Hukum Sedot Lemak (Liposuction) Dalam Perspektif Maqashid as-Syari’ah

Gaya hidup pada zaman modern merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam kehidupan masyarakat, baik dari segi sandang, pangan, maupun papan. Kesemuanya seakan-akan menjadi tolak ukur atas keberhasilan seseorang. Penampilan yang eksotis dan parlente menjadi hal yang wajib disebagian kalangan masyarkat. Pun sama halnya dengan tempat tinggal dan menu harian yang mereka konsumsi bisa menjadi kebanggan tersendiri manakala hal itu sudah termasuk diluar kebiasaan.

Makanan adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Ia adalah salah satu sumber tenaga yang diperlukan tubuh untuk memasok asupan gizi sehingga dapat bekerja dan melakukan aktifitas secara maksimal. Era telah berubah dari tahun ketahunnya, dan kini makan bukan saja untuk memenuhi kebutuhan gizi. Lebih dari itu, tujuannya adalah untuk memenuhi hasrat dan keinginan. Alhasil, problematika zaman terhadap obesitas meningkat.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, lebih dari 40 juta orang Indonesia mengalami kegemukan atau obesitas.[1] Kegemukan bukan hanya masalah Indonesia. Riset Institut Pengukuran dan Evaluasi Kesehatan (IHME) Amerika Serikat dalam jurnal The Lancet, tahun 2014 menyebutkan, jumlah orang gemuk di dunia meningkat dari 875 juta orang pada 1980 menjadi 2,1 miliar orang pada 2013.

“Dalam riset IHME, merujuk Riset Kesehatan Dasar 2007 dan 2010, Indonesia masuk 10 besar negara dengan orang gemuk terbanyak. Menurut Riskesdas 2013, prevalensi orang gemuk lebih besar,” kata Sunarti, dari Komite Profesi Kesehatan Lain Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta, yang juga seorang nutrisionis, dalam siaran pers di Jakarta Rabu 26 April 2017.[2]

Data Riset Kesehatan Dasar Kemenkes 2013 menunjukkan, prevalensi nasional tertinggi problem kegemukan terjadi pada anak kelompok anak usia 5-12 tahun (18,8 persen), disusul kelompok 13-15 tahun (10,8 persen), dan 16-18 tahun (7,3 persen). Jumlah itu naik 4 persen dalam tiga tahun terakhir.[3]

Banyak masyarakat yang tak menyadari hal ini sejak dini. Akibatnya, saat dewasa perkara kegemukan menjadi perhatian disebabkan kebutuhan mereka akan penampilan dan lain sebagainya. Operasi menjadi jalan alternatif yang ditempuh oleh sebagian masyarakat terutama kalangan menengah keatas seperti artis dan pejabat yang notabene menjadi public figure masyarakat global. Menurut survey, kaum hawa menjadi peringkat teratas dalam menempuh jalan operasi untuk mengangkat lemak dengan dalih penampilan agar terlihat lebih menarik.

Akhirnya, munculah pertanyaan tentang menjalani operasi sedot lemak atau biasa disebut liposuction menurut perspektif maqashid syariah. Jika diperbolehkan, dalam hal apa saja yang menjadi kesimpulan para ulama tentang diperbolehkannya liposuction? Bagaimana solusi yang dapat ditempuh untuk menghindari obesitas?

Makalah ini akan mendeskripsikan apa itu liposuction dan hukumnya dalam perspektif Maqashid Syariah serta solusi masyarakat perihal obesitas dan liposuction serta evaluasi masyarakat tentang ishraf (berlebih-lebihan) dalam hal yang bersifat konsumtif terutama dalam hal makanan.

Definisi Liposuction dan Maqashid Syariah

  • Pengertian Liposuction
  1. Etimologi

Liposuction terdiri dari dua kata. Lipo adalah bahasa latin yang bermakna lemak dan dalam kamus bahasa Inggris  versi luring disebutkan bahwa suction bermakna kata benda (peng) isapan, pengisap. Suction juga bermakan sedotan, melekat kepada sesuatu dengan sedotan,  mangkok sedotan/penyedot.[4]

Adapun maqashid, secara bahasa adalah bentuk jama’ dari maqsudun, masdar mim dari kata qashada-qashdan-maqshudan. Maqashid meluputi dua makna, yaitu klarifikasi dan pelurusan.

2. Terminologi

Secara terminologi dapat kita simpulkan bahwa liposuction adalah salah satu jenis operasi kedokteran bersifat estetis yang tekniknya mengeluarkan lemak dari dalam tubuh dengan menggunakan alat peyedot yang diproyeksikan secara khusus untuk menyedot lemak dalam tubuh untuk mengurangi lemak dalam tubuh dengan tujuan yang bermacam-macam.[5]

Sedangkan Maqashid Syariah secara terminologi merupakan suatu ilmu yang membahas tentang tujuan hukum Islam. Menetapkan suatu hukum biasa disebut dengan berijtihad. Ijtihad adalah suatu pekerjaan untuk menyimpulkan suatu hukum syariat dari dalil-dalil yang terperinci yang bersumber dari syariat.[6] Untuk menentukan hukum baru, para ulama fiqih melakukan ijtihad yang setiap pendapat tersebut haruslah bertepatan dengan kehendak syariat.

Maqashid Syariat secara ringkasnya bermakna tujuan, hasil, atau maksud yang dikehendaki oleh syara’ melalui sumber dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam bahasa indonesia maqashid dapat diartikan pertimbangan. Yaitu suatu pendapat untuk mengukur antara baik dan buruk.[7]

Liposuction

  • Sejarah Liposuction Di Dunia.

Liposuction merupakan salah satu jenis operasi aesthetic yang tekniknya yakni dengan mengeluarkan lemak dari dalam tubuh dengan menggunakan alat. Berbagai alasan menyertai mengapa seseorang dapat melakukan liposuction, mulai dari alasan kesehatan dan juga kecantikan. Alasan-alasan yang menyertai tersebut kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing inividu.

Liposuction ditemukan oleh Giorgio Fischer dan ayahnya Arpad Fischer pada tahun 1974. mereka mempublikasikan hasil kerjanya pada tahun 1976. Kedua Fischer menggunakan kanula tumpul yang dihubungkan ke mesin sedot (suction pump) yang mereka buat sendiri. Pekerjaan mereka langsung digunakan oleh Illouz dan Fournier dari Paris, yang mencoba menyempurnakan teknik Fischer dan mempopulerkan liposuction ke seluruh dunia.

Dokter Amerika pertama yang ke Eropa dan belajar liposuction adalah Lawrence Field pada tahun 1977. Akan tetapi para dokter Amerika tidak tertarik pada teknik ini sampai tahun 1982 dimana para dermatologis (dokter kulit), dokter bedah kosmetik dan dokter bedah plastik pergi ke Perancis untuk belajar liposuction. Kursus pertama bedah hidup ( First American Live Course in Liposuction) dilakukan pada bulan  Juni 1983 di Los Angeles  dengan peserta yang multidisiplin (dari pelbagai  bidang dokter spesialis), 20% diantaranya adalah dokter spesialis kulit.

