Dilema Sosial Media

Tidak ada komentar 105 views

Berbicara tentang realita hari ini, berarti kita berbicara tentang suatu hal yang menjadi bagian kehidupan manusia era ini, sosial media. Ya, sosial media adalah hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita saat ini, hampir setiap dari kita memiliki akun pada setiap platform media sosial, baik Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, atau platform media sosial lainnya.

Dengan merebaknya penggunaan sosial media tentu membawa dampak positif serta negatif, diantara dampak positifnya dapat mempertemukan dua orang yang sudah lama terpisah, berbagi kebahagiaan dengan menshare foto bersama, menjadi media baru dalam berbisnis, hingga mungkin bagi seorang thalibul ilmi seperti kita adalah berdakwah lewat sosial media. Namun, banyak juga dampak negatif yang timbul dari merebaknya pengunaan media sosial ini, seperti kasus kejahatan, penipuan, merebaknya pornografi, pelecehan seksual, atau dampak buruk lain yang tentunya sangat beragam.

Salah satu contohnya adalah yang terjadi di Jakarta. Polres Jakarta Timur mengamankan tiga tersangka yang diduga terlibat tawuran di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (1/2/2018) dini hari. Tawuran itu menewaskan dua pelajar yang masih duduk di bangku SD dan SMP. “Tiga (tersangka) sudah ditangkap dan menjalani pemeriksaan saat ini. Sekarang sudah ditangani Polres,” ujar Kapolsek Ciracas Kompol Agus Widar kepada Kompas.com, Senin (12/2/2018).

Adapun ketiga tersangka tersebut juga remaja di bawah umur, yakni AR (14), R (14), dan TA (16). Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Yoyon Tony Surya Saputra mengatakan, peristiwa itu bermula dari saling ejek di media sosial.

Setelah itu, berlanjut bentrokan. “Korban tewas karena terkena senjata tajam. Polsek dan polres langsung melakukan olah TKP,” kata Tony.

Tawuran terjadi saat DK (14) dan MR melintas di Jalan Gudang Air dengan sepeda motor. Saat melintasi sebuah warung kopi, sekelompok pemuda mencegat mereka. Mereka langsung menganiaya korban dengan senjata tajam dan senjata tumpul. DK tewas terlebih dahulu. Sementara MR melarikan diri, tetapi tewas di Jalan Puskesmas yang menjadi tempat kejadian perkara kedua.1

Sosial Media Sebagai Sumber Dopamin

Seiring dengan merebaknya penggunaan sosial media saat ini, sedikit banyak mulai merubah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, salah satunya adalah keterkaitan sosial media dengan hormon dopamin.

Dopamin adalah zat kimia dalam otak yang berfungsi untuk menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh. Hormon ini mempengaruhi berbagai aktifitas manusia, mulai dari mengingat hingga menggerakkan anggota tubuh.

Dopamin juga disebut sebagai hormnon pengendali emosi. Saat dilepaskan dalam jumlah yang tepat, hormon ini akan meningkatkan suasana hati, sehingga orang akan merasa lebih senang dan bahagia. Namun, jika hormon ini dilepaskan dalam jumlah besar, akan menyebabkan ketergantungan dan kecanduan.2

Nah, terlalu banyak berinteraksi dalam sosial media ditengarai memiliki sifat candu yang berpengaruh bagi keseimbangan hormon dopamin pada otak seseorang.

Contoh real, suatu fenomena muncul belakangan ini dampak dari merebaknya penggunaan media sosial yaitu FOMO, merupakan singkatan dari fear of missing out, dapat diartikan semacam rasa takut yang dialami seseorang akan terlewatnya hal-hal yang terjadi dalam media sosial.

Pengidap FOMO akan merasa cemas bila tidak dapat mengupdate hal-hal yang terjadi di media sosial dalam rentan waktu tertentu. Pada kasus yang parah, seorang yang mengidap FOMO akan berulang kali membuka akun media sosialnya dalam waktu yang sempit karena ia tidak iingin tertinggal soal apa yang terjadi di dunia maya (yang saat ini dikenal dengan istilah trending).

Fenomena ini tentu akan memberikan dampak buruk bagi para pengidap FOMO, mulai dari waktu yang banyak terbuang, etos kerja yang menurun, atau sifat peduli terhadap sekitar yang menipis. Bahkan, dampak buruk yang mempengaruhi psikologi pengidapnya seperti rasa cemas, rasa tidak percaya diri, rasa gengsi yang tinggi, hingga berujung pada depresi.

Artifical Intelligence

Mengapa sosial media bisa sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Karena media sosial merupakan bagian dari Artifical Intelligence (AI). Artifical Intelligence (AI) adalah bagian dari ilmu komputer yang berfokus pada pembentukan mesin dengan kemampuan kecerdasan yang dapat berinteraksi dan bekerja seperti manusia.

Tanpa kita sadari, artifical intelligence ini sudah banyak wujudnya di sekitar kita. contohnya ketika kita membuka platform video YouTube, sadar atau tidak YouTube selalu memberikan rekomendasi video yang disukai oleh masing-masing penggunanya. Lantas bagaimana YouTube tahu video apa yang disukai penggunanya?

