Abdullah bin Abbas, “Muda Usianya, Luas Ilmunya”

Tidak ada komentar 779 views

Oleh: Firmansyah, Lc

Dialah pemuda yang sangat beruntung sekali yang didoakan oleh rasulullah saw, “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah dia tafsir kitab-Mu”. Berkat doa tersebutlah dia nantinya akan menjadi ulama besar walaupun usianya masih muda belia.

Dia dilahirkan tiga tahun sebelum rasulullah hijrah. Dan saat rasulullah saw wafat, ia masih sangat belia. Umurnya masih 13 tahun. Namun dibalik umurnya yang masih belia dia sudah menjadi pemuda yang luas ilmunya. Karena ketinggian ilmunya itulah ia kerap menjadi kawan dan lawan berdiskusi para senior shahabat senior lainnya.

Bahkan Umar bin Khottob selalu memanggil Ibnu Abbas untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena keilmuannya. Sampai-sampai Amirul Mukminin memberikan julukan kepada Ibnu Abbas sebagai “pemuda tua”.

Salah seorang shahabat utama, Sa’ad bin Waqqash pernah berkata tentang Ibnu Abbas, “Tak seorang pun yang kutemui lebih cepat mengerti dan lebih tajam berpikirnya seperti Ibnu Abbas. Ia juga seorang yang banyak menyerap ilmu dan luas sifat santunnya. Sungguh telah kulihat, Umar telah memanggilnya saat menghadapi masalah-masalah pelik. Padahal di sekelilingnya masih banyak shahabat yang ikut dalam perang badar. Lalu majulah Ibnu Abbas menyampaikan pendapatnya, dan Umar tidak ingin berbuat melebihi apa yang dikatakan Ibnu Abbas.”

Di balik nama besarnya tersebut tentu kita perlu menyimak perjalanan beliau dalam mencari ilmu.

Sejak kecil memiliki kecenderungan terhadap ilmu. Hal ini terlihat dari semangatnya dalam menuntut ilmu. Tidak pernah satu hari pun beliau melewatkan majelis rasulullah, dan tidak lupa pula untuk menghafalkan apa yang beliau dengar.

Kemudian setelah rasulullah saw wafat, Ibnu Abbas belajar kepada para shahabat yang pertama tentang apa-apa ynag tidak dipelajarinya dari Rasulullah saw secara langsung.

Dia selalu bertanya. Maka setiap dia mendengar seseorang yang mengetahui suatu ilmu atau menghafalkan hadits, segeralah ia menemuinya dan belajar kepadanya. Dan otaknya yang cerdas tidak pernah merasa puas senantiasa mendorongnya untuk meneliti apa yang didengarnya.

Ia tidak hanya menumpahkan perhatian terhadap pengumpulan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga meneliti dan menyelidiki sumber-sumbernya. Suatu saat dia pernah bercerita mengenai dirinya, “Jika aku ingin mengetahui tentang suatu masalah, aku akan bertanya kepada 30 shahabat.”

Keinginannya untuk mendapatkan suatu pengetahuan sangatlah kuat. Hal ini sebagaimana yang diceritakannya: Ketika rasulullah wafat, aku bertanya kepada salah seorang pemuda anshar, “Marilah kita bertanya kepada shahabat rasulullah, sekarang ini mereka sedang berkumpul?” Pemuda Anshar itupun menjawab, “Aneh sekali kamu ini, hai Ibnu Abbas! Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, sementara di antara mereka merupakan shahabat-shahabat terbaik Rasulullah?” Anak muda itu tidak mau diajak, tetapi aku tetap pergi bertanya kepada shahabat Rasulullah.

Pernah aku mendapatkan satu hadits dari seseorang, dengan cara mendatangi rumahnya ketika ia sedang tidur siang. Kubentangkan kain untuk kujadikan bantal di depan pintunya. Debu yang terhempas angin menerpaku. Ketika dia selesai tidur dan keluar melihatku, dia berkata, “Hai saudara sepupu Rasulullah, apa maksud kedatanganmu? Kenapa kamu tidak menyuruh orang lain?” kemudian aku berkata, “Tidak, akulah yang harus datang mengunjungimu.” Kemudian aku bertanya tentang suatu hadits dan belajar kepadanya.

Demikianlah Ibnu Abbas bertanya, bertanya, dan bertanya, lalu mengkaji jawaban dan menganalisanya. Pernah suatu ketika Ibnu Abbas ditanya, “Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini?” “Dengan lidah yang suka bertanya dan akal yang suka berpikir”, jawabnya.

Inilah kedudukan yang diraih oleh Ibnu Abbas dalam keilmuan. Karenanyalah, khalifah Ali mengutusnya untuk berdialog dengan kaum Khawarij karena mereka keluar dari pemerintahan Ali. Ibnu Abbas pun mendatangi mereka dan berdialog dengan bertanya tentang argumentasi mereka. Semua argumentasi yang mereka sampaikan dijawab oleh Ibnu Abbas. Belum lagi debat itu selesai, 2000 orang di antara mereka bangkit serentak menyatakan kepuasan mereka terhadap keterangan-keterangan Ibnu Abbas dan sekaligus memaklumkan penarikan diri mereka dari memusuhi imam Ali.

Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, dunianya dipenuhi dengan ilmu dan hikmah, dan nasihat serta ketakwaannya disebarkan di antara umat.

Tag:
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Abdullah bin Abbas, “Muda Usianya, Luas Ilmunya”"