Perkembangan paling penting liposuction setelah penemuan oleh Fischer  adalah ditemukannya anestesi (pembiusan) lokal oleh Jeffrey Klein, seorang dokter spesialis kulit Amerika yang membuktikan bahwa dengan mengurangi lidokain dan epinefrin (adrenalin) sampai  10-20 kali, cairan yang sangat encer adalah aman dan efektif . Perkembangan dari “tumescent anaesthesia” ini, membuat liposuction dapat dilakukan pada bagian tubuh yang lebih besar hanya menggunakan anestesi lokal tanpa bahaya keracunan (overdosis) lidokain.

Timbulah suatu era baru dimana liposuction dapat dilakukan dengan cara berobat jalan (ambulatory) dimana pasien tetap sadar selama operasi. Beberapa dokter spesialis kulit- bedah membantu menyempurnakan ” tumescent liposuction ” dan membantu dan mengajarkan dokter seluruh dunia tentang teknik ini ke seluruh dunia.[8][9]

Di Indonesia , liposuction dilakukan sejak tahun 1980-an, tetapi dengan adanya 1 kasus fatal, liposuction menjadi menakutkan dan sangat tidak popular.

Tahun 1990, Dr Edwin Djuanda SpKK mengikuti kursus Liposuction di Graduate Hospital Philadelphia dibawah pimpinan Dr Julius Newmann  yang diselenggarakan oleh American Academy of Cosmetic Surgery.

Bulan November  tahun 1990, Perdoski Pusat mengadakan kursus pertama KURSUS BEDAH KULIT NASIONAL  di RSPAD Gatot Subroto dengan pengajar antara lain Dr Lawrence Field, Prof Marwali Harahap, dr IGAK Rata, dr Sjarif M.Wasitaatmadja, dr Edwin Djuanda (yang baru mengikuti Kursus Liposuction di Graduate Hospital, Philadelphia). Dalam kursus tersebut  liposuction termasuk dalam salah satu topik yang diajarkan baik teori maupun praktek.

Pada akhir tahun 1980-an/ awal 1990, reaksi dari dunia medis Indonesia  terhadap liposuction umumnya cenderung melarang dan mencegah agar liposuction tidak dilakukan lagi karena membahayakan jiwa pasien.

Hal ini tidak mengherankan, karena dunia medis Indonesia masih belum mendapat informasi dan belum percaya bahwa liposuction dapat dilakukan dengan bius lokal 100%. Sekarang tumescent anesthesia dilakukan oleh hampir seluruh dokter liposuction di seluruh dunia.

Diantara  tahun 1990-2000 beberapa kali Marwali Harahap mendatangkan para ahli bedah kulit dunia untuk mengajarkan bedah kulit di Solo (Jawa Tengah) dan Jakarta (RS Persahabatan). Bulan Maret 2000, Pierre Fournier memberikan kursus liposuction di RS Persahabatan Jakarta.  Bulan Maret 2002, kembali Lawrence Field datang ke Indonesia untuk memberikan kursus liposuction di Cimahi/Bandung, Padang dan Medan .

Pada tanggal 12 Februri 2007, Departemen Kesehatan Republik Indonesia merampungkan HEALTH TECHNOLOGY ASSESSEMENT  (H.T.A) mengenai LIPOSUCTION di Indonesia dan menarik kesimpulan bahwa liposuction yang dilakukan dalam bius lokal tumescent merupakan liposuction paling aman (banyak dilakukan oleh dokter spesialis Kulit), sedangkan untuk spesialis Bedah Plastik dilakukan dalam bius total (general anesthesia).

  • Jenis-Jenis Liposuction

            Liposuction termasuk bagian dari operasi kecil yang sering digunakan masyarakat untuk menyelesaikan masalah kegemukan. Beberapa diantara juga menggunakan metode karena sebuah tuntutan pekerjaan. Dalam dunia kedokteran, lipocustion memiliki variasi yang beragam. Mulai dari yang paling ringan sampai yang memiliki resiko tinggi. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Abdominoplasty lipectomy

Jenis liposuction ini dilakukan dengan cara melakukan pembedahan dengan pisau pada bagian kulit yang luas untuk dapat mengeluarkan lemak. Setelah dilakukan liposuction, prosedur ini akan meninggalkan bekas garis pembedahan.

  1. Mesotherapy (Injection lipolysis)

Jenis mesotherapy pertama kali digunakan pada awal tahun 2002, dengan tujuan awalnya adalah untuk mengobati penyakit systemic lipo-dissolve. Jenis tindakan ini berfokus pada penyuntikan area yang berlemak dengan obat tertentu yang dapat membuat lemak terangsang untuk lysis (memecah). Lokasi penuntikan berada di bawah kulit.

  1. External Ultrasound (Ultra Shape)

Jenis ini berbeda dengan metode suntikan, pembedahan dengan menyayat, dan operasi.  Jaringan lemak dapat dihancurkan tanpa melakukan prosedur invasif (memasukkan alat tertentu ke dalam tubuh), cukup dengan menggunakan ultrasound dari luar tubuh. Namun, tindakan ini tidak disarankan oleh Food and Drug Administration (FDA).

  1. Suction-assisted lipoplasty (SAL)

SAL adalah tindakan yang benar-benar memasukkan alat sedot (suction) ke dalam jaringan lemak untuk kemudian menyedot lemak yang ada di bagian tubuh tertentu. Jenis liposuction ini beresiko terjadi kerusakan pada jaringan lain di sektar jaringan lemak yang akan disedot dan memiliki kemungkinan terjadinya ketidakrataan permukaan kulit akibat proses penyedotan.

  1. Power-assisted liposuction (PAL)

Jenis liposuction ini hampir serupa dengan jenis SAL, hanya saja yang membedakan adalah sebelum lemak disedot, bagian tubuh yang berlemak akan diberikan getaran tertentu untuk menghancurkan lemak. Hal ini tentu memudahkan proses penyedotan lemak.

  1. Ultrasound-assisted lipoplasty (UAL)

Sebelum dilakukan penyedotan lemak, terlebih dahulu seseorang akan dilakukan prosedur USG. USG akan membantu mendeteksi bagian tubuh yang memiliki lemak jahat, sehingga waktu untuk penyedotan lemak akan terbilang cukup singkat. Diperkirakan metode ini jarang menyebabkan perdarahan dan kerusakan jaringan akibat penyedotan.

  1. Body sculpting (Smartlipo), LAL (Laser-assisted liposuction)

Dalam sejarah perkembangannya, jenis liposuction ini telah diijinkan oleh Food and Drug Administration (FDA). Metode penyedotan lemak ini diawali dengan menggunakan laser dengan frekuensi tertentu. Setelah itu baru lemak akan disedot keluar. Prosedur ini mendapat dukungan dari FDA karena efektif digunakan pada lemak dalam jumlah sedikit.