Disitulah peran artifical intelligence (AI), AI senantiasa merekam perjalanan penggunanya, video apa yang sering ditonton, video mana yang diberi like, video mana yang diberi dislike¸ serta kata kunci apa yang sering ia cari di kolom search, semua hal itu yang akan menjadi poin bagi AI dalam menentukan video mana yang direkomendasikan bagi setiap penggunanya. Algoritma ini diciptikan tentu agar membuat para pengguna betah berlama-lama dalam berselancar di YouTube khususnya, serta platform media sosial lainnya.

Facebook will continue to do everything they can to keep your eyes glued to the screen as often as possible.”

“Pihak Facebook akan terus berusaha melakukan apa pun agar mata kalian selalu melekat pada layar gadget sesering mungkin.” Demikian tulis Trevor Haynes, seorang peneliti di Departemen Neurologi di Harvard Medical School.3

Lebih jauh, cara artifical intelligence dalam mempelajari sesuatu sebenarnya sama dengan apa yang dilakukan dengan manusia. Bedanya, sistem itu bisa mempelajari sesuatu jauh lebih cepat dan efisien dari pada manusia. Hal itu terbukti kekinian, semakin banyak pekerjaan manusia yang diambil alih perannya oleh mesin, seperti bidang kontruksi, olahan pabrik, penjaga pintu tol, hingga pekerjaan yang bersifat pribadi seperti menyupir.

Dampaknya Bagi Penuntut Ilmu

Ilmu merupakan suatu hal yang sangat mulia dalam Islam. Dengan ilmu, Allah menunjukkan kemuliaan Adam alaihissalam atas Malaikat, dan Allah memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepada Adam alaihissalam. Ilmu menjadi mulia tak lain karena ia merupakan wasilah menuju kebaikan dan ketakwaan, yang dengannya seseorang berhak mendapatkan kemuliaan di sisi Allah ﷻ dan kebahagiaan yang abadi.4

Maka menjadi suatu kemuliaan bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu, dimana mereka dapat menerima warisan para Nabi serta para ulama. Rasulullah ﷺ bersabda:

(العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لَا دِرْهَمًا وَ إِنَّمَا وَرَثُوا العِلْمَ)

 (Para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidaklah mewarisi dinar maupun dirham, melainkan mereka mewarisi ilmu.) HR. Abu Dawud No.36415

Perjalanan menuntut ilmu juga tak mudah, banyak hal yang perlu disiapkan guna menjadi bekal dalam menuntut ilmu. Imam Syafi’i Rahimahullah menjelaskan setidaknya ada enam hal yang musti dipersiapkan oleh para penuntut ilmu:

أَخِي لَنْ تَنَالُ العِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ ذَكَاءُ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وِبَلَغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ

Saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan rinciannya: kecerdasan, semangat, bersungguh-sungguh,  dirham (kesediaan uang), bersahabat dengan ustadzdan waktu yang panjang.”6

Faidah yang dapat kita ambil dari lantunan syair diatas adalah bahwa dalam menuntut ilmu kita memerlukan banyak pengorbanan, mulai dari perbekalan yang harus disiapkan, kesungguhan yang akan diuji, panjangnya waktu yang dihabiskan, hingga sifat mujahadah tak boleh goyah. Proses itu semua dijalani demi cita-cita yang mulia yaitu menjadi ahlul ilmi.

Lantas apa hunungan para penuntut ilmu dengan toxic dopamine semacam sosmed?

Ya, jawabannya bisa kita temukan saat ini. Dimana banyak penuntut ilmu syar’i baik para santri di pesantren atau di sekolah berbasis islam, mereka terdampak toxic dopamine sebab terlalu sering menggunakan gawai, mulai dari berselancar di sosmed hingga bermain game online, mereka betah menatap layar gawainya berjam-jam tanpa henti.

Hal ini tentu akan menimbulkan dampak buruk jika dibiarkan saja. Sedikit contoh, banyak anak sekarang yang tahan berjam-jam menatap layar gawai namun ketika diajak untuk membaca buku ia tidak kuat bahkan 10 menit saja.

Adalah masalah jika seorang penuntut ilmu kecanduan konten-konten dan fitur-fitur seperti yang sudah dijelaskan di atas. Karena seorang pelajar, baik itu santri di ma’had atau siswa di sekolah umum, seharusnya kecanduan buku. Bukan malah ketagihan game online, berita gosip, lawakan receh, tayangan yang tidak mendidik dan sebagainya.

Sekali lagi perlu dipertegas, bahwa dalam konteks thalabul ‘ilmi, jika toxic dopamine tidak segera diatasi, virus malas akan semakin mengakar. Atmosfer keilmuan akan hilang. Kultur akademik akan punah. Budaya literasi akan mati. Akibatnya, generasi yang akan datang semakin terjebak dalam kebingungan (confuse).

