Antara Harta Rampokan dan Fa'i

3 comments 981 views

Oleh: Muh. Afif al Huda

Di zaman yang penuh fitnah ini umat islam sungguh telah mengalami berbagai macam ujian dan cobaan yang begitu dahsyat. Para musuh-musuh islam sudah tidak lagi takut dan hormat kepada kemuliaan islam, malahan mereka saat ini dengan semena-menanya melecehkan dan menghina islam dan pemeluknya, dan saat ini pula mereka berusaha keras untuk menghancurkan dan melenyapkan eksistensi umat islam dari -ambing dan terpisah-pisahkan dari saudara-saudaranya sehingga mereka dengan mudahnya peradaban dunia. Semenjak runtuhnya khilafah islamiyah yang terakhir di Turki pada tahun 1924 M, kaum muslimin bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, mereka terombang dimangsa dan diterkam oleh musuh-musuhnya.

Maka di tengah-tengah semrawutnya keadaan kaum muslimin hari ini, munculah sekelompok pemuda yang mempunyai jiwa ksatria dan semangat baja, ingin mengembalikan eksistensi kehormatan islam dan kaum muslimin ke permukaan bumi dengan berjihad melawan kebiadaban dan kekejaman dari musuh-musuhnya (kaum kafirin baik dari zionis maupun salibis dan lain sebagainya). Mereka sangat bersemangat di dalam memerangi kaum kafir dengan tujuan membela saudara-saudaranya yang tertindas dan teraniaya, seperti saudara-saudaranya yang berada di Iraq, Chesnya, Afghanistan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, ada sebagian dari mereka dalam rangka berjihad untuk membela saudara-saudaranya yang tertindas, mereka menggunakan cara merampok dan merampas harta kaum kafirin, seperti; merampok toko mas, bank dan sebagainya yang itu semua adalah milik orang kafir, dengan alasan; itu adalah harta yang halal, karena mereka menganggap itu adalah harta fa’I yang mereka gunakan untuk biaya jihad. Padahal mereka melakukannya di negeri yang notabenenya negeri tersebut negeri yang aman atau dengan kata lain negeri tersebut tidak terjadi konflik atau peperangan kontak senjata dengan orang kafir (negeri harbi).

Lantas bagaimanakah timbangan syar’I menurut Allah dan rosulNya beserta para ulama’ di dalam berbicara tentang harta rampokan dan harta hasil rampasan (fa’i) ?? Dan apakah sama harta rampokan dengan harta hasil rampasan (fa’i) dalam islam?? Dan kapan harta orang kafir bisa menjadi fa’i…?? WaAllahu musta’an.

  1. Definisi.
  1. Etimologi.
  1. Merampok (قطاع الطريق).

Merampok dalam bahasa arabnya adalah (قطاع الطريق) yang mana di dalam kamus al-munawir; قطاع dari kata قطعيقطع artinya memotong atau mencegah, sedangkan maknaالطريق adalah sebuah jalan, lorong atau gang.

Di dalam kitab shohih fiqh sunnah istilah (قطاع الطريق) juga disebut sebagai muharibbah المحاربة yang berasal dari kata (حرب – يحرب) yang artinya memerangi.

  1. Harta fa’i (فيء).

Fa’I adalah berasal dari kata (أفاء يفيء) yang bermakna (رجع) yang artinya kembali, sebagaimana kembalinya matahari pada pagi hari yang mengakibatkan lenyapnya kegelapan setelah kemunculannya. Dan kenapa apa-apa yang ada di genggaman orang-orang kafir kembali pulang padahal sebelumnya pemiliknya adalah mereka? Karena pada hakekatnya menurut hukum Allah bahwasanya apa-apa yang ada di tangan orang-orang kafir itu tidaklah halal bagi mereka.

Sebagaimana firman Allah swt :

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka, kaum yang beriman saja) di hari kiamat. {QS. Al-a’raf : 32}

  1. Terminologi.
  1. Merampok (قطاع الطريق).

Sayid Sabiq memberikan definisi di dalam kitabnya fiqh sunnah: “Ia di sebut juga sebagai hirobbah (perusuh), yaitu keluarnya suatu kelompok ataupun individual yang bersenjata di darul islam bertujuan menumpahkan darah, mengambil harta”

Abu bakar jabir aljazairi memberikan definisi tentang muharibin yaitu “Sekelompok orang islam yang memegang senjata untuk menghadang manusia dan mengganggu jalan umum dengan menyergap pejalan kaki, membunuh dan merampas harta mereka karena mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan.”

Abu Kamal bin As Sayid as-Salim memberikan definisi; hirobah atau qatho’u thoriq (begal) yaitu “Aksi pencegatan yang dilakukan secara arogan dan terang-terangan untuk merampas harta seseorang atau membunuh atau menakut-nakuti dengan mengandalkan kekuatan.”

  1. Harta fa’i (فيء).

Adalah segala apa yang dirampas dari orang-orang kafir tanpa melalui perang ataupun pengerahan kuda maupun unta.

Abdul Baqi Ramdhon mendefinisikan fa’I yaitu “Segala apa yang dirampas dari orang-orang kafir tanpa melalui perang ataupun pengerahan kuda maupun unta, seperti harta yang ditinggalkan orang-orang kafir karena takut diserang oleh kaum muslimin dan mereka melarikan diri, harta jizyah, harta pajak dan hasil kompensasi perdamaian, harta ahli dzimah yang mati tidak punya ahli waris, dan harta orang murtad dari islam apabila ia terbunuh atau mati.”

  1. Nash-nash yang berbicara tentang rampokan dan fa’i.
  1. Dalil-dalil dari Al-Qur’an.
  1. Tentang rampokan.

Alla berfirman:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” {QS. Al Maidah : 33}

  1. Tentang fa’i.

Allah swt berfirman :

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya :Dan apa saja harta rampasan (fai-i)[1465] yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, Maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (Tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. {QS. Al-Hasyr : 6}

  1. Dalil-dalil dari as Sunnah.
  1. Tentang rampokan

Rosulullah bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Dari Abu Hurairah . Bahwasanya Rosulullah bersabda :“Barangsiapa mengambil harta manusia dengan tujuan merampasnya niscaya Allah akan merampas darinya. Dan barang siapa mengambil dengan tujuan merusaknya niscaya Allah swt akan merusaknya pula.