  1. Radio frequency (thermage)

Teknologi jenis ini terbilang cukup aman dengan cara memberikan pemanasan volumetrik ke dalam kulit. Prosedur ini ditujukan untuk membuat kulit lebih kencang dengan focus pada pengencangan kolagen yang ada.

  1. VASER

Vaser merupakan jenis liposuction yang mirip dengan prosedur UAL. Hanya saja prosedurnya terbilang lebih banyak. Tahap pertama adalah melakukan infus di daerah yang akan disedot lemaknya dengan larutan NaCL, tahap berikutnya adalah dilakukannya transfer gelombang suara VASER dengan focus pada penghancuran lemak, dan pada tahap akhir lemak akan dihisap keluar dengan menggunakan alat. (SPT)[10]

  • Pemilihan Pasien

Pemilihan pasien merupakan penentu penting untuk mendapatkan hasil bedah estetika yang baik, khususnya dalam pembentukan tubuh. Tidak semua pasien yang meminta liposuction adalah kandidat yang baik. Konsultasi dimulai dengan penilaian dari tujuan pasien:

  1. Apa yang ingin pasien ubah dari tubuhnya?
  2. Apa yang hasil yang diharapkan pasien untuk dicapai dengan sedot lemak?

Dokter ahli bedah sebaiknya mempersiapkan pasien dengan penilaian yang realistis dari apa yang dapat dan tidak dapat dicapai dengan sedot lemak. Beberapa pasien mungkin memerlukan prosedur alternatif (seperti abdominoplasty) atau sedot lemak yang dikombinasikan dengan prosedur bedah terbuka. Selain itu, ahli bedah perlu mewaspadai kandidat pasien yang kurang layak untuk sedot lemak seperti:

  1. Perfeksionis sehingga selalu merasa terlihat “cacat,”
  2. Pasien dengan masalah gangguan makan dan sedang mengalami depresi berat,
  3. Pasien kelebihan berat badan namun tidak mampu melakukan penurunan berat badan dan mengharapkan dengan operasi dapat menurunkan berat badan mereka secara signifikan.

Riwayat berat badan terperinci merupakan bagian penting dari konsultasi sedot lemak. Kandidat yang ideal berada pada berat badan stabil dengan diet dan olahraga secara teratur. Pasien yang memiliki riwayat berat badan yang sering fluktuasi atau peningkatan yang signifikan, berisiko tinggi terjadinya peningkatan berat badan setelah sedot lemak. Mempertahankan berat badan stabil, diet sehat dan latihan teratur selama setidaknya 6 sampai 12 bulan diperlukan untuk membentuk kebiasaan menuju perubahan gaya hidup.

Liposuction tidak selalu ditawarkan sebagai pengobatan untuk obesitas. Dalam istilah praktis, liposuction sering digunakan untuk menghilangkan lemak yang sebenarnya bisa dikurangi dengan diet dan olahraga. Kandidat ideal liposuction berada tidak lebih dari 20% berat badan dari ideal mereka atau kurang dari 50 kilogram di atas grafik berat badan ideal. Tonjolan akibat distribusi lemak abnormal atau lemak yang didistribusikan melebihi batas-batas bentuk tubuh yang ideal adalah “target” daerah yang biasanya disedot.

  • Evaluasi Pasien

Pemeriksaan fisik secara menyeluruh selalu dilakukan terutama fokus pada pemeriksaan “daerah bermasalah”. Hal ini penting untuk mengetahui bentuk seluruh tubuh sebagai bahan pertimbangan pembedahan dan kontur tubuh yang diinginkan. Para pasien diperiksa pada daerah lemak yang tidak proporsional, asimetri di kedua sisi, selulit, varises, dan zona adherence. Untuk bagian yang asimetris, jika tampak signifikan, diperlukan perhatian lebih dari pasien. Pada daerah perut pertimbangkan daerah bedah potensial, lakukan pemeriksaan hati-hati untuk hernia, kelemahan dinding perut yang signifikan, jaringan parut, riwayat penyinaran, dan apa pun yang mungkin mempengaruhi integritas dinding perut.

Salah satu temuan fisik yang paling penting, yang akan menentukan pada hasil akhir yang signifikan adalah kualitas dan kelenturan kulit pasien. Mencubit dan palpasi kulit pasien penting untuk menilai tingkat kelemahan dan ketebalan kulit. Lapisan dermis yang tebal lebih berpotensi untuk kencang kembali setelah sedot lemak dan memberikan hasil yang diinginkan. Kulit tipis, dengan striae membentang (menunjukkan kerusakan dermal) tidak mungkin untuk kencang kembali dan mungkin terlihat lebih buruk setelah sedot lemak. Jika ternyata ditemukan bahwa kualitas kulit tidak cocok untuk sedot lemak, teradapat prosedur alternatif yang diusulkan,seperti eksisi kulit, jika diindikasikan. Liposuction tidak meningkatkan selulit sehingga tidak perlu khawatir terhadap efek ini.

Kualitas lemak juga harus dinilai karena dapat mempengaruhi hasilnya. Anatomi dari jaringan adiposa subkutan bervariasi di seluruh tubuh. Beberapa area tubuh telah baik kompartemen adiposa dalam dan kompartemen adiposa dangkal, yang dipisahkan oleh sebuah fasia subkutan berbeda. Lemak superfisial di tubuh dan paha terdiri dari lobulus yang lebih kecil, tersusun erat secara vertikal, tipis, berserat septa. Lemak bagian dalam terdiri dari lobulus yang lebih besar tersusun lebih longgar dengan banyak jarak dan tidak teratur dengan septa tertata. Di daerah ini, lemak lapisan dalam adalah target untuk sedot lemak. Lemak superfisial atasnya (biasanya) relatif tipis dan akan bertindak sebagai lapisan pelindung untuk menyembunyikan cacat kontur kecil, terutama bagi ahli bedah sedot lemak yang belum berpengalaman. Sebaliknya, daerah lain dari tubuh yang biasanya disedot (lengan, kaki bagian bawah) hanya memiliki satu lapisanlemak. Penyedotan dengan kanula yang lebih kecil akan membantu untuk menghindari penyimpangan kontur.