Para tholibul ilmi akan kehilangan sifat mujahadah yang goyah akibat toxic dopamine.

Sosial Media Detoks

Ketika seseorang sudah kecanduan dengan sosial media dan menyadari akan dampak negatif nya. Maka ia memerlukan sosial media detoks untuk menghilangkan kebiasaan buruknya. Social media detoks adalah kumpulan tips yang dengannya diharapkan mengurangi kecanduan kita seseorang dengan sosial media. Diantara tips yang dirasa ampuh untuk mengurangi rasa candu tersebut,

Pertama: Meminta Bantuan Orang Terdekat

Dalam menciptakan kebiasaan yang baru, tentu membutuhkan dukungan orang-orang terdekat. Maka carilah rekan yang bisa diandalkan untuk mengingatkan kita selama detoks berlangsung, karena dalam masa menjalani masa detoks tentu berlangsung sulit, namun dengan bantuan mereka hal tersebut akan lebih terasa mudah.

Minta bantuan kepada orang terdekat untuk rajin mengingatkan supaya kita tidak tergoda untuk membuka media sosial.

Kedua: Menghapus Aplikasi Media Sosial dari Gawai

Menghapus aplikasi media sosial merupkan langkah penting dalam melakukan detoks, karena jika aplikasi tersebut tidak dihapus, godaan akan senantiasa muncul untuk membukanya, dan kita akan senantiasa mencari pembenaran untuk bisa tetap membukanya.

Sebagai altrnatif, kita juga bisa mengunduh software atau aplikasi tertentu di smartphone yang bisa memblokir media sosial baik di aplikasi maupun situs web. Tujuannya adalah supaya kita tetap bisa fokus pada prioritas utama.

Ketiga: Rencanakan Kegiatan Selama Detoks

Lepas dari sesuatu yang seakan sudah menjadi bagian dari hidup kita memang sulit, tentu akan terasa jenuh ketika kita meninggalkannya. Maka penting bagi kita untuk mencari kegiatan yang sekiranya dapat menghilangkan kejenuhan tersebut. Misalnya dengan menyelesaikan tugas, membaca buku, mendengarkan kajian, menekuni hal baru, olahraga, menulis, memperbanyak networking, dan sebagainya.

Khawatir akan tertinggal berita terkini? Kita bisa membaca berita di media cetak atau tinggal membuka laman berita lewat browser.

Bila ingin tahu kabar orang terdekat, alih-alih membuka medsos, kita bisa menanyakannya secara langsung dengan mengirim pesan atau menelponnya, bahkan dengan hal tersebut kita dapat berkomunikasi secara lebih intensif.

Sebenarnya tidak perlu menunggu sampai merasa kecanduan untuk melakukan sosial media detoks. Tak ada salahnya untuk mencoba dan mengamati efeknya, baik pada fisik, mental, dan produktivitas selama mencoba detoks dalam waktu tertentu.7 [i]

Kesimpulan

Pada zaman ini, kita dihadapkan dengan teknologi yang semakin mutakhir, dimana kita dapat mengakses apapun dengan mudah, terutama lewat fitur-fitur yang disediakan oleh smartphone.

Menggunakan smartphone dapat meningkatkan hormon dopamin dalam otak. Hormon yang menimbulkan rasa bahagia bila dikeluarkan dalam porsi yang pas. Namun jika berlebihan, dopamin akan menimbulkan candu yang berujung pada tidak stabilnya psikologi seseorang, mulai dari ketergantungan, khawatir, hingga depresi.

Terhadap para thalibul ilmi, untuk mengatur waktu dalam menggunakan smartphone, karena jika berlebih akan berdampak pada menurunnya sifat mujahadah dalam diri.

Bijaklah dalam menghadapi mutakhirnya teknologi, jadikan itu penunjang demi kehidupan yang lebih efisien, bukan malah terhambat sebab kecanduan dalam menggunakannya. Wallahu a’lam bis shawwab. [Shofian Fadhil I.]

Baca Juga: Sumber Energi Seorang Muslim

Bahan Bacaan: 

1 https://megapolitan.kompas.com/read/2018/02/12/12560901/saling-ejek-di-media-sosial-3-remaja-tewaskan-pelajar-sd-dan-smp pada tanggal 26 Oktober 2020, pukul 16.18 WIB

2 https://www.alodokter.com/10-fakta-tentang-hormon-dopamin pada tanggal 26 Oktober 2020, pukul 16.06 WIB

3 http://sitn.hms.harvard.edu/flash/2018/dopamine-smartphones-battle-time/ pada tanggal 26 Oktober 2020, pukul 16.33 WIB

4 Imam Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, hal 40

5 Muhammad bin Ali At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Hal 424

6 Muhammad bin Abdul Wahhab, Fath al-Majid syarhu Al-Kitab At-Tauhid, Hal 416

7 https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3637134/berapa-lama-idealnya-detoks-media-sosial-yang-efektif pada tanggal 26 Oktober, pukul 16.08 WIB

 

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dilema Sosial Media"