, statis, kuno, ketinggalan zaman dan tak mampu menyesuaikan diri dengaperkemabangan zaman. Tuduhan ini selain salah juga mengada-ada. Betapa tidak, tak ada pihak manapun yang tidak memeganag teguh alandasa berpikirnya, sampai orang-orang kafir sekalipun. Lihat saja Eropa. Mereka betul-betul memegangi pendapat dan teori tokoh-tokoh filsafat kuno mereka seperti Plato dan Aristoteles, demikian juga dengan sastrawan seperti skahespear dan tokoh-tokoh lain. Bahkan orang Islam yang kebarat-baratan yang meneriakkan tuduhan tadi ternyata juga bangga dengan budaya kuno Yunani, Romawi, Babilonia, Asyuriah, Qibthiyah dst. [diambil dari majalah YDSUI]
Wallahu A’lamu bish Shawab

Tag:
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Kemuliaan Orang-orang Yang Berakal"