Markman dan Barton mempelajari jaringan lemak subkutan dari tubuh dan ekstremitas bawah, ditemukan bahwa lobulus lemak di lapisan  superfisial (SL: superficial layer) yang kecil dan erat dikemas dalam septa dengan jarak yang rapat, sedangkan lapisan dalam (DL: deep layer) yang lebih besar, lebih teratur, dan kurang terorganisir. Di daerah glutealis dan daerah paha susunannya kurang jelas, dan menghilang dari trokanter sampai lutut. Hanya ada satu lapisan lemak di kaki bagian bawah.[11]

Teknik sedot lemak superfisial dipopulerkan oleh Marco Gasparotti dkk, menggunakan kanula kecil untuk aspirasi lemak dari bidang dangkal (1-2 mm). Pendukung dari teknik aspirasi ini berpendapat bahwa dengan mengarah ke bidang dangkal kontraksi kulit di atasnya dapat diprediksi. Sedot lemak superfisial hanya meninggalkan sedikit margin kesalahan dan sebaiknya tidak dilakukan kecuali oleh ahli bedah sedot lemak telah mendapatkan cukup pengalaman di bidang dalam dan menengah. Penulis berpendapat bahwa bidang dangkal harus diperlakukan dengan sangat hati-hati karena sangat berpengaruh terhadap karir seseorang.[12]

  • Penggunaan

Operasi sedot lemak membantu orang yang memiliki permasahalan terhadap bobot tubuh. Untuk yang memiliki penyakit obesitas dan gangguan penyakit lain, seperti Hipertensi, Diabetes, Jantung dan masalah-masalah kesehatan lain yang diakibatkan oleh timbunan lemak yang terlalu banyak didalam tubuh. Sedangkan ada beberapa golongan masyarakat yang membutuhkan operasi sedot lemak untuk terlihat menarik karena beberapa alasan. Public Figure misalnya, agar terlihat menarik didepan orang banyak. Dengan cara ini memudahkan penurunan berat badan secara singkat. Dari perihal tersebut, disimpulkanlah suatu hukum mengenai pembolehan dan pengharaman dalam memakai motode sedot lemak beserta tujuan dari melakukannya.[13]

BACA JUGA: Hukum Menimbun Barang Saat Dibutuhkan 

***

Maqashid Syariah

  • Sejarah Singkat

Tidak dapat dipungkiri bahwa syariat Islam mencakup tujuan didalamnya, yaitu untuk mendapatkan maslahat dan mencegah mudharat dengan disertai sumber utama dari maqashid yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Keduanya menunjukkan maqashid syariat di banyak ayat dan hadits yang termaktub dalam kitab-kitab para ulama.

Beberapa contoh maqashid dalam al-Qur’an adalah penjelasan tentang tujuan suatu hukum syariat seperti shalat yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar[14], kewaijban zakat untuk mensucikan diri dan harta[15], dan perintah berpuasa agar mendatangkan sikap takwa kepada Allah subhanahu wata’ala[16], dan masih banyak lagi penjelas maqashid yang terdapat dalam al-Qur’an.

Maqashid dalam perjalanannya memiliki banyak penamaan yang berbeda. Sebelum menjadi ilmu tersendiri, para ahli ushul memiliki istilah yang mereka bahasakan dalam kitab-kitab yang mereka karang dalam memaknai maqashid. Beberapa diantaranya diistilahkan dengan al-ma’aniy oleh Imam ath-Thabari dalam tafsirnya, al-hikmah oleh al-Ustadz al-Raisuniy, al-mudzannah dan al-‘illah oleh Imam Asy-Syathibi, al-mashlahah oleh Doktor al-Khadimi, as-sabab oleh al-Amidi, al-‘alamah oleh as-Sarkhasi, al-munasibah oleh Ibnu Hajib, al-ba’its oleh Ibnu Hajib, al-ghardhu oleh banyak ulama dari kalangan Asy’ari.[17]

Hampir semua ulama ushul kontemporer, termasuk Ibnu Asyur bersepakat bahwa Imam as-Syathibi adalah bapak maqashid syariah pertama sekaligus peletak dasarnya. Namun, itu tidak berarti bahwa sebelum beliau, maqashid tidak ada. Imam as-Syathibi lebih tepat disebut orang pertama yagn menyusun secara sistematis.

Bagi sejumlah teoritikus hukum Islam, maqashid adalah pernyataan alternatif untuk kemaslahatan-kemaslahatan. Misalnya, Abdul Malik al-Juwaini (478 H), salah seorang kontributor paling awal terhadap teori maqashid menggunakan istilah al-Maqashid dan al-Mashalih al-Ammah (kemaslahatan umum) secara bergantian.[18]

Abu Hamid al-Ghazaly (505 H) mengelaborasi klasifikasi maqashid, yang ia masukan dalam kategori kemaslahatan mursal (al-Mashalih al-Mursalah), yaitu kemaslahatan yang tidak disebut secara langsung dalam nash Islam.[19] Fakhr al-Din al-Razi (606 H) dan Al-Amidi (631 H) mengikuti terminologi al-Ghazali.[20]

Najm al-Din al-Tufi (716 H) mendefinisikan kemaslahatan sebagai apa yang memenuhi tujuan sang Pembuat Syariah (al-Syari’), yaitu Allah. Kemudian al-Qarafi (1285 H) mengaitkan kemaslahatan dan maqashid dengan kaidah ushul fiqh yang menyatakan: “Suatu maksud tidak sah kecuali jika mengantarkan pada pemenuhan kemaslahatan atau menghindari kemudharatan”.[21] Ini beberapa contoh yang menunjukan kedekatan hubungan antara kemaslahatan dan maqashid dalam konsepsi ushul fiqh (khususnya antara abad ke-5 dan 8 H, yaitu periode ketika teori maqashid berkembang).

Sejarah ide tentang maqashid syariah atau tujuan-tujuan atau maksud yang mendasari perintah al-Qur’an dan Sunnah dapat dilacak hingga masa Nabi Muhammad. Sebagaimana diriwayatkan dalam sejumlah peristiwa. Salah satu contoh paling populer adalah hadits yang bersilsilah mutawatir tentang shalat asar di Bani Quraizhah,[22] di mana Rasulullah mengutus sekelompok sahabat ke Bani Quraizhah dan memerintahkan mereka untuk melaksanakan shalat asar di sana.[23] Namun yang terjadi batas waktu shalat asar hampir habis dan para sahabat tiba di Bani Quraizhah. Lalu para sahabat terbagi menjadi pendukung dua pendapat yang berbeda: pendapat pertama bersikukuh salat Asar di Bani Quraizhah dengan konsekuensi apapun yang terjadi, sedangkan pendapat kedua bersikukuh shalat Asar diperjalanan (sebelum waktu shalat Asar habis).

Rasionalisasi di balik pendapat yang pertama adalah bahwa perintah Rasulullah itu secara tekstual meminta setiap orang untuk melaksanakan shalat Asar di Bani Quraizhah, sedangkan rasionalisasi pendapat kedua adalah ‘maksud/tujuan’ perintah Rasulullah adalah meminta para sahabat bergegas menuju Bani Quraizhah dan bukan ‘bermaksud’ menunda shalat Asar hingga habis waktu shalat. Menurut perawi, ketika para sahabat melaporkan cerita tersebut kepada Rasulullah, Rasulullah meneguhkan kebenaran kedua opini para sahabat. Taqrir Rasulullah sebagaimana para fakih dan ulama, menunjukan kebolehan dan kebenaran kedua sudut pandang diatas.