عن ابن عمر : أن أناسا أغاروا على إبل النبي صلى الله عليه و سلم فاستاقوها وارتدوا عن الإسلام وقتلوا راعي رسول الله صلى الله عليه و سلم مؤمنا فبعث في آثارهم فأخذوا فقطع أيديهم وأرجلهم وسمل أعينهم. قال الشيخ الألباني : حسن صحيح

Dari ibnu umar . Berkata: “Bahwasanya ada segerombolan orang merampas unta Rosulullah kemudian mereka murtad dari islam dan juga mereka membunuh pengembala unta Rosul yang beragama islam. Kemudian Rosul mengirim sebuah pasukan untuk mengejar mereka dan pasukan tersebut dapat menangkap mereka, kemudian tangan-tangan dan kaki-kaki mereka diperintahkan untuk di potong sedangkan mata mereka diperintahkan untuk dicungkil.

  1. Tentang fa’i.

Rosulullah bersabda:

عن عمر رضي الله عنه قال: كانت أموال بني النضير مما أفاء الله على رسوله صلى الله عليه وسلم مما لم يوجف المسلمون عليه بخيل ولا ركاب فكانت لرسول الله صلى الله عليه و سلم خاصة ينفق على أهله منها نفقة سنته ثم يجعل ما بقي في السلاح والكراع عدة في سبيل الله

Dari umar . Berkata, “Harta benda Bani Nadhir termasuk menjadi harta rampasan yang diberikan Allah kepada rosulnya karena para sahabat tidaklah segera mengerahkan kuda atau unta untuk kesana. Oleh karena itu, harta itu hanya diperuntukan bagi nabi . Rosulullah lantas menyisihkan untuk memberi nafkah keluarganya selama setahun lamanya. Sisanya, beliau peruntukan untuk pengadaan kuda dan persenjataan sebagai persiapan (jihad) di jalan Allah .

  1. Merampok dalam perspektif syar’i.
  1. Hukum.

Perampokan قطاع الطريق atau istilah lain muharibah adalah termasuk perbuatan dosa besar karena Allah menyebutnya sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan rosulNya. Dan juga karena mereka para pelaku perampokan telah menyebarkan kerusakan di muka bumi, maka Allah memberikan hukuman yang amat sangat berat bagi pelakunya yang mana belum ada hukuman yang Allah timpakan kepada pelaku jaroim (dosa-dosa) lainnya.

Rosulullah bersabda :

عن النبي صلى الله عليه و سلم قال من حمل علينا السلاح فليس منا عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه

Dari Abdullah bin Umar . Rosulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengangkat senjata kepada kami maka ia bukan dari golongan kami

  1. Syarat-syarat tegaknya had (hukuman).

Kita bisa menyebut seseorang sebagai pelaku perampok haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Pelaku sudah mendapatkan beban syar’I (taklif).

Yaitu berakal dan baligh, Para ahli fiqh tidak ada yang berselisih pendapat mengenai syarat baligh dan berakal terkait dengan hukuman dalam perampokan. Maka anak kecil dan orang gila tidak bisa dikategorikan sebagai pelaku perampokan walaupun mereka terlibat dalam aksi perampokan.

Tetapi mereka berselisih mengenai hukuman orang yang bekerjasama dengan bocah kecil dan orang gila untuk merampok. Dalam hal ini jumhur ulama’ berpendapat bahwa hukuman perampokan tetap tidak gugur dari diri mereka dan mereka wajib dikenai hukuman.

Sedangkan kalangan madzab hanafi –kecuali abu yusuf- berpendapat bahwa jika ada anak kecil atau orang gila atau orang yang punya hubungan darah dan mahram dengan salah seorang korban ikut dalam aksi perampokan, maka hukuman itu gugur dari semuanya. Sebab menurut mereka ini adalah satu tindak kejahatan yang dilakukan bersama-sama. Jika hukuman tidak bisa dikenakan pada sebagian pelaku, maka sisanyamenjadi bermasalah dan hukum pun tidak bisa ditetapkan.

Abu malik kamal bin as sayid salim berkata; pendapat jumhur lebih kuat.

  1. Menggunakan senjata.

Dalam aksi merampok disyaratkan mereka membawa senjata. disebabkan di dalam merampok mereka hanya mengandalkan senjata, karena itu adalah sumber kekuatan mereka. Dan apabila di dalam aksi merampok mereka tidak membawa senjata maka mereka tidak disebut sebagai perampok.

Terus bagaimana apabila para pelaku perampokan mereka menggunakan senjata tongkat ataupun kayu..?? di dalam hal ini para fuqoha’ berselisih pendapat:

    1. Pendapat pertama : Bahwasanya mereka tetap disebut sebagai perampok, karena jenis atau banyaknya jumlah tidak dapat merubah hukum. Ini adalah pendapat asy syafi’I, malik, hanabilah, abu yusuf, dan ibnu hazm.
    2. Pendapat kedua : bahwasanya mereka tidak bisa disebut sebagai perampok. Ini pendapat abu hanifah.
  1. Di tengah-tengah padang pasir dan jauh dari pemukiman.

Sebagian para ulama’ mensyaratkan para pelaku perampokan di dalam melakukan aksinya haruslah di tengah-tengah padang pasir, dan apabila mereka melakukannya di pemukiman maka itu bukanlah sebuah muharibin. Ini adalah pendapat abu hanifah, tsauri, ishaq, sebagian besar ulama’ syi’ah, hiroqi dari madhab hanabilah dan ibnu hazm.

