Impian Visioner Umar bin Khattab

Tidak ada komentar 639 views

Suatu hari Umar bin Khattab sedang duduk bermajlis dengan para sahabat-sahabatnya: “Bermimpilah kalian…”Umar membuka majlis untuk orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ada yg berkata: “Saya bermimpi rumah ini dipenuhi uang Dirham dan saya infakkan fi sabilillah.” Yang lain berkata: “Saya bermimpi rumah ini dipenuhi emas, kemudian aku infakkan fi sabilillah.” Umar: “Bermimpilah…!” Ada lagi yg berkata: “Saya bermimpi rumah ini dipenuhi mutiara, zabarjad dan perhiasan, kemudian aku infakkan fi sabilillah dan aku sedekahkan.”

Kemudian mereka berkata: “Kami tidak tahu bagaimana kami harus bermimpi wahai amirul mu’minin?”. Umar kemudian menyampaikan mimpinya: “Adapun saya bermimpi rumah ini dipenuhi para kaum laki-laki sekaliber Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Muadz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah dan Hudzaifah Al Yaman.” (Imam Ahmad bin Hambal, Fadha’il Shahabah, Juz II, Hal. 740)

Jika kita perhatikan nama-nama para rijal yang diimpikan Umar bin Khattab diatas, kita akan mendapati mereka semua adalah representasi dari kriteria diatas. Itu bisa dilihat dari ucapan beliau, “ Kalau seandainya aku mengangkat Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai seorang pemimpin kemudian Allah menanyaiku kelak, maka aku akan katakan, Ya Allah sesungguhnya aku pernah mendengar NabiMu mengatakan, dia adalah orang terpercaya dari ummat ini. Seandainya aku mengangkat Salim Maula Abu Hudzaifah kemudian Allah menanyaiku, maka aku akan katakan, Ya Allah sesungguhnya aku  telah mendengar dia adalah orang yang benar-benar mencintai Allah dari hatinya. Seandainya aku mengangkat Muadz bin Jabal, kemudian Allah menanyaiku kelak, maka aku akan katakan, Ya Allah sesungguhnya aku mendengar NabiMu mengatakan, kelak ketika para ulama dikumpulkan dihadapan Allah, Muadz berada didepan para ulama yang lain sejauh lemparan batu (Imam Ahmad bin Hambal, Fadha’ilu Shahabah, hal:743)

Maka, pantaslah jika Umar bin Khattab sangat merindukan sosok-sosok diatas, ini adalah masalah kualitas seseorang, kualitas seseorang bisa dilihat dari kualitas impiannya. Karena walaupun bermimpi itu gratis, ternyata banyak yang tak berani bermimpi besar.

Ini juga masalah kesholehan seseorang. Karena hal ini bisa dilihat dari impian generasi terbaik di atas. Impian mereka berpusar pada kebaikan. Ini masalah kesungguhan pada kepedulian terhadap umat.

Semua impian tersebut tidak ada yang hanya memikirkan diri sendiri, karena memikirkan diri sendiri adalah pikiran orang kerdil. Dan ini masalah prioritas kebesaran. Saat sebagian berpikir tentang pentingnya pendanaan umat (bukan berarti ini tak penting)  sementara Khalifah cerdas nan adil berpikir maju ke depan tentang kader berkualitas.

Impian atau cita-cita itu penting, sebab pada dasarnya perilaku manusia terdiri dari niat dan gerak; niat menjelma dalam bentuk fikiran dan kemauan, sementara gerak menjelma dalam perbuatan praktis. Elemen-elemen perilaku ini terususun atas tiga mata rantai yang saling mendorong, mata rantai pertama adalah fikiran, lalu disusul oleh kemauan dan berhenti pada perbuatan praktis dengan fisik luar manusia.

Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah mengatakan bahwa seorang manusia itu Allah berikan dua kekuatan: kekuatan untuk mengetahui dan menganalisa, serta segala sesuatu yang menjadi konsukwensinya berupa ilmu pengetahuan, kemampuan berbicara untuk mengkomunikasikannya. Kekuatan kedua adalah kekuatan kehendak (cita-cita) dan cinta, serta segala sesuatu yang mengikutinya berupa niat, tekad dan perbuatan (Miftah Dar as-Sa’adah; hal. 41)

Kita tentu yakin ketika syari’at Islam diterapkan akan mendatangkan banyak kebaikan, baik dunia ataupun akhirat. Namun adakah hari ini orang yang memiliki dedikasi terhadap Islam sekualitas Abu Ubaidah bin Jarrah, Muadz bin Jabal, Salim Maula Abu Hudzaifah, nama-nama yang membayang di angan orang terbaik kedua dalam Islam itu?. Wallahu a’lam bi as-shawab.

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Impian Visioner Umar bin Khattab"