Satu-satunya ulama yang tidak setuju dengan para sahabat yang mengerjakan salat di perjalanan adalah Ibnu Hazm azh-Zhahiri (seorang fakih terkemuka madzhab leteralis atau zahiri), yang menulis bahwa kelompok Sahabat tersebut seharusnya mengerjakan shalat Asar setelah sampai di Bani Quraizhah, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah bahkan setelah tengah malam sekalipun.[24]

Contoh diatas memberikan ilustrasi awal sejarah konsep-konsep maqashid syariah dalam aplikasi hukum Islam dan bahwa implikasi yang muncul akibat memberikan kedudukan fundamental pada maqashid sudah ada sejak zaman Rasulullah dan para Sahabat.

Maqashid menjadi sebuah ilmu tersendiri setelah dikodifikasi pertama kali oleh Imam asy-Syatibi sebagai orang yang mempopulerkannya. Dari hal tersebut, disimpulkan bahwa syariat islam dibangun atas dua dasar, yaitu agar segala malan yang dikerjakan oleh para mukallaf mendapat maslahat dan atau mencegah mudharat. Seiring dengan pengembangannya, disimpukan bahwa dari dua dasar tersebut memiliki suatu tujuan yang diklasifikasikan oleh para ulama menjadi lima urgensitas dalam islam, yaitu menjaga agama, nyawa, kehormatan, akal, dan harta.

  • Sumber Maqashid

Maqashid dalam penerapannya akan menghasilkan faidah yang disimpulkan dari sumber-sumber maqashid yang telah disepakati oleh para ulama. Dengan sumber tersebut akan memudahkan bagi para mujtahid untuk menentukan konteks yang terdapat dalam suatu nash, mengungkap maksud dari suatu hukum, dan menjelaskan orientasi dari sebuah syariat yang Allah tetapkan bagi para hamba-Nya. Sumber-sumber tersebut adalah:

  1. Ilmu Kalam
  2. Al-Qur’an dan as-Sunnah
  3. Hukum Syariat dari sisi penerapannya
  4. Perubahan syariat dari hasil penelitian dalam bab-bab yang bermacam-macam
  5. Ilmu Bahasa Arab
  6. Keadaan Mukallaf dari sisi wadh’i bagi pembebanan syariat
  7. Keadaan mukallaf dari sisi wadh’i dibawah hukum taklif[25]

Maqashid Dalam al-Qur’an dan as-Sunnah

  • Al-Qur’an
  1. Maqashid dari penciptaan makhluk hanya untuk beribadah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”  (QS. adz-Dzariyat: 56)

  1. Maqashid dari dibangkitkannya makhluk kelak diakhirat untuk berintropeksi diri dan makhluk diciptakan bukan karena tidak ada sebab

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka, Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?”  (QS. Al-Mukminun: 115)

  1. Maqashid dari diutusnya nabi Muhammad

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami utus kamu (wahai Muhammad) kecuali untuk rahmat bagi semesta alam”  (QS. Al-Anbiya’: 107)

  1. Maqashid dari diturunkannya al-Qur’an

…. وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (muslim)”  (QS. An-Nahl: 89)

  1. Maqashid dari diperintahkannya shalat

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“dan kerjakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan  (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  (QS. Al-Ankabut: 45)[26]

  • As-Sunnah

Salah satu contoh dari as-Sunnah adalah ketika ada seorang badui yang buang air didalam masjid dan para sahabat berkeinginan untuk menghardiknya ketika buang air. Lantas Rasulullah melarang mereka untuk mencegah badui tersebut seraya berkata,

“Biarkan dia dan siramlah bekas kencingnya dengan seember air, karena sesungguhnya aku diutus kepada kalian untuk memudahkan dan bukan untuk menyulitkan (suatu perkara).”[27]

Maqashid Dan Kaitannya Metodologi Ijtihad

  • Maqashid dengan Qiyas

Qiyas dibangun atas dasar illah yang terdapat dalam suatu hukum. Begitu juga qiyas berkaitan dengan cara mencari illah tersebut, serta penelitian terhadap jenis hukum yang terkait, dan penelitian terhadap pijakan sebab dari suatu hukum tersebut. Semua yang disebut diatas adalah dalil untuk menetapkan suatu maqashid syariah.

Sebagai contoh pengqiyasan nabidz (fermentasi kurma) terhadap khamr. Hukum asal dalam syariat adalah keharaman meminum khamr dan hukum cabang darinya adalah nabidz yang mana memiliki illah yang sama yaitu sama-sama memabukkan. Maka, dari hal tersebut ditariklah hukum mengonsumsi nabidz adalah haram berdasar qiyas terhadap khamr. Maqashid dari kedua hukum tersebut adalah untuk menjaga akal dan harta sebagai urgensitas dalam agama.[28]

  • Maqashid dengan Maslahat Mursalat

Jika terdapat suatu perkara yang mana Allah tidak menyimpulkan hukum perkara perkara tersebut, akan tetapi telah disepakati oleh para ulama melalui kaidah dan rambu serta dalil syar’i sehingga tercapai suatu hukum, maka itulah yang dinamakan maslahat mursalat. Hal ini adalah bentuk murni dari maqashid syariah itu sendiri.

Dalam tatanan praktek, ada pengumpulan al-Qur’an menjadi satu mushaf sebagai maslahat agar kaum muslimin tidak kehilangan dasar hukum mereka meskipun Allah dan Rasul-Nya pun tidak pernah menyinggung hukum dari pengumpulan tersebut. Hal lain adalah kodifikasi ilmu yang juga belum pernah dipraktekkan oleh Rasulullah. Kesemuanya adalah bentuk maslahat yang dipandang akan lebih menjadikan suatu perkara mencapai pada tujuannya.

Dewasa ini, maslahat mursalat sering dipakai untuk perkara-perkara kontemporer yang membutuhkan suatu kejelasan. Memakai teknologi modern untuk menampakkan syiar islam, dakwah dengan perantara  media visual, pengukuhan hak cipta dalam suatu produk dipelegalan tertentu, serta undang-undang kewarganegaraan dan kemiliteran yang terdapat manfaat bagi agama serta sesuai dengan jalannya adalah buah dari maslahat mursalat yang telah para ulama simpulkan. [29]

  • Maqashid dengan Istihsan

Istihsan adalah kecenderungan sesorang pada sesuatu karena menganggapnya lebih baik, dan ini bersifat lahiriyah (hissy) ataupun maknawiah. Meskipun hal itu dianggap tidak baik oleh orang lain. Istihsan juga dapat diartikan dengan penangguhan hukum seseorang mujtahid dari hukum yang jelas (al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’, dan qiyas) ke hukum yang samar-samar (qiyas khafiy, dll) karena kondisi atau keadaan darurat atau adat istiadat.