Kemudian ada yang berpendapat bahwasanya pelaku perampokan di dalam menjalankan misinya baik itu di padang pasir ataupun di tengah-tengah pemukiman itu sama saja dan hukum tetap satu karena ayat yang berbicara tentang itu bersifat umum. Dan juga apabila pelaku perampokan melakukannya di tengah-tengah pemukiman maka itu lebih berbahaya daripada di padang pasir. Ini adalah pendapat asy syafi’I, hanabilah, abi tsaur, auza’I, al laits, malikiyah, dan dhohiriyah.

  1. Terang-terangan.

Dalam melakukan kejahatannya para pelaku perampokan haruslah terang-terangan, karena apabila ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi maka itu disebut sebagai pencuri. Ini adalah pendapat madzhab ahnaf, syafi’iyah dan hanabilah. Sedangkan malikiyah dan dhohiriyah berselisih pendapat dengan mereka.

Pengarang kitab shohih fiqh sunnah memberikan syarat-syarat tegaknya had bagi perampok ada 6 (enam) syarat dan sedangkan yang 4 sebagaimana yang disebutkan diatas, sedangkan yang 2 (dua) adalah;

      1. Iltizam (terikat dengan hukum)

Agar bisa dijerat dengan hukuman perampokan, seorang perampok menurut jumhur haruslah orang yang terikat dengan hukum syari’at, yaitu bersetatus sebagai seorang muslim, atau kafir dzimi atau murtad. Dengan demikian, kafir harbi menurut jumhur ulama’ tidak terkena hukuman perampokan jika ia melakukan tindak kejahatan ini, begitu pula mu’ahid dan musta’man. Berbeda dengan kafir dzimi, ia terikat dengan hukum syari’at, sehingga memiliki hak dan kewajiban sebagaimana orang muslim.

Ibnu hazm berpendapat; bahwa para perampok itu hanyalah seorang muslim yang melakukan penyipangan atau muslim yang keluar dari islam sehingga ia patut diadili dengan hukum syariat sebagaimana dilakukan oleh Nabi terhadap urniyin, hukuman ini tidak berlaku bagi kafir dzimi yang telah melanggar perjanjianya, karena hukuman menurut syare’at berbeda dengan hukuman rampokan.

Sedangkan sekelompok ahli hadist dan kalangan ahli fiqh yaitu al bukhari, al hasan, atha’, adh dhahak dan az zuhri berpendapat bahwa ayat hirobah turun kepada orang kafir dan murtad.

      1. Laki-laki.

Kalangan madzab hanafi mensyaratkan, perampok yang bisa dijerat hukuman parampokan harus berjenis kelamin laki-laki. Menurut mereka, perempuan tidak dikenai hukuman meskipun dia mengatur pembunuhan dan mengambil harta. Karena rukun perampokan yaitu menyerang dan berkelahi tidak terpenuhi pada diri perempuan yang biasanya tidak menjadi pelaku perampokan.

Sedangkan jumhur ulama’ yang terdiri dari kalangan madzab maliki, syafi’I dan hambali berpendapat bahwa perampokan tidak selamanya disyaratkan harus laki-laki. Jika itu dilakukan oleh perempuan yang mempunyai kekuatan dan daya tahan, maka mereka juga penghadang atau perampok.

  1. Hukuman bagi Perampok.

Allah berfirman:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” {QS. Al Maidah : 33}

Para ulama’ berselisih pendapat dengan apa yang tersirat di dalam ayat tersebut yaitu berawal dari memahami huruf au ) أو) apakah ia sebagai tahyir (pilihan) ataukah tanwi’ (jenis).

  1. Sebagian ulama’ berpendapat : bahwasanya itu adalah pilihan, dan keputusannya di kembalikan kepada imam. Ini adalah pendapat dari madzab maliki.
  2. Sedangkan pendapat yang kedua : mereka berpendapat bahwasanya itu bukan bentuk pilihan akan tetapi adalah bentuk atau jenis hukuman, dan tidak ada pilihan bagi imam untuk berijtihad. Ini adalah pendapat yang mashur dari madzab hambali. Menurut mereka di dalam pelaksanaan hukuman adalah sebagai berikut :
  1. Dibunuh dan disalib.

Hukuman ini dilaksanakan apabila sang pelaku perompokan melakukan pembunuhan dan perampasan harta. Dibunuh karena ia telah membunuh dan disalib karena ia telah merampas harta. Para ulama’ berselisih pendapat apakah ia dibunuh dahulu sebelum disalib ataukah kebalikannya :

    1. Pendapat pertama: bahwasanya ia disalib dahulu sebelum dibunuh, karena itu adalah balasan yang setimpal baginya dan apabila ia disalib masih dalam keadaan hidup maka ketika ada manusia yang melewatinya maka itu akan menjadi hukuman yang berat baginya, dan apabila disalib sesudah dibunuh maka ini tidak pengaruhnya buat si pelaku.
    2. Pendapat kedua; bahwasanya ia disalib sesudah dibunuh. Karena ini sebagai peringatan keras bagi yang lain.
    3. Pendapat ketiga; Bahwasanya ia tidak disalib kecuali setelah dimandikan, dikafani dan disholatkan.

Menurut Syaikh sholih ‘utsaimin yang rojih dari pendapat di atas adalah bahwasanya itu dikembalikan kepada imam dan imamlah yang akan menentukan tatacara pelaksanaan hukumannya.

  1. Dibunuh tanpa disalib.

Apabila sang pelaku perampokan melakukan pembunuhan dan tidak merampas harta.

  1. Potong tangan dari tangan kanan dan kaki kiri.

Apabila sang pelaku perampokan tidak melakukan pembunuhan dia hanya mengambil hartanya saja. Hukum ini lebih berat daripada hukuman mencuri karena pencuri ketika melakukan aksinya dalam keadaan sembunyi-sembunyi dan sedangkan merampok ketika melakukan aksinya secara terang-terangan dan dengan membawa senjata.