Beberapa contohnya adalah legalitas produk suatu perusahaan, atau legalitas kurir makanan. Termasuk dari istihsan adalah pemaafan dalam penipuan ringan dalam muamalah agar tidak mendapat kesusahan, melihat aurat ketika sedang mengobati pasien, dan contoh lainnya yang dapat diperdalam dalam buku-buku ushul fikih.[30]

  • Kaidah-Kaidah Dalam Beramal Dengan Maqashid

Maqashid Syariah adalah bagian dari ilmu yang harus dipelajari bagi para penggiat ilmu agama baik mujtahid, mufti, thullabul ilmi, atau masyarakat pada umumnya. Maqashid termasuk bagian dari alat untuk mensikapi suatu masalah agar dapat dihukumi secara syar’i. Ketika suatu permasalahan tidak terdapat nash, ijma, atau qiyas yang menjelaskan akan kehalalan atau keharamnnya, maqashid dapat menjadi salah satu sarana dalam menentukan suatu hukum. Akan tetapi, dalam beramal dengan maqashid tidak sembarang orang dapat melakukannya. Hal tersebut terdapat rambu-rambu yang telah disimpulkan oleh para ulama. Beberapa diantaranya adalah;

  1. Beramal dengan maqashid dibatasi hanya pada kalangan mujtahid
  2. Perkara yang sedang dihukumi harus dipastikan benar-benar merupakan sebuah maqashid syariah dan maslahat bagi agama
  3. Ada maslahat yang jelas jika beramal dengannya
  4. Mengamalkan hukum dengan maqashid harus bersesuaian dengan hukum lainnya
  5. Memprioritaskan maqashid yang lebih besar, lalu dibawahnya dan seterusnya ketika terdapat gesekan antara keduanya. Maka, hifdzu diin lebih diprioritaskan atas hifdz-hifdz lain
  6. Beramal dengan maqashid dibatasi dalam hukum yang memiliki illah atau terdapat unsur ta’lil dan bukan dalam perkara ibadah
  7. Hendaknya maqashid itu dipastikan denan keyakinan atau dzan yang mendekati kebenaran
  8. Maslahatnya harus nampak jelas, tidak menjadi perdebatan dikalangan ulama
  9. Hendaknya maqashid tersebut bersifat umum yang berlaku diberbagai tempat, orang, atau waktu
  10. Hendaknya maqashid atau masalaht tersebut memiliki batasan yang jelas, sehingga tidak meluas atau menyempit pada beberapa bagian bahasannya[31]

Hukum Melakukan Liposuction

Liposuction merupakan praktik kedokteran modern yang mungkin belum didapati pada era keemasan Islam. Sehingga belum kami dapatkan ulama terdahulu berkomentar tentang hal tersebut. Pembolehan liposuction merupakan ranah fikih yang sudah banyak dikaji oleh para ulama kontemporer. Beberapa diantara mereka ada yang memperbolehkan dengan syarat dan ada yang tidak memperbolehkan dalam suatu kondisi sesuai dengan hujjah masing-masing.

Majmu Buhuts Islamiy Bi al-Azhar, salah satu forum ulama yang berada di universitas al-Azhar telah banyak membahas perihal liposuction. Hukum praktik ini telah ditulis dalam beberapa situs yang dapat diakses melalui internet.

Doktor Ahmad Umar Hasyim menukil bahwa setiap praktik penyembuhan diperbolehkan secara syar’i sengan syarat tidak menjadikan hal itu sebagai sarana untuk menutupi atau merubah, atau menimbulkan fitnah. Hal itu adalah perbuatan yang keji yang diharamkan dalam Islam dan pelakunya dapat berdosa terhadap perbuatannya yang telah melanggar batasan agama. Sedangkan liposuction melalui perkembangannya tidak termasuk dari praktik yang membahayakan dan bukan perbuatan yang keji selama ada maslahat dan masih dalam koridor yang dibenarkan oleh syariat.[32]

Syaikh Atiyyah Shaqar -Mantan Ketua Lajnah Fatwa al-Azhar- berkata dalam fatwanya, “sesungguhnya operasi kecantikan itu ada dua macam.

  1. Seperti menghilangkan bagian yang asing yang terdapat dalam tubuh. Seperti blabla yang tidak menimbulkan keraguan terhadap akal.
  2. Dan jenis pemulihan lain adalah yang lebih sering disebut penyempurnaan seperti memotong jari tambahan. Pada dasarnya hukum operasi seperti itu adalah mubah. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah menghindari dari maksud untuk menutup-nutupi sesuatu dari orang lain, mengelabui, atau mengundang fitnah terhadapnya. Seperti, operasi plastik bagi orang tua yang tidak memiliki hajat agar terlihat lebih muda.”[33]

Doktor Ali ash-Shawa -dosen Ushul Fikih Universitas Yordania- mengatakan, melakukan perubahan kepada bentuk aslinya diperbolehkkan menurut syariat. Karena, kelainanan seperti ini tumbuh pada tempat yang tidak semestinya serta tidak menyelisihi fithrah yang telah Allah ciptakan untuk manusia. Syaikh Jamal Qathab Ketua Lajnah Fatwa al-Azhar, Doktor Abdurrahman al-‘Iwadhiy rektor Uniiversitas at-Thayyibah al-Islamiyah, Syaikh Abdul Bariy az-Zamzamiy salah satu ulama, semua berkomentar bahwa jika operasi kecantikan tersebut tidak berefek pada merubah asal ciptaan Allah, maka hal tersebut bukanlah suatu keharaman.[34]

Doktor Hisamuddin Afanah dalam fatwa yang terdapat di situs muwaqqi’ berkata, “Jika liposuction dilakukan karena sebuah keaadan darurat atau kebutuhan seperti obesitas sehingga terjadi pembesaran pada bagian dada, bokong, atau payudara, susah untuk beraktifitas, atau menyebabkan berbagai penyakit lainnya jika dibiarkan. jika hal ini tidak bisa disembuhkan kecuali dengan jalan operasi serta tidak terdapat madharat yang didapat setelah melakukannya, maka hal tersebut dibolehkan.

Adapun jika liposuction dimaksudkan untuk membentuk tubuh yang terlihat agar lebih indah serta alasan tidak syar’i lainnya yang dimaksud untuk mempercantik diri, maka hal tersebut secara syar’i haram dilakukan. Karena tujuan dari operasi tersebut untuk merubah tampilan agar lebih indah dan secara tidak langsung telah merubah ciptaan Allah. Dan amalan tersebut merupakan bagian dari amalan setan dan mengikuti langkah mereka. Allah berfirman,

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Dan janganlah kalian mengikuti langkah syaitan, sesungguhnya mereka adalah musuh yang nyata bagi kalian” (QS. Al-Baqarah: 168).

Dari beberapa pendapat ulama diatas dapat disimpulkan bahwa liposuction dibolehkan menutur syar’i jika memang dibutuhkan ataupun dalam keadaan darurat. Namun, ada beberapa rambu-rambu yang harus diperhatikan sebelum melakukan operasi:

  1. Tidak terdapat bahaya yang lebih besar setelah menjalankan operasi
  2. Liposuction bukan menjadi perantara yang diniatkan untuk mendapat kesembuhan dengan cara yang mudah, tidak terdapat madharat, dan tidak membuka aurat.
  3. Liposuction dilakukan oleh dokter wanita jika pasien yang dioperasi adalah wanita. Begitu pula dengan laki-laki harus ditindak oleh dokter laki-laki juga.[35]

BACA JUGA: Fuqaha’ versus Khutaba’

***

Identifikasi Maqashid Dalam Pembolehan Liposuction

  • Kaedah Syari dalam Pembolehan Liposuction

Pada prinsipnya Islam membolehkan semua aktifitas selama tidak ada dalil yang melarangnya, sebagaimana kaidah fiqih menyebutkan :

الأصل في الأشياء الإباحة إلا من دل عليه دليل

“Asal suatu perbuatan itu hukumnya boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh melakukan perbuatan yang berbahaya dan membahayakan.”

وهل أنزل الله من دآء في الأرض إلا جعل له شفاء

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Allah menurunkan pula obatnya.”[36]

الضرورات تبيح المحظورات

“Kondisi darurat membolehkan sesuatu yang terlarang.”

الضرورات تقدر بقدرها

“Suatu hal yang darurat dapat dilakukan sesuai dengan kadarnya.”

  • Kaedah Pelarangan Liposuction

الضرر يزال

“Kemudaratan itu mesti dihilangkan.”

  • Merubah Ciptaan Allah

Polemik yang terjadi saat ini adalah apakah liposuction termasuk bagian dari merubah ciptaan Allah?. Meskipun dalam dunia kedokteran liposuction dikategorikan sebagai operasi kecantikan, operasi ini tidak tergolong sebagai praktik yang merubah ciptaan Allah.

Operasi plastik secara umum terbagi dua, pertama berupa pengobatan (rekonstruktif) untuk mengobati cacat yang ada di badan atau disebabkan kecelakaan atau kebakaran. Artinya memulihkan (mengembalikan kepada keadaan semula) anggota badan yang cacat dan tidak dapat berfungsi akibat kecelakaan ataupun penyakit.

Misalnya lahir dalam keadaan bibir sumbing, jumlah jari kaki atau tangan yang berlebih, luka bakar pada wajah atau semua operasi yang bertujuan untuk pengobatan. Bentuk operasi plastik seperti ini dibenarkan dan dibolehkan di dalam syariat Islam.

Ketika terjadi kondisi cacat atau lahir sumbing, maka diperbolehkan operasi yang dilakukan bertujuan untuk pengobatan, walaupun pada akhirnya menghasilkan keindahan atau kecantikan pada seseorang. Berlakulah kaidah “kemudaratan itu mesti dihilangkan”.

Sedangkan, operasi yang bertujuan untuk kecantikan dan keindahan (kosmetik). Dengan kata lain, agar mempercantik diri dengan mencari bagian badan yang dianggap tidak nyaman bila dilihat orang, sehingga dia melakukan operasi mengubah bentuk anggota badan dengan mengikuti keinginan dan kepuasaannya.

Misalnya operasi hidung mancung, membesarkan payudara memperindah wajah, memperindah dagu dengan menghilangkan kerutan, memperindah payudara dengan mengecilkan atau membesarkannya dengan suntik silikon dll.

Islam mengharamkan seseorang yang melakukan bedah plastik tanpa indikasi atau hanya mempercantik diri untuk kepuasan diri semata (QS An-Nisa [4]:114). Itulah yang dimaksud bagian dari merubah ciptaan Allah. Sedangkan operasi plastik atau kosmetik yang dilakukan untuk pengobatan yang sifatnya bedah rehabilitasi hukumnya mubah karena suatu sebab.[37]

Penumpukan lemak yang terjadi adalah pengaruh dari apa yang dikonsumsi manusia dan mereka usahakan. Merubah ciptaan Allah telah banyak dijelaskan oleh para ulama dalam kitabnya. Para Ulama membahas hal tersebut dalam satu pembahasan yang berkaitan dengan wanita yang meminta ditato.

Imam at-Thabari berkata perihal tersebut: “Tidak boleh bagi seorang wanita merubah sesuatu yang telah Allah ciptakan baginya, baik merubah atau mengurangi untuk memperindah penampilan, meskipun untuk suaminya sendiri agar terlihat menarik. Seperti memisah alis yang menyambung atau sebaliknya, mencabut gigi gingsul, atau memotong gigi yang terlalu panjang, atau kumis jenggot atau bulu yang dengan cara dicabut (dengan maksud agar tidak tumbuh kembali), atau melakukan hair extention (menyulam rambut), kesemua hal diatas termasuk perbuatan yang dilarang oleh syariat dan termasuk bagian dari merubah ciptaan Allah.

Akan tetapi, imam ath-Thabari mengecualikan beberapa perubahan dikarenakan sebab darurat atau mengilangkan penyakit. Seperti, gigi gingsul yang mengganggu makan atau menyebabkan bibir tersu menerus berdarah, atau jari kembar yang mengganggu pekerjaan atau lain sebagainya, maka hal tersebut boleh dilakukan. Perkara diatas hukumnya sama bagi kaum adam apabila mereka ingin melakukan operasi tersebut. [38]

Dalam konteks hadits disebutkan wanita, bukan berarti hukum tersebut dikhususkan bagi para wanita saja. Salah satu hikmah yang dapat diambil adalah perbuatan tersebut (merubah ciptaan Allah) pada masa itu memang sering dilakukan oleh kaum hawa. Terbukti pada zaman sekarang praktik operasi kecantikan juga banyak dilakukan oleh wanita karir yang tetap ingin menjaga eksistensi mereka dilayar kaca.

Adapaun liposuction hanyalah salah satu jalan yang ditempuh untuk mengurangi lemak yang terdapat dalam tubuh dan bukan untuk merubahnya. Sebagaimana dalam hadits dikatakan, Rasulullah bersabda:

لعن الله الواشمات والمتنمصات والمتفلجات

“Allah melaknat wanita yang meminta ditato, yang mencukur alisnya, dan merenggangkan gigi (agar terlihat menarik).” (HR. Bukhari)

Maslahat dalam Liposuction

Sudah pasti dalam sebuah hukum yang disimpulkan dari kehidupan sosial terdapat maslahat yang dapat diperhitungkan, termasuk didalamnya maslahat yang didapat jika seseorang melakukan terapi liposuction. Dari pelajaran yang dapat dipertik dari maqashid syariah, tentu saja liposuction dilakukan untuk menjaga urgensinya, yaitu hifdzun nafs.