  1. Diasingkan dari negerinya.

Apabila pelaku hanya melakukan aksinya dengan tujuan hanya untuk menakut-nakuti orang yang sedang melintas di jalan. Para ulama’ berbeda pendapat di dalam tata cara melakukan eksekusinya;

  1. Diusir dari kota dan tidak boleh memasukinya selamanya. Ini adalah pendapat yang mashur dari madzhab hanabilah.
  2. Dipenjarakan dan tidak boleh keluar darinya.

Imam syafi’I meriwayatkan dari ibnu abbas . Bahwasanya ia berkata tentang pelaku perampokan : “Apabila mereka di dalam merampok membunuh dan mengambil hartanya maka hukumannya adalah dibunuh dah disalib, dan apabila di dalam merampok ia membunuh dan tidak mengambil hartanya maka ia dikenai hukuman bunuh akan tetapi tidak disalib, dan apabila ia hanya mengambil hartanya saja dan tidak membunuh maka ia di potong tangannya dan kakinya, dan apabila ia cuma menakut-nakuti di jalan dan tidak mengambil harta maka ia di asingkan dari negeri.

Abdul Qodir Audah menerangkan di dalam kitabnya At-Tasyri’ Al-Jina’i : “Bahwasanya hukuman (had) tidak bisa termaafkan walaupun pelaku muharrib dimaafkan oleh keluarga kurban atau keluarga kurban.”

  1. Ketika sang pelaku perampokan telah bertaubat.

Apabila para pelaku perampok atau hirobah tersebut bertaubat dari pebuatannya sebelum tertangkap dan menyerahkan diri kepada hakim maka hukuman atau had yang mana seharusnya mereka jalani jadi terampuni. Sebagaimana firman Allah :

ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ () إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, Kecuali orang-orang yang Taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; Maka Ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.{Al Maidah : 33-34}

Akan tetapi para ulama’ berbeda pendapat tentang terhapusnya had bagi pelaku perampokan dikarenakan taubat yang mereka lakukan, diantaranya:

  1. Pendapat pertama: Bahwasanya taubat hanya dapat menghapuskan hukuman khusus perbuatan perampokannya saja dan ia tetap dikenai hukuman yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan manusia, dan ini pendapat malik.
  2. Pendapat kedua: bahwasanya taubat dapat menghapuskan seluruh had bagi pelaku perampokan baik yang berkaitan dengan hukuman perampokan itu sendiri atau yang berkaitan dengan hak-hak Allah , seperti zina, minum khomr, dan potong tangan akan tetapi ia tidak dapat menghapuskan hukuman yang berkaitan dengan hak-hak manusia kecuali mereka mau memaafkannya.
  3. Pendapat ketiga : bahwasanya taubat dapat membebaskan sang pelaku dari hukuman Allah dan sedangkan yang berkaitan dengan darah darta maka ia tetap mendapati hukuman.
  4. Pendapat keempat: bahwasanya taubat dapat membebaskan sang pelaku dari hak-hak yang berkaitan dengan manusia baik dari harta dan darah kecuali apabia harta masih ada maka ia dikembalikan.
  1. Harta fa’i dalam perspektif syar’i.
  1. Hukum.

Harta fa’I adalah harta yang halal dan ia sebagai sebaik-baik harta sebagaimana harta ghonimah hanya bedanya ia harta yang diambil dari orang kafir tanpa melalui kekerasan atau peperangan.

Rosulullah bersabda :

عن جابر بن عبد الله أن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( أعطيت خمسا لم يعطهن أحد قبلي نصرت بالرعب مسيرة شهر وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا فأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصل وأحلت لي المغانم ولم تحل لأحد قبلي وأعطيت الشفاعة وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس عامة

Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Nabi bersabda : “Aku telah diberi lima hal dan belum pernah diberikan kepada seorangpun sebelumku yaitu melindungi aku dari rasa takut ketika aku dalam perjalanan selama satu bulan, menjadikan bumi bagiku masjid dan suci maka dimanapun seseorang dari umatku hendak mengerjakan shalat maka ia mngerjakannya dimanapun ia berada, menjadikan bagiku halal harta hasil rampasan perang (ghonimah) yang belum pernah dihalalkan kepada orang sebelumku dan aku diberikan wewenang untuk memberikan syafa’at dan para nabi sebelumku diutus untuk umatnya secara khusus sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia”.

  1. Sumber-sumber harta fa’i.

Imam An Nawawi membagi sumber dari harta fa’I ada dua macam yaitu :

  1. Fa’I yang diambil dari harta orang-orang kafir dikarenakan adanya ekspansi terhadap mereka dan mereka kabur dan takut dari kaum muslimin. Maka harta ini harus dibagi-bagi menjadi seperlima sebagaimana harta ghonimah.
  2. Fa’I yang diambil dari orang-orang kafir tanpa ada rasa takut. Ini meliputi :
  1. Harta jizyah yaitu pungutan yang diambil dari ahlu dzimah pada akhir tahun yang negerinya ditaklukan melalui perang.
  2. Harta pajak hasil kompensasi perdamaian
  3. Khoroj (pajak bumi) yaitu pungutan yang dikenakan pada tanah-tanah yang dikuasai oleh kaum muslimin.
  4. Harta ahli dzimah yang mati dan ia tidak mempunyai ahli waris.
  5. Harta orang murtad dari islam apabila ia terbunuh atau mati. Sedangkan tentang harta fa’I jenis ini menurut imam syafi’I ada dua pendapat, di antaranya :
  • Pendapat lama : Bahwasanya harta ini tidak dibagi menjadi seperlima, karena ia diambil tanpa ada rasa takut, sebagaimana jual beli.
  • Pendapatnya yang baru : Bahwasanya ia tetap diambil dan inilah pendapat yang benar sesuai ayat.
  1. Pembagian Fa’i.

Harta fa’I dibagi menjadi dua bagian yaitu menjadi 1/5 (satu perlima) dan 4/5 (empat perlima), dan sedangkan 1/5 di bagi menjadi lima bagian, diantaranya:

  1. Satu bagian diserahkan kepada Rosulullah untuk menghidupi dirinya, keluarganya dan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Para ulama’ berbeda pendapat setelah meninggalnya rosul :

  • Abu tsur berkata: bahwasanya fa’I yang menjadi bagian rosul menjadi bagian imam setelahnya.
  • Abu hanifah : telah hilang setelah meninggalnya rosul.
  • Imam syafi’I : bahwasanya ia dialihkan kepada kemaslahatan kaum muslimin, seperti diberikan kepada para tentara, pengadaan senjata, membangun benteng dan jembatan, untuk menggaji para qodhi dan lain sebagainya untuk kepentingan kaum muslimin.
  1. Satu bagian untuk dzul qurbah.
  • Abu hanifah berpendapat : bahwasanya hak mereka untuk mendapatkan bagian dari harta fa’I telah hilang setelah wafatnya Rosulullah .
  • Menurut syafi’I bahwasanya hak mereka masih tetap, dan mereka adalah bani hasyim, bani abdul mutholib khusus anak dari bani abdu manaf
  1. Bagian untuk anak-anak yatim yang mempunyai hajat.

Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya ketika ia masih berumur kecil atau belum baligh dan ketika umurnya sudah baligh maka hukum predikat keyatimannya telah hilang. Rosulullah bersabda : “Tidak ada anak yatim setelah bermimpi

  1. Bagian untuk orang-orang miskin.

Yaitu orang-orang yang tidak mendapatkan kecukupan dari ahli fa’I, karena maskinul fa’I berbeda dengan masakinus shodaqoh di dalam pembagiannya.

  1. Bagian untuk ibnu sabil.

Mereka adalah para musafir dari ahli fa’I yang tidak mendapatkan apa-apa untuk ditinggalkan untuk keluarganya, sama saja dia baru memulai safar ataupun sudah dipertengahan safar.

Dan sedangkan harta fa’I yang empat seperlima (4/5) terdapat 2 pendapat:

  1. Bahwasanya diperuntukan hanya untuk para tentara saja
  2. Bahwasanya diperuntukan untuk kemaslahatan yang di dalamnya termasuk untuk para tentara.

Dan harta fa’I tidak boleh diperuntukan kepada ahlus shodaqoh dan begitu pula harta shodaqoh tidak boleh diperuntukan kepada ahlul fa’i.

  1. Kisah-kisah operasi yang menghasilkan fa’i.

Kalau kita tengok perjalanan dakwah kaum muslimin semenjak zaman nabi saw hingga masa-masa setelahnya, kita akan mendapati kisah-kisah yang sangat menarik tentang fa’i. diantaranya adalah:

  1. Sariyah Zaid bin Haritsah ke Bani Sulaim di Jamum.

Pada bulan Rabi’ul Akhir tahun ke 6 hijriyah Rosulullah mengirim Zaid bin Haritsah al kalbi ke Bani Sulaim. Bergeraklah pasukan zaid sampai di jamum. Mereka berhasil membawa pulang ternak, domba dan tawanan ke madinah.

  1. Sariyah ‘Ukasyah bin Mahshin al Asadi ke Ghamru.

Pada bulan Rabi’ul Awal tahun ke 6 hijriyah Rosulullah mengirim ‘ukasyah bin mahsin al asadi ke Ghamru bersama 40 orang sahabat. Mereka bergerak dengan cepat menuju tempat tujuan, namun orang-orang arab badui yang hendak mereka datangi mengetahui pergerakan mereka menuju ke tempatnya, maka larilah mereka meninggalkan rumah-rumah mereka dalam keadaan kosong tanpa penghuni. Kaum muslimin berhasil menggiring pulang 200 ekor unta menuju Madinah tanpa mendapatkan perlawanan dari musuh.

  1. Sariyah Zaid bin Haritsah ke ‘Iesh.

Pada bulan Jumadil ‘Ula tahun ke 6 hijriyah Rosulullah mengirim kembali Zaid bin Haritsah al Kalbi untuk menghadang kafilah dagang Quraisy dalam perjalanan kembali dari Syam ke Makah. Pasukan Zaid berhasil merebut kafilah tersebut serta barang dagangan yang ada di dalamnya. Dan mereka juga menawan para pengawal kafilah itu dan membawanya ke Madinah.

  1. Kapankah harta rampasan bisa bernilai fa’i…??

Kita akan mengetahui jawaban ini setelah kita mencermati dan meneliti dari kisah-kisah operasi sariyah dan definisi dari fa’I itu sendiri; yaitu segala apa yang dirampas dari orang-orang kafir tanpa melalui perang ataupun pengerahan kuda maupun unta, seperti harta yang ditinggalkan orang-orang kafir karena takut diserang oleh kaum muslimin dan mereka melarikan diri, harta jizyah, harta pajak dan hasil kompensasi perdamaian, harta ahli dzimah yang mati tidak punya ahli waris, dan harta orang murtad dari islam apabila ia terbunuh atau mati.

Di dalam pembahasan ini kami membagi menjadi dua bagian di dalam harta fa’I sebagaimana imam nawawi membagi jenis fa’I menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Fa’I yang diambil dari orang kafir dengan cara pengadaan ekspansi, maka fa’I bisa didapatkan apabila:
  1. Musuh jelas.

Tidak ada syubhat tentang status musuh, apakah ia kafir musta’man, dzimi, ataukah mu’ahad, yaitu orang-orang kafir yang benar-benar nyata bagi kaum muslimin tanpa ada keraguan untuk diperangi, dan sedangkan orang kafir yang nyata harus diperangi adalah mereka kafir harbi. Setelah jelas sudah keadaan atau setatus orang kafir tersebut sebagai kafir harbi, maka harta dan nyawanya halal untuk ditumpahkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rosulullah saw di dalam mengirim satuan tempur yang di sebut sariyah untuk menghdang dan merampas harta orang-orang kafir quraisy dengan tujuan untuk memblokade perekonomian mereka.

  1. Di Darul harbi.

Syarat dibolehkannya merampas dan mengambil harta orang kafir untuk dijadikan ghonimah atau fa’I haruslah di darul harbi. Di dalam kitab al wajiz syarhul wajiz di sana dinyatakan; bahwasanya apabila ada salah seorang masuk ke negeri harbi secara sembunyi-sembunyi dan mengambil harta dengan mencuri maka itu adalah menjadi milik bagi siapa yang mengambilnya tersebut secara khusus. Di sana juga dinukilkan dari kitab tahdzib bahwasanya; apabila ada satu orang masuk ke negeri harbi dan mengambil harta mereka dengan melalui perang maka ia jadi ghonimah dan diambil darinya seperlimanya dan sisanya untuknya, dan apabila ia mengambilnya dengan cara sembunyi-sembunyi kemudian dia lari maka ia jadi miliknya secara khusus tidak diambil darinya seperlima. Ini bentuk dari aksi pencurian karena mengambil harta orang kafir dengan cara sembunyi-sembunyi.

Dari abu ishaq berkata; bahwasanya harta dari hasil muhtalis (mengambilnya secara sembunyi-sembunyi) menjadi fa’I karena ia diambil tanpa melalui peperangan.

  1. Ketika jihad sudah dikumandangkan.

Sebelum ekspansi dilaksanakan maka diwajibkan terlebih dahulu untuk menyeru orang-orang kafir untuk masuk agama islam, kalau mereka mau memenuhi seruan islam maka darah dan harta mereka terlindungi. Jika mereka tidak mau memenuhi seruan islam maka serulah untuk membayar jizyah dan apabila mereka tidak mau memenuhi seruan ini maka kumandangkanlah jihad untuk memerangi mereka. Sebagaimana sabda Rosulullah :

وَإِذَا حَاصَرْتُمْ أَهْلَ مَدِينَةٍ ، أَوْ أَهْلَ حِصْنٍ ، فَادْعُوهُمْ إِلَى الإِسْلامِ ، فَإِنْ شَهِدُوا أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، فَلَهُمْ مَا لَكُمْ ، وَعَلَيْهِمْ مَا عَلَيْكُمْ ، فَإِنْ أَبَوْا ، فَادْعُوهُمْ إِلَى الْجِزْيَةِ ، يُعْطُونَكُمْ عَنْ يَدٍ ، وَهُمْ صَاغِرُونَ ، فَإِنْ أَبَوْا ، فَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَكُمْ ، وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ ، أَخْرَجَهُ مُسْلِم

Apabila kalian mengepung penduduk suatu daerah atau benteng maka serulah mereka terlebih dahulu untuk masuk islam, dan apabila mereka mau bersaksi bahwasanya tiada tuhan yang berhaq untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah maka hak bagi mereka sebagaimana untuk kalian dan apa yang diwajibkan kepada mereka sebagaimana diwajibkannya kepada kalian. Dan apabila mereka menolak untuk masuk islam maka serulah mereka untuk membayar jizyah yang dibayarkan oleh mereka dengan hina dan mereka adalah orang yang kecil. Dan apabila mereka menolak untuk membayar jizyah maka perangilah mereka sampai Allah swt memberikan keputusanNya diantara kalian, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan.”

Begitu pula Rosulullah mendakwahi dan menyeru terlebih dahulu kepada orang-orang yang akan menjadi target penyerangan, apabila mereka tidak mau memenuhui ajakan Rosulullah maka pedanglah yang akan bermain sampai mereka tunduk terhadap islam dengan membayar jizyah. Sebagaimana Rosulullah menyurati kepada raja orang-orang kafir nashoro yang ada di romawi dan raja orang-orang kafir majusi yang ada di persia.

  1. Orang-orang kafir menjaga hartanya kemudian kabur setelah mengetahui kedatangan pasukan kaum muslimin.

Sesuai dengan definisi bahwasanya apabila ada satuan tempur kaum muslimin menyerbu suatu wilayah orang-orang kafir dan orang-orang kafir tersebut mengetahui akan kedatangan pasukan kaum muslimin kemudian mereka kabur atau melarikan diri dan meninggalkan harta-harta mereka, kemudian pasukan kaum muslimin tersebut mengambil dan membawa harta tersebut maka harta tersebut telah menjadi fa’I bagi kaum muslimin.

  1. Fa’I yang diambil dari orang kafir tanpa adanya ekspansi.

Seperti jizyah, khoroj dan lain sebagainya, maka harta fa’I jenis ini bisa diperoleh apabila telah tegak daulah atau pemerintahan islamiyah yang dipimpin oleh seorang kholifah. Karena dengan adanya daulah islamiyah akan memunculkan hukum tentang kafir dzimi, khoroj, jizyah dan lain sebagainya.

  1. Hukum Merampok Kepentingan Umum Yang Pemiliknya Campur Antara Muslim dan Kafir.

Setelah kita membahas dan mendudukan hukum antara keduanya maka jelaslah sudah bahwa aksi perampokan yang dilakukan di negeri yang notabenenya adalah negeri yang aman, yang tidak terjadi peperangan di dalamnya dan bukan pula di negeri harbi adalah tidak diperbolehkan karena bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa besar.

Kalaulah harta yang dihasilkan dari perampokan tersebut dianggap sebagai harta fa’I, maka hendaknya harus memenuhi syarat-syarat dan tata cara bagaimana pengambilan harta fa’I yang sesuai dengan syar’i. Apabila syarat dan tata cara pengambilan fa’I tersebut tidak bisa dipenuhi, maka hukum perampokan terhadap bank, pasar-pasar, toko mas dan lain sebagainya adalah haram, apalagi mereka para pelaku perampok melakukan aksinya di tempat yang digunakan untuk kepentingan umum yang mana di dalamnya terdapat kaum muslimin.

Jika seandainya hukum merampas harta orang kafir diperbolehkan di zaman kita ini, karena terlepasnya mereka dari syarat-syarat terlindunginya harta dan jiwa mereka, lantas bagaimana…?

Maka dalam hal ini Syaikh Abu basyir menyatakan; apabila merampas harta orang kafier akan menimbulkan mafsadat ‘amah bagi islam dan kaum muslimin, maka perampasan sepaerti itu menjadi haram karena akan mengakibatkan kerusakan dan madhorot yang lebih besar, walaupun pada aslinya itu diperbolehkan. Karena pada dasarnya syareat islam datang untuk menolak madhorot dan mafsadat (kerusakan), dan itu lebih didahulukan dari pada untuk menimbulkan suatu kemaslahatan. Sebagagaiman qoidah usul fiqh :

درء المفاسد أولى من جلب المصالح

Mencegah bahaya lebih diutamakan daripada menimbulkan maslahat

Dan jika ada dua mafsadat bertemu dalam satu keadaan maka haruslah diambil salah satunya mana yang lebih ringan mafsadatnya di antara ke duanya.

  1. Kesimpulan

Maka kesimpulan dari pembahasan ini adalah; Bahwasanya hukum perampokan dengan hukum perampasan harta terhadap orang kafir yang akhirnya menghasilkan harta fa’I adalah berbeda, di antaranya:

  1. Ditinjau dari definisi.
  1. Hirobah atau qath’u thoriq (begal) yaitu aksi pencegatan yang dilakukan secara arogan dan terang-terangan untuk merampas harta seseorang atau membunuh atau menakut-nakuti dengan mengandalkan kekuatan.
  2. Harta fa’I adalah segala apa yang dirampas dari orang-orang kafir tanpa melalui perang ataupun pengerahan kuda maupun unta.
  1. Ditinjau dari proses dalam mendapatkan.
  1. Perampok.
  • Mencegat manusia yang berada di negeri islam dengan cara mengerahkan kekuatan dengan tujuan untuk merampas harta, membunuh atau menakut-nakuti, baik itu terhadap orang muslim maupun orang kafir.
  • Dilakukan di negeri yang aman atau tidak ada peperangan di dalamnya.
  1. Harta fa’i
  • Dalam keadaan perang antara kaum muslimin dan kaum kafirin dan akhirnya kaum kafirin kabur meninggalkan hartanya dikarenakan takut terhadap kaum muslimin.
  • Di negeri harbi atau di negeri yang di dalamnya terjadi peperangan antar muslim dan kafir.
  • Ketika khilafah islamiyah tegak jika itu fa’I yang dipungut tanpa adanya ekspansi.
  1. Ditinjau dari korban atau obyek.

Target operasi perampokan adalah manusia secara umum baik itu kafir maupun muslim,sedangkan korban aksi perampasan harta fa’I adalah orang-orang kafir yang memang layak untuk diperangi tanpa adanya keraguan.

  1. Di tinjau dari pemanfaatan.

Harta perampokan hanya dimanfaatkan oleh para pelaku perampokan untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Sedangkan fa’I di manfaatkan untuk kemaslahatan kaum muslimin.

  1. Ditinjau dari pengarus psikologi yang ditimbulkannya;
  1. Bagi korban atau obyek.

Para korban perampokan akan mengutuk dan mengecam keras terhadap pelaku perampokan. Sedangkan terhadap aksi perampasan fa’I, mereka akan merasa kalah dan hina terhadap kaum muslimin karena mereka kabur dan tidak bisa mempertahankan hartanya.

  1. Bagi pelaku.
  • Para pelaku perampokan akan merasa dirinya tidak tenang dan nyaman karena dibayang-banyangi rasa dosa. Sedangkan para pelaku perampasan fa’I, mereka merasa bangga dan senang kerena mereka menganggap aksi itu adalah sebagai bentuk ibadah.
  • Para pelaku perampokan akan mendapatkan hinaan dan hukuman dari seluruh manusia atas perbuatannya apabila mereka tidak mau bertaubat. Sedangkan para pelaku parampasan fa’I mereka akan disanjung-sanjung oleh manusia karena dianggap sebagai pahlawan.
  1. Ditinjau dari had atau hukum syar’inya.
  1. Para pelaku perampokan akan dibunuh dan disalib jika mereka membunuh dan mengambil harta, dibunuh dan tidak disalib jika mereka membunuh dan tidak mengambil harta, dipotong tangan dan kakinya jika hanya mengambil hartanya dan diasingkan jika mereka hanya menakut-nakuti. Sedangkan para pelaku perampasan fa’I mereka akan mendapatkan penghargaan dengan diberikan bagiannya dari fa’I tersebut.
  2. Perbuatan perampokan adalah perbuatan dosa besar yang dinyatakan oleh Allah sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan rosulNya yang sehingga berhak untuk mendapatkan hukuman yang berat yang tidak ditimpakan kepada pelaku kejahatan lainnya. Sedangkan perbuatan perampasan harta fa’I adalah perbuatan yang terpuji dan berhak bagi pelakunya untuk mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah .
  1. Penutup

Alhamdulillahirobil’alamin, atas rahmat dan bimbingan Allah telah kami selesaikan penulisan karya ilmiyah ini yang kami buat untuk dipresentasikan di acara munadhoroh yang diadakan di ma’had aly an-nuur dan semoga risalah ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin di dalam menambah khazanah keilmuan dan pemahaman terhadab dienul islam yang benar sesuai pemahaman salaful umah terkhusus di dalam mendudukan antara harta rampokan dan harta fa’i. kendati demikian di dalam pembahasan ini tentunya masih banyak kesalahan dan kekeliruan di dalam penulisan. Oleh karena itu penulis mengharap kepada pembaca yang budiman untuk memberikan saran dan kritiknya kepada penulis agar lebih profesional di dalam dunia tulis menulis.

Wa Allahu a’lam bish shuwab

Penulis

Daftar pustaka.

  • Al qur’an alkarim dan terjemahannya.
  • Shohih muslim, abi husain muslim bin hujaj bin muslim al qusairy an naisambury, darus salam, riyad, cet.1 tahun. 1998M/1419H
  • Shahih al Bukhary, Abu Abdillah Muhammad Bin Ismail Al Bukhary Al Ju’fy, Dar as Salam, Cet. Ke-1, Riyadh, 1417 H
  • Kamus al-munawir arab indonesia terlengkap, Ahmad Warso Munawir, pustaka progresif.
  • Shohih fiqh sunnah, Abu Malik Kamal bin as Sayid Salim, jilid 4, almaktabah attaufiqiyah,
  • Sarh As syiyasah asy syar’iyah fii islahi ar ro’I war ro’iyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, darul haitsam, al qohiroh.
  • Fiqhus sunnah, as Sayid Sabiq, darul kitab al ‘arobiyah, bairut, lebanon. Jilid. 2
  • Rosulullah sang panglima, Mahmud Syeit Khaththab, pustaka ‘alaq, solo, cet. 1 tahun. 2002M/1422H.
  • Al ‘aziz sarhul wajiz alma’ruf bis syarhil kabir, Abu Qosim ‘Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Karim ar Rofi’i al Qursy asy syafi’I, darul kutub al ‘ilmiyah, jilid.11, , beirut, lebanon. tahun. 1997 M/ 1417 H
  • Mudzakaroh fiqhiyah, syaikh Muhammad bin sholih al’utsaimin, jilid. 4 darul ghod aljadid,cet. 1. Al qohiroh almanshuroh.
  • Jihad sabiluna, abdul baqi romdhon, pustaka al ‘alaq,cet. 3, tahun. 2000M/1421H, waringinrejo, cemani, surakarta.
  • Minhajul muslim, syaikh abu bakar jabir aljazairi, darul haq, jakarta, 2006 M
  • Al majmu’ syarhul muhadab, DR. mamud mutroji, darul fikr, bairut, lebanon, cet.1 tahun. 1996M/1417H.
  • At tasyri’ aljina’I alislami, abdul qodir ‘audah, muasasah ar risalah, juz.2 tahun 1992M/1412H.
  • Isti’anah bil ghoiril muslim fil fiqh al islamy, Abdullah bin Ibrahim bin Ali at Turky, cet.1, tahun 1409 H
  • Al ahkam as sulthoniyah wal wilayat li diniyah, abu hasan ‘ali bin Muhammad bin habib al bashori, darul kitab al ‘arobi, bairut.
  • Istihlalu amwalil kufar, syaikh abdul mun’im mustofa halimah.
  • Syahul qoidah al fiqhiyah, syaikh ahmad bin al syaikh muhammad az zarqo, cet. Ke 2, darul qolam, tahun. 1989 M/1409M.

Al munawir, hal. 1133

Idem,hal. 849

Shohih fiqh sunnah, hal. 139

Siyasah asy syar’iyah. Hal. 78

ibid

Maksudnya: perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia Ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedang di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja.

Shohih fiqh sunnah, hal. 139

Fiqh sunnah, hal.

Minhajul muslim, hal. 442

Shohih fiqh sunnah, hal. 139

Jihad sabiluna, hal.235

Shohih bukhori

Sunan abu daud. Syaikh albani berkata: hadits hasan shohih.

Bukhori dan muslim.

Mudzakiroh fihq, juz. 4 hal. 33

Fiqh sunnah, hal. 465

HR. bukhori dan muslim

Fiqh sunnah. Hal. 466

Shohih fiqh sunnah, hal. 140

Fiqh sunnah. Hal. 466

Shohih fiqh sunnah, hal.140

Ibid

Ibid

Shohih fiqh sunnah, hal.140

Ibid

Shohih fiqh sunnah, hal.140

Fiqh sunnah. Hal. 466

Ibid

Shohih fiqh sunnah, hal. 141

Ibid

Ibid

Ibid

shohih fiqh sunnah, hal. 141

Ibid

Mudzakaroh fiqh, hal. 32

ibid

Mudzakaroh fiqh, hal. 33

ibid

Mudzakaroh fiqh, hal. 33

Ibid

Assiyasah asy syar’iah, hal. 167

Attasyri’ aljina’I alislami. Hal. 657

Fiqh sunnah. Hal. 479

Pendapat yang di rojihkan oleh sayid sabiq dalam bukunya fiqh sunnah, hal.

Fiqh sunnah, hal. 480

Ibid

Shohih bhukori

Al majmu’ syarh muhaddab jid. 21, hal. 172

Al majmu’ syarh muhaddab jid. 21, hal. 172

Ahkamus sulthoniyah, hal. 227

Ahkamus sulthoniyah, hal. 227

Ibid

Ibid

HR. Abu Dawud

Ahkamus sulthoniyah, hal. 227

Ahkamus sulthoniyah, hal. 227

Ibid

Rosulullah sang panglima, hal. 206

Idem, hal. 205

Rosulullah sang panglima, hal. 206

Jihad sabiluna, hal. 325

Isti’anah bi ghoiri muslim fil fiqh islamy, hal. 131

ibid

Rosulullah sang panglima, hal. 79

Al’aziz syarhul wajiz, hal.420

Ibid

Hadist shohih HR. Muslim

Al’aziz syarhul wajiz, hal.420

Istihlalu amwalil kufar, hal. 47

Sharhu quwaid fiqhiyah, hal. 205

Istihlalu amwalil kufar, hal. 46

author
3 Responses
  1. author

    abu umar al jatimy..7 years ago

    masyallah….
    makalah ini sangat bermanfaat sekali bagi kaum muslimin, khususnya bagi teman-teman yang saat ini bergerak di bidang jihad dan dakwah. bisa menjadi bahan pertimbangan di dalam melakukan aksi-aksinya..
    insyallah…

    Reply
    • author

      admin7 years ago

      Amin, semoga menambah hazanah ilmu kaum muslimin….

      Reply
  2. Antara Harta Rampokan dan Fa’i « saefulislam6 years ago

    […] Antara Harta Rampokan dan Fa’i […]

    Reply

Leave a reply "Antara Harta Rampokan dan Fa'i"