Dalam hal ini, Rasulullah juga menganjurkan untuk berobat jika terdapat penyakit dalam tubuh. Lemak bisa menjadi sumber energi jika mendapat asupan lemak yang seimbang. Sebaliknya, lemak bisa menjadi penyakit jika tubuh berlebihan mendapat asupan. Maka, penyakit yang disebabkan lemak dapat dihindari dengan mengurangi lemak manakala berlebih dan susah untuk hilangkan dengan motode sederhana. Rasulullah berabda:

وهل أنزل الله من دآء في الأرض إلا جعل له شفاء

“Dan tidaklah Allah menurunkan penyakit ke dunia melainkan Ia juga akan menghadirkan obatnya.”[39]

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya azza wajalla menurunkan penyakit dan juga obat. Dan setiap penyakit terdapat obatnya. Maka, berobatlah dan janganlah berobat dengan suatu yang haram.”[40]

Menilai dari hadits diatas, tidak ditemukannya illat yang mengatakan bahwa praktek liposuction haram secara mutlak. Namun jika diindikasikan untuk keperluan yang bukan mendesak seperti mempercantik diri serta kebutuhan yang tidak syar’i, maka bisa jadi praktik tersebut mengacu pada keharaman yaitu merubah ciptaan Allah.

Kesimpulan

Liposuction adalah salah satu alternatif bagi masyarakat berkebutuhan khusus untuk menangani masalah kegemukan. Dengan liposuction seseorang yang memiliki kelebihan berat badan dapat mengurangi kadarnya sehingga normal. Tentunya hal tersebut tidak sembarang orang yang dapat melakukannya. Mereka yang sudah mencapai darurat seperti susah melakukan aktifitas akibat kegemukanlah yang dapat melakukan proses pengangkatan lemak tersebut. Meskipun, hal tersebut tidaklah mudah dan membutuhkan dana yang lumayan merogoh kocek untuk melakukan satu tindakan operasi. Ulama telah sepakat atas pembolehannya guna mencegah madharat yang lebih besar.

Lebih dari itu, hal yang perlu diperhatikan adalah dengan menjaga kesehatan dan pola makan yang baik serta olahraga yang cukup agar senantiasa menjaga kestabilan tubuh serta mengurangi masalah kegemukan dengan cara yang normal. Hal tersebut juga mengandung maqashid syariah berupa sadd adz-dzariah untk mencegah keburukan-keburukan dikemudian hari. Wallahu a’lam. [Mutsanna bin Muhammad Natsir]

Dwonload Versi PDF: Hukum Liposuction Dalam Perspektif Maqashid

***

[1] http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2017/04/26/40-juta-orang-indonesia-mengalami-obesitas-399858

[2] ibid

[3] https://kumparan.com/@kumparannews/segawat-apa-angka-obesitas-pada-anak-indonesia

[4] http://ebsoft.web.id, versi luring

[5] Pratama Raha, Makalah Operasi Plastik Dalam Islami. Diakses dari https://www.sideshare.net/septianhara/

makalah-opoerasi-plastik-dalam-islam

[6] Ustadz Mustofa az-Zuroqo’, Hadharatil Islam, 12 Dzul Hijjah 1384 H.

[7] KKBI offline, versi 1.1, Ebta Setiawan (Pusat Bahasa: KBBI Daring Edisi III, 2010).

[8] http://lipoworld.blogspot.com/2013/06/sejarah-liposuction-sedotlemak.html

[9] Coleman WP III, Lawrence N. Guest Editors, Special issue for Liposuction Dermatol, Surg 1997;23/12:1125

[10] http://www.sehatfresh.com/jenis-jenis-liposuction-sedot-lemak-dan-sejarahnya/

[11] Markman B; Barton F; Jr, Anatomy of the Subcutaneous issue of the Trunk and Lower Extremity. Plast Reconst Surg, 1987.

[12] Mary K. Gingras, Makalah Liposuction

[13] Suci Ramdayani, Hukum Operasi Sedot Lemak dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Perspektif Maqashid Syari’ah, (Makasaar: Skripsi UIN Alauddin Makassar, 2017)

[14] Al-Ankabut: 45

[15] At-Taubah: 103

[16] Al-Baqarah: 183

[17] Hamzah Abu Faris, al-Madkhal ila Dirasati Ilmi Maqashidi as-Syari’ati al-Islamiyyati, (Libya: Darul Walid, Universitas Throblis, Throblis,  1433 H/ 2012 M), hal: 29-43.

[18] Abdul Malik al-Juwaini, Ghiyas al-Umam fi Iltiyas az-Zulam, ed. Abdul Azim ad-Diib (Qatar: Wazarah as-Syu’un ad-Diniyyah, 1400 H), h: 253

[19] Al-Ghazaly, al-Mustasyfa, (Bandung: Membumikan Hukum Islam melalui Maqasid Syariah, Cet. I, Terjemahan, Mizan Media Utama), h: 33.

[20] ibid

[21] Syihab al-Din al-Qarafi, al-Dzakirah (Beirut: Dar al-‘Arab, 1994), vol. 5, h: 478

[22] Sekitar tahun ke-& H. Lokasi tersebut beberapa mil dari Madinah.

[23] Muhammad al-Bukhari, al-Shahih, (Beirut: ed. Musthofa al-Bugha, Dar Ibn Katsir, 1986), h: 321.

[24] Ali Ibnu Hazm, Al-Muhalla, (Beirut: ed. Lajnah Ihya al-Turats al-‘Arabi, Dar al-Afaq), 3/29.

[25] Abdul Aziz bin Abdurrahman bin Ali bin Rabiah, Ilmu Maqashidus Syari, (Riyadh: 2002 M), hal, 33

[26] Hamzah Abu Faris, al-Madkhal ila Dirasati Ilmi Maqashidis Syari’atil Islamiyah, (Daaru Ibnu Hazm, Libya: 2012), hal: 16

[27] Ibid, hal: 17

[28] Ibid, hal: 21

[29] ibid

[30] Doktor Sayyid Shalih, al-Istihsan ‘inda Ulama’i Ushulil Fiqh, Hal: 79, 85.

[31] Dr. Mas’ud Shabri, Bidayatul Qashid ila Ilmil Maqashid, (Naskah Khusus: 2017 M) hal. 83

[32] Muwaqqi’ Rodadiy- Fatawa Thobiyyah, No. 3267, 16 Safar 1420 H.

[33] Lihat (Islam Awwanu Layin-Syar’iyyin) 18/12/2003 M.

[34] [Muwaqqi’u Islamin Awwanu Layin- Hawa wa Adam]

[35] http://www.fatawah.net/Fatawah/70

[36] Ibnu Hajar al-Asqalaniy, Ithraful Musnadi al-Mu’taliy bi Ithrafil Musnadi al-Hambaliy, (Beirut: Dar Ibnu Katsir), 8/267

[37] https://portalmadura.com/bagaimana-hukum-sedot-lemak-dalam-islam-126410

[38] Ali bin Nayif as-Syuhud, al-Khulashah fi Asbabi Ikhtilafil Fuqoha’, 2/88

[39] Ibnu Hajar al-Asqolany, Itraful Musnadil Mu’tali bi Itrafil Musnadil Hambali, (Beirut: Daaru Ibnu Katsir), hal: 268

[40] Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, (Hidr Abad: Majlis Dairotul Ma’arif an-Nadzomiyyat al-Kainah, 1344 H), 2/144

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Hukum Sedot Lemak (Liposuction) Dalam Perspektif Maqashid as-Syari